Jumat, 28 Agustus 2026

Harga Gabah Naik, Kesejahteraan Petani Kolaka Meningkat dan Produksi Padi Melonjak

Jumat, 28 Agustus 2026 15:10 WIB
Harga Gabah Naik, Kesejahteraan Petani Kolaka Meningkat dan Produksi Padi Melonjak
Bupati Kolaka Amri saat bertemu Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam audiensi kepala daerah di Kantor Pusat Kementan RI, Jakarta, Senin (24/8/2026).

Jakarta (buseronline.com) - Kebijakan pemerintah dalam menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah mulai memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan petani di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Dilansir dari laman Kementan, kenaikan harga gabah dinilai mampu meningkatkan pendapatan petani, bahkan mendorong sebagian masyarakat mulai menabung dalam bentuk emas.

Hal tersebut disampaikan Bupati Kolaka Amri saat bertemu Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam audiensi kepala daerah di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan) RI, Jakarta, pada 24 Agustus 2026.

Amri mengatakan, kebijakan harga gabah yang lebih baik telah memberikan dampak langsung kepada petani di wilayahnya.

"Dengan harga gabah hari ini di Kabupaten Kolaka, kami menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat. Dampaknya terasa ke petani," ujar Amri.

Menurutnya, peningkatan kesejahteraan petani terlihat dari perubahan pola ekonomi masyarakat. Petani kini dinilai memiliki kemampuan lebih besar untuk menyisihkan pendapatan dan menyimpannya dalam bentuk aset.

"Petani kami punya kebiasaan menabung dengan emas. Ini salah satu tanda bahwa kesejahteraan mereka meningkat," katanya.

Selain peningkatan kesejahteraan, produksi padi di Kabupaten Kolaka juga mengalami kenaikan signifikan. Produksi yang pada periode 2020-2024 berada di kisaran 47 ribu ton meningkat menjadi sekitar 73 ribu ton pada 2025. Artinya, terjadi peningkatan sekitar 26 ribu ton.

Kenaikan produksi tersebut turut memperkuat ketersediaan pangan daerah. Pada 2025, stok beras yang terserap Perum Bulog dilaporkan mencapai sekitar 20 ribu ton.

Amri menyebut Kabupaten Kolaka saat ini memiliki sekitar 9.000 hektare lahan persawahan. Di sejumlah wilayah, petani bahkan mampu melakukan panen hingga lima sampai enam kali dalam kurun waktu dua tahun.

"Kami punya existing sekitar 9 ribu hektare persawahan. Bahkan di beberapa wilayah bisa sampai lima sampai enam kali panen dalam dua tahun," ujarnya.

Kebijakan harga gabah juga dinilai memperkuat posisi tawar petani dalam menghadapi tengkulak. Harga yang lebih baik memberikan petani pilihan lebih luas dalam menentukan tempat dan harga penjualan hasil panennya.

"Ini fakta di lapangan, kebijakan harga gabah dari pemerintah pusat membantu menekan tengkulak," kata Amri.

Meski demikian, peningkatan produksi tersebut masih menghadapi tantangan pada sektor pascapanen. Salah satunya adalah rantai distribusi gabah yang cukup panjang karena sebagian hasil pertanian harus dibawa ke luar daerah, termasuk ke Sidrap, Sulawesi Selatan, sebelum kembali masuk ke Kolaka.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Kabupaten Kolaka mengusulkan pembangunan Rice Milling Unit (RMU) yang terintegrasi dengan lumbung pangan. Pemkab Kolaka mengaku telah menyiapkan lahan bersertifikat seluas 4 hektare untuk pembangunan fasilitas tersebut.

"Kami sudah siapkan tanah, sudah ada sertifikat. Kalau berkenan, kami minta dukungan RMU, lumbung pangan dan RMU yang terintegrasi. Lahannya kami siapkan 4 hektare," ujar Amri.

Menanggapi usulan tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta Pemkab Kolaka segera berkoordinasi dengan Perum Bulog serta memastikan kesiapan lahan sebagai bagian dari persyaratan pembangunan fasilitas. "Segera koordinasi dengan Bulog. Yang penting tanahnya ada untuk tahun 2027," kata Amran.

Amran menegaskan, pemerintah akan terus memperkuat dukungan mulai dari sektor produksi hingga pascapanen. Langkah tersebut dilakukan agar peningkatan produksi tidak berhenti pada hasil panen, tetapi mampu menciptakan nilai tambah dan meningkatkan pendapatan petani.

Sebelumnya, Kabupaten Kolaka juga telah menerima dukungan sarana dan mesin pertanian dari Kementan, berupa combine harvester, pompa air, traktor roda empat (TR4), dan traktor roda dua (TR2). Bantuan tersebut diarahkan untuk meningkatkan efisiensi pertanian sekaligus menjaga momentum peningkatan produksi padi.

Bagi Pemerintah Kabupaten Kolaka, pembangunan ekonomi daerah ke depan diarahkan pada dua sektor utama yang dapat berjalan beriringan, yakni mempertahankan pertambangan sebagai salah satu penggerak ekonomi sekaligus memperkuat sektor pertanian sebagai sumber kesejahteraan masyarakat.

Dengan meningkatnya harga gabah, produksi padi, serta dukungan sarana pertanian dan pascapanen, pemerintah daerah berharap sektor pertanian Kolaka semakin mandiri dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Mentan Amran Pastikan Stok Beras Pengungsi Gempa NTT Aman hingga Satu Tahun
Mentan Amran Ancam Cabut Izin Importir Jika Terbukti Mainkan Harga Pakan
Mentan Amran: TNI Bantu Petani Tanpa Honor Tambahan
Mentan Amran Copot Koordinator KPPG Surabaya, Serapan Telur Peternak Tak Optimal
Mentan Amran: Buruh Tani Bakal Bisa Dapat Bantuan Traktor dan Alsintan
Baru Dijanjikan Siang Hari, Traktor Bantuan Mentan Amran Tiba Sore Harinya di Semarang
komentar
beritaTerbaru