Selasa, 09 Juni 2026

Mentan Amran Ancam Periksa 300 Perusahaan Sawit yang Tahan Kenaikan Harga TBS

Selasa, 09 Juni 2026 10:25 WIB
Mentan Amran Ancam Periksa 300 Perusahaan Sawit yang Tahan Kenaikan Harga TBS
Rapat Koordinasi Pengembangan dan Stabilisasi Harga TBS Kelapa Sawit yang dipimpin Mentan Andi Amran Sulaiman di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (8/6/2026).

Jakarta (buseronline.com) - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengancam akan memeriksa sekitar 270 hingga 300 perusahaan kelapa sawit yang diduga belum menyesuaikan harga Tandan Buah Segar (TBS) sesuai ketentuan daerah.

Dilansir dari laman Kementan, pemeriksaan akan dilakukan bersama Satgas Pangan Polri sebagai upaya melindungi petani sawit dari praktik yang dinilai merugikan.

Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Koordinasi Pengembangan dan Stabilisasi Harga TBS Kelapa Sawit yang dipimpin Mentan Andi Amran Sulaiman di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin.

Rapat dihadiri perwakilan petani, pelaku usaha, eksportir, perusahaan refinery, Satgas Pangan Polri, serta Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda dari 25 provinsi sentra sawit.

Amran menegaskan tidak ada alasan bagi perusahaan untuk mempertahankan harga TBS pada level rendah. Menurutnya, harga minyak sawit mentah (CPO) dunia dan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah justru mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

"Hari ini kita sepakat tidak ada lagi harga yang turun. Harus naik seperti kondisi semula. Bahkan bila perlu itu naik lebih tinggi. Nilai dolar dengan rupiah itu selisih kenaikannya 10 persen. Jadi minimal sama dengan seperti semula," ujar Amran.

Ia menyebut penurunan harga TBS yang terjadi di sejumlah daerah sebagai kondisi yang tidak wajar. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, harga CPO dunia naik sekitar 47 persen dan kurs dolar AS menguat lebih dari 10 persen terhadap rupiah.

Namun di saat yang sama, harga TBS di tingkat petani sempat turun hingga sekitar 17 persen. "Ini anomali. Tidak ada alasan harga tidak kembali normal, bahkan harusnya naik sekitar 10 persen dari harga sebelumnya," katanya.

Amran menegaskan pemerintah tidak akan tinggal diam terhadap kondisi yang berpotensi merugikan jutaan petani sawit. Saat ini sekitar 15 juta petani di Indonesia bergantung pada sektor perkebunan kelapa sawit sebagai sumber penghidupan.

Menurutnya, persoalan harga TBS juga mendapat perhatian langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Bahkan saat menjalankan ibadah haji, Amran mengaku beberapa kali dihubungi Presiden untuk memastikan langkah pemerintah dalam menjaga kesejahteraan petani sawit.

"Perintah Bapak Presiden sangat jelas, bela petani. Harga TBS harus kembali seperti semula, bahkan naik sekitar 10 persen mengikuti pergerakan kurs dan harga dunia," ujarnya.

Hasil evaluasi rapat menunjukkan sekitar 70 persen harga TBS di berbagai daerah mulai berangsur pulih. Meski demikian, pemerintah menargetkan pemulihan harga secara menyeluruh dalam waktu dekat.

Untuk memperkuat pengawasan, Kementan akan mengirimkan data perusahaan yang diduga belum menyesuaikan harga kepada seluruh Dirkrimsus Polda dan Kapolda di daerah. Data tersebut akan dilengkapi dengan harga acuan TBS yang ditetapkan gubernur di masing-masing wilayah.

Dalam rapat tersebut, sejumlah perwakilan petani dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Banten melaporkan harga di tingkat pabrik kelapa sawit (PKS) mulai meningkat. Namun kenaikan itu belum sepenuhnya diteruskan kepada petani sehingga masih terdapat selisih dengan harga acuan yang berlaku.

Menanggapi hal itu, Amran menegaskan pemerintah akan terus mengawal terciptanya ekosistem usaha sawit yang sehat dan berkeadilan.

"Kita ingin membangun ekosistem yang sehat. Petani sejahtera, pengusaha juga sejahtera. Kita tumbuh bersama. Pemerintah hanya menjadi wasit agar tidak ada pihak yang dirugikan," tuturnya.

Selain fokus pada stabilisasi harga TBS, pemerintah juga terus mendorong hilirisasi industri sawit dan pengembangan bioenergi, termasuk implementasi program B50 dan bioetanol.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen sekaligus pengendali pasar minyak sawit dunia, dengan petani sebagai pihak yang pertama merasakan manfaatnya. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Mentan Amran Puji Kualitas Bibit Kelapa dan Kakao di Konawe Selatan, Siap Jadi Percontohan Nasional
Tanggapi Isu “Pesta Babi” Merauke, Mentan Amran Sulaiman Tegaskan Fokus Swasembada Pangan
Kementan Pastikan Industri Sawit Tetap Normal, Harga TBS Petani Dijaga
Kementan Perkuat Pengawalan Program Pertanian di 38 Provinsi Lewat BRMP
Pemerintah Cabut 2.231 Izin Distributor Pupuk Bermasalah, Mafia Pangan Dibersihkan
FAO Waspadai Risiko Krisis Pangan Global, Indonesia Tunjukkan Ketahanan dan Surplus Produksi
komentar
beritaTerbaru