Minggu, 12 April 2026

Kolaborasi Multipihak Dorong Peningkatan Literasi dan Numerasi Nasional

Minggu, 12 April 2026 18:00 WIB
Kolaborasi Multipihak Dorong Peningkatan Literasi dan Numerasi Nasional
Kemendikdasmen melalui BKPDM bersama Tanoto Foundation, Gates Foundation, dan UNICEF menginisiasi Partisipasi Semesta untuk Pendidikan Bermutu: “Kolaborasi Multipihak untuk Peningkatan Literasi dan Numerasi Nasional”, Kamis (9/4/2026).

Jakarta (buseronline.com) - Upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Tanoto Foundation, Bill & Melinda Gates Foundation, dan UNICEF menginisiasi program bertajuk "Partisipasi Semesta untuk Pendidikan Bermutu: Kolaborasi Multipihak untuk Peningkatan Literasi dan Numerasi Nasional".

Dilansir dari laman Kemendikdasmen, program ini turut melibatkan pemerintah daerah di sejumlah kabupaten/kota sebagai bagian dari upaya bersama untuk mengatasi persoalan mendasar dalam pendidikan, khususnya rendahnya capaian literasi dan numerasi di tingkat sekolah dasar.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti menegaskan bahwa berbagai tantangan seperti learning loss dan learning poverty harus menjadi dorongan untuk melakukan perbaikan berkelanjutan.

Baca Juga: 103.962 Anak di Sumut Belum Imunisasi, Pemprov dan UNICEF Percepat Cakupan Vaksinasi

"Permasalahan yang kita hadapi bukanlah akhir, melainkan motivasi untuk bekerja lebih baik. Kita harus memastikan seluruh anak Indonesia mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas dan merata," ujarnya.

Kolaborasi ini dirancang berlangsung hingga 2029 dengan sasaran utama siswa kelas awal sekolah dasar. Fokusnya adalah penguatan kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung yang menjadi fondasi penting dalam proses pembelajaran selanjutnya.

Head of Learning Environment Department Tanoto Foundation, Margaretha Ari Widowati, menyampaikan bahwa literasi dan numerasi tidak hanya sekadar keterampilan akademik, tetapi juga menjadi dasar bagi kemampuan berpikir kritis dan perkembangan anak di masa depan. Ia menekankan pentingnya pendekatan berbasis data serta praktik pembelajaran yang efektif di kelas.

Sementara itu, perwakilan UNICEF Indonesia, Maniza Zaman menyoroti bahwa krisis pembelajaran masih menjadi tantangan global. Menurutnya, hampir 7 dari 10 anak di dunia belum mampu membaca dan memahami teks sederhana pada usia 10 tahun.

"Setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Upaya kolektif ini merupakan investasi penting bagi masa depan mereka," ujarnya.

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Nawal Yasin Dorong Penerapan Budaya Inklusif di Program Pesantren Ramah Anak
PSSI dan UNICEF Indonesia Resmi Berkolaborasi
Pemanfaatan Teknologi di Sekolah Denpasar Tingkatkan Efisiensi Administrasi
UNICEF Puji Mendikbudristek atas Transformasi Pendidikan di Indonesia
Indonesia akan Selenggarakan Gateways Study Visit 2024 di Bali
Indonesia Kirim 10 Juta Dosis Vaksin Polio ke Afghanistan
komentar
beritaTerbaru