Minggu, 16 Agustus 2026

Gang Hijau Cemara Ubah Sampah Menjadi Sumber Ekonomi dan Ketahanan Pangan

Minggu, 16 Agustus 2026 19:22 WIB
Gang Hijau Cemara Ubah Sampah Menjadi Sumber Ekonomi dan Ketahanan Pangan
Lingkungan Gang Hijau Cemara RW 01, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, terus bertransformasi menjadi kawasan hijau sekaligus sentra pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Jakarta (buseronline.com) - Lingkungan Gang Hijau Cemara RW 01, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, terus bertransformasi menjadi kawasan hijau sekaligus sentra pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Melalui berbagai program lingkungan, sampah tidak lagi dipandang sebagai persoalan, tetapi diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Ketua Kelompok Pengelola Gang Hijau Cemara, Dani Arwanto, mengatakan dukungan Pertamina Lubricants turut membantu keberlanjutan berbagai kegiatan masyarakat yang telah dirintis sejak 2013.

"Sejak tahun 2022 sampai saat ini kegiatan dan program yang ada di tempat kami terus berlanjut dan semakin meningkat," kata Dani dilansir dari laman Pertamina.

Berbagai program yang dikembangkan masyarakat tidak hanya berfokus pada kebersihan lingkungan. Gang Hijau Cemara juga mengembangkan ketahanan pangan, peternakan, perikanan, budidaya anggur, hidroponik, pendidikan, hingga layanan kesehatan melalui Posbindu.

Di sektor lingkungan, masyarakat mengolah sampah organik melalui budidaya maggot, pembuatan pakan ternak dan ikan, hingga pengolahan sampah menjadi pelet biomassa.

Beragam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi.

Konsep keberlanjutan juga diterapkan dalam bidang pendidikan melalui Green PAUD Cemara. Program pendidikan gratis tersebut telah berjalan hingga tujuh angkatan.

Menariknya, orang tua siswa tidak dibebankan biaya sekolah dalam bentuk uang, melainkan diwajibkan menyetorkan sampah sebanyak dua kilogram setiap bulan.

"Bukan hanya anak-anak yang sekolah, wali murid juga kami berikan edukasi untuk peduli terhadap lingkungan. Jadi mereka tidak hanya mengeluarkan uang, tetapi bisa memanfaatkan hasil dari tabungan sampah yang kami kelola," tutur Dani.

Pengelolaan bank sampah kemudian terintegrasi dengan kegiatan UMKM. Masyarakat dilibatkan dalam mengolah hasil pengumpulan sampah menjadi berbagai produk yang dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai jual.

Dengan konsep tersebut, sampah tidak berhenti sebagai persoalan lingkungan, tetapi berubah menjadi sumber daya yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus membuka peluang pemberdayaan masyarakat.

Dani mengatakan berbagai kegiatan yang dijalankan di Gang Hijau Cemara kini telah berkembang dari sekadar program menjadi kebutuhan masyarakat.

Ke depan, masyarakat ingin memperkuat pengelolaan tersebut melalui penerapan ekonomi sirkular yang dapat mendukung keberlanjutan UMKM dan meningkatkan kesejahteraan warga.

"Karena kegiatan di Gang Hijau Cemara ini bukan hanya program, tapi sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Tentunya kami ingin membentuk ekonomi sirkular yang bisa berkelanjutan dan mendukung UMKM," katanya.

Berdasarkan data program, pengelolaan lingkungan berbasis komunitas di Gang Hijau Cemara telah berkontribusi mengurangi sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA) sekitar 30-40 persen.

Sementara itu, kegiatan green house serta budidaya buah dan ikan mampu menghasilkan pangan lokal sekitar 1-1,5 ton per tahun.

Dari sisi ekonomi sirkular, Bank Sampah, maggot, TOSS, dan Bengkel Sampah tercatat memberikan nilai ekonomi bagi komunitas sekitar Rp150 juta hingga Rp200 juta per tahun.

Corporate Secretary PT Pertamina Lubricants Rika Gresia Wahyudi mengatakan Kampung Cemara merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat sekaligus mendukung Program Kampung Iklim melalui berbagai kegiatan ramah lingkungan yang memberikan manfaat ekonomi.

"Di Kampung Cemara ini ada banyak program ramah lingkungan yang di satu sisi menjaga lingkungan, dan di sisi lain memberikan manfaat ekonomi untuk masyarakat sekitarnya," ujar Rika.

Salah satu program unggulan adalah Bengkel Cemara yang dikelola Karang Taruna. Bengkel tersebut menerapkan konsep pembayaran jasa penggantian oli menggunakan tabungan sampah.

Dengan konsep ini, masyarakat dapat memperoleh layanan penggantian oli tanpa harus membayar menggunakan uang tunai.

Rika menjelaskan, biaya penggantian oli setara dengan tabungan sekitar lima kilogram sampah yang dikumpulkan masyarakat melalui bank sampah.

Dengan rata-rata pengumpulan sekitar satu kilogram sampah dalam satu hingga dua hari, masyarakat dapat mengumpulkan tabungan yang cukup untuk mengganti oli ketika waktunya tiba.

"Untuk ganti oli itu harganya setara dengan tabungan sampah sekitar lima kilogram. Jadi dalam satu bulan mereka sudah bisa mengganti oli tanpa menggunakan uang, tetapi memanfaatkan tabungan sampah," tutupnya.

Transformasi Gang Hijau Cemara menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi.

Melalui integrasi bank sampah, UMKM, pendidikan, ketahanan pangan, dan berbagai program lingkungan, masyarakat tidak hanya menjaga kebersihan kawasan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi dari sumber daya yang sebelumnya dianggap sebagai limbah. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Forum APEC 2026 di Jakarta Dorong Pemanfaatan AI untuk Transformasi Pendidikan
DNC Vol 1 2026 Siap Digelar di Jakarta, Lebih dari 40 Pemain Ambil Bagian
Polri Siapkan 420 Personel Hadapi Ancaman Karhutla 2026
Persija Jakarta Amankan Peringkat Ketiga Piala Presiden 2026 Usai Tundukkan Arema FC 3-1
Pemerintah Siapkan Langkah Strategis Stabilkan Harga Telur, Lindungi Peternak Rakyat
Kongres Biasa PSSI 2026 Sepakati Pemilihan Pengurus Digelar Juli 2027
komentar
beritaTerbaru