Komoditas tersebut meliputi beras, jagung, bawang merah, cabai, daging ayam ras, telur ayam ras, gula konsumsi, dan sawit.
Meski demikian, pemerintah tetap mempercepat program swasembada untuk komoditas yang masih bergantung impor seperti bawang putih dan kedelai melalui perluasan areal tanam, penggunaan benih unggul, hingga penguatan kemitraan petani dengan industri pangan.
Selain fokus pada swasembada, pemerintah juga mendorong hilirisasi komoditas pangan dan perkebunan untuk meningkatkan nilai tambah ekspor nasional. Hilirisasi dilakukan pada sejumlah komoditas seperti kelapa, kakao, kopi, mete, lada, dan sawit.
Amran mencontohkan nilai ekspor kelapa Indonesia saat ini berkisar Rp20-26 triliun per tahun, namun melalui pengolahan produk turunan seperti virgin coconut oil (VCO), santan industri, dan pangan olahan, nilainya diproyeksikan meningkat hingga sekitar Rp60 triliun dalam jangka panjang.
Menurutnya, ketika desa mampu memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri dan hasil pertanian diolah menjadi produk bernilai tinggi, maka penguatan dolar justru dapat menjadi peluang untuk memperbesar ekspor dan memperkuat ekonomi nasional. (R)
beritaTerkait
komentar