Kepala BRMP Mektan Arief Rachman menjelaskan, pengujian tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan teknis penggunaan biodiesel dalam kondisi operasional nyata. Evaluasi mencakup keandalan mesin, efisiensi bahan bakar, serta stabilitas operasional.
Pengujian dilakukan pada berbagai jenis alsintan, seperti traktor roda dua, traktor roda empat, hingga pompa air. Selain itu, dilakukan pula pengujian cold-startability guna memastikan mesin tetap dapat beroperasi setelah periode penyimpanan.
Hasil pengujian di laboratorium maupun lapangan menunjukkan bahwa biodiesel B50 memiliki kinerja yang relatif stabil. Parameter utama seperti daya, konsumsi bahan bakar, efisiensi kerja, serta performa operasional telah memenuhi standar nasional (SNI).
Temuan ini menunjukkan bahwa biodiesel B50 berpotensi diterapkan secara luas pada alsintan tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap performa mesin.
Melalui pengembangan teknologi bioreaktor biodiesel dan pengujian implementatif di lapangan, Kementan terus mendorong integrasi bioenergi dengan mekanisasi pertanian.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, serta memperkuat fondasi pertanian modern yang berkelanjutan dalam mendukung keberhasilan program B50 nasional. (R)
beritaTerkait
komentar