Minggu, 24 Mei 2026

FAO Waspadai Risiko Krisis Pangan Global, Indonesia Tunjukkan Ketahanan dan Surplus Produksi

Minggu, 24 Mei 2026 10:00 WIB
FAO Waspadai Risiko Krisis Pangan Global, Indonesia Tunjukkan Ketahanan dan Surplus Produksi
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Jakarta (buseronline.com) - Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia FAO memperingatkan potensi krisis pangan global akibat meningkatnya ketegangan geopolitik dan ancaman gangguan rantai pasok internasional.

Dilansir dari laman Kementan, salah satu risiko yang disorot adalah kemungkinan penutupan jalur perdagangan strategis seperti Selat Hormuz yang dapat memicu guncangan besar pada sistem pangan dunia.

Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero menegaskan bahwa setiap negara perlu segera memperkuat kapasitas dan ketahanan pangan nasional untuk menghadapi ketidakpastian global yang semakin kompleks.

"Saatnya telah tiba untuk mulai serius meningkatkan kapasitas pangan dan ketahanan terhadap berbagai gangguan," ujarnya dalam pernyataan pada 18 Mei 2026.

Di tengah peringatan tersebut, Indonesia justru berada dalam posisi relatif kuat. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa produksi pangan nasional saat ini berada di atas kebutuhan domestik, sehingga kondisi pasokan dinilai aman.

Menurutnya, produksi beras nasional mencapai sekitar 2,6 hingga 5,7 juta ton per bulan, sementara kebutuhan hanya sekitar 2,5 juta ton. "Artinya kita surplus dan kondisi pangan dalam keadaan aman," ujarnya.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menambahkan bahwa penguatan cadangan pangan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas nasional.

Hingga pertengahan Mei 2026, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola BULOG tercatat mencapai sekitar 5,37 juta ton, yang merupakan level tertinggi sepanjang sejarah modern Indonesia. "Stok kita sangat kuat dan terus meningkat," ujarnya.

Selain menjaga kebutuhan domestik, Indonesia juga mulai memperluas peran di pasar pangan internasional melalui pengiriman beras premium ke sejumlah negara serta bantuan kemanusiaan ke Palestina.

Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa ekspor dilakukan secara selektif agar tidak mengganggu ketersediaan dalam negeri.

Dibandingkan masa krisis 1997-1998, kondisi pangan Indonesia saat ini dinilai jauh lebih stabil. Produksi beras tahun 2025 mencapai sekitar 34,69 juta ton dengan surplus lebih dari 3,5 juta ton, serta tanpa impor beras medium sepanjang tahun tersebut.

Dari 11 komoditas strategis nasional, delapan di antaranya diproyeksikan tidak memerlukan impor pada 2026, termasuk beras, jagung, bawang merah, cabai, daging ayam, telur, dan gula konsumsi.

Pemerintah juga mendorong penguatan sektor pertanian melalui reformasi subsidi pupuk dan kebijakan energi, termasuk implementasi mandatori biodiesel B50 yang diproyeksikan menghemat devisa negara hingga ratusan triliun rupiah.

Dengan capaian tersebut, Indonesia kini tidak hanya fokus pada ketahanan pangan dalam negeri, tetapi juga mulai dipandang berpotensi sebagai salah satu pemasok pangan di tingkat global di tengah ancaman krisis pangan dunia. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Mentan: Penguatan Dolar Jadi Peluang, Pertanian Desa Perkuat Ekonomi Nasional
Prabowo Puji Kinerja Mentan Amran, Indonesia Kini Jadi Pemasok Pupuk bagi Sejumlah Negara
Indonesia Ekspor Perdana 47.250 Ton Urea ke Australia, Perkuat Posisi di Pasar Global dan Dorong Reformasi Pupuk Nasional
Mentan Amran Dorong Pengusaha Muda Kembangkan Hilirisasi Kelapa untuk Perkuat Daya Saing Global
Mentan Temukan Ketidaksesuaian Program Pembibitan Kelapa di Manado, Minta Pengawasan Diperketat
TNI Jadi Kunci Penguatan Ketahanan Pangan Nasional, Mentan Amran Apresiasi Sinergi Lapangan
komentar
beritaTerbaru