Jakarta (buseronline.com) - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menargetkan penyaluran kredit rakyat mencapai Rp400 triliun pada 2027. Program pembiayaan tersebut diarahkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat dari tingkat bawah, khususnya petani, nelayan, pelaku usaha mikro, serta masyarakat berpenghasilan rendah di berbagai wilayah Indonesia.
Target tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan sambutan dalam Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (Rakornas TPAKD) di JIEXPO Kemayoran, Jakarta.
Prabowo mengatakan, perluasan penyaluran kredit diharapkan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di pedesaan, daerah terpencil, dan daerah tertinggal.
"Di tahun yang akan datang, rencana kita, sasaran kita insyaallah terwujud, saya ingin menyalurkan Rp400 triliun kepada para petani, nelayan dan mereka-mereka yang berada di pedesaan, dan di daerah-daerah terpencil dan daerah-daerah yang tertinggal, juga di daerah-daerah perkotaan yang mereka yang berpenghasilan rendah," ujar Prabowo.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo mengapresiasi penyaluran kredit yang telah mencapai sekitar Rp53 triliun dengan penerima manfaat sekitar dua juta warga.
Ia menginginkan agar capaian tersebut menjadi landasan untuk memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat yang membutuhkan dukungan modal untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan taraf hidup.
Menurut Prabowo, penguatan ekonomi nasional tidak cukup hanya bertumpu pada aktivitas ekonomi berskala besar. Pemerintah juga perlu mendorong pertumbuhan ekonomi dari daerah dan memperkuat kegiatan usaha masyarakat di berbagai wilayah.
"Kita akan fokus sekarang untuk menggerakkan ekonomi. Tidak hanya di atas, kita mau menggerakkan ekonomi dari bawah, dari daerah-daerah. Dan semua daerah akan kita bangun," ucapnya.
Prabowo menegaskan bahwa kekuatan ekonomi nasional harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Manfaat tersebut, menurutnya, perlu dirasakan oleh petani, nelayan, pedagang pasar, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup.
Ia menekankan bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi secara nasional, tetapi juga dari peningkatan pendapatan riil dan daya beli masyarakat.
"Kesejahteraan tidak boleh hanya menjadi kata-kata slogan. Arti sesungguhnya dari kesejahteraan adalah bahwa penghasilan rakyat secara riil, secara nyata harus meningkat, harus meningkat. Bahwa setiap keluarga harus memiliki daya beli yang nyata," jelas Prabowo.
Karena itu, perluasan akses kredit diharapkan dapat membuka peluang usaha, mendukung produktivitas masyarakat, dan membantu meningkatkan pendapatan keluarga. Namun, manfaat program tersebut akan bergantung pada ketepatan sasaran, kemudahan akses, serta kemampuan penerima dalam memanfaatkan pembiayaan secara produktif.
Selain membahas pembiayaan, Prabowo mengingatkan pemerintah pusat dan daerah mengenai tanggung jawab dalam menjaga serta mengelola kekayaan alam Indonesia.
Menurutnya, pengelolaan sumber daya alam harus diarahkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sehingga potensi nasional dapat mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. "Sumber alam Indonesia harus dijaga, harus dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat kita," ujarnya.
Prabowo juga mengingatkan para kepala daerah bahwa kesejahteraan masyarakat harus menjadi salah satu tujuan utama dalam menjalankan kepemimpinan. Seluruh potensi bangsa, katanya, perlu diarahkan untuk meningkatkan taraf hidup rakyat.
"Seluruh potensi kita adalah untuk memperkuat tujuan kita, rakyat kita sejahtera. Saya mau jadi presiden untuk lihat rakyat saya sejahtera," kata Prabowo.
Target penyaluran kredit rakyat sebesar Rp400 triliun pada 2027 menjadi bagian dari arah kebijakan pemerintah untuk memperluas akses keuangan dan menggerakkan ekonomi daerah.
Realisasi target tersebut diharapkan dapat memberikan kesempatan lebih besar bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha, meningkatkan pendapatan, dan memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.
Pada akhirnya, keberhasilan program ini akan tercermin dari sejauh mana pembiayaan dapat menjangkau kelompok yang membutuhkan dan menghasilkan peningkatan kesejahteraan yang nyata bagi masyarakat di seluruh Indonesia. (DKI1)
beritaTerkait
komentar