Jakarta (buseronline.com) - Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan kembali menyelenggarakan Webinar Sapa GTK Episode 2 bertema “Siap Mengajar Bahasa Inggris di SD melalui PKGSD-MBI”, sebagai upaya memperkuat kapasitas guru dalam mengimplementasikan pembelajaran Bahasa Inggris di tingkat sekolah dasar.
Kegiatan yang digagas oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ini menjadi ruang berbagi praktik baik sekaligus wadah penguatan kompetensi guru agar lebih siap menghadapi tantangan pembelajaran di era global.
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Nunuk Suryani, menegaskan bahwa penetapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib merupakan langkah strategis untuk membekali peserta didik dengan kemampuan dasar sejak dini.
Baca Juga:
“Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib merupakan upaya kita untuk membekali murid dengan kemampuan dasar berbahasa Inggris. Oleh karena itu, pelatihan ini bertujuan untuk menyiapkan guru agar dapat memberikan pembelajaran Bahasa Inggris dengan mudah dan menyenangkan. Dalam jangka panjang, guru perlu terus melakukan refleksi agar pembelajaran semakin relevan dengan kebutuhan murid,” ujar Nunuk, Selasa.
Ia menekankan pentingnya dukungan berkelanjutan melalui program Pengembangan Kompetensi Guru SD Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI). Program ini dirancang untuk memberikan penguatan kapasitas guru secara bertahap melalui pelatihan, pendampingan, serta ruang kolaborasi berbagi praktik baik.
Baca Juga:
Menurut Nunuk, sasaran program ini mencakup 90.447 satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Pada tahap awal, pelatihan diikuti oleh satu guru per sekolah, khususnya guru kelas dengan latar belakang non-Bahasa Inggris di sekolah yang belum menerapkan mata pelajaran tersebut.
“Guru yang belum mengikuti pelatihan akan dilibatkan pada tahap berikutnya. Sementara guru yang sudah mengikuti pelatihan diharapkan dapat melakukan pengimbasan kepada rekan sejawat,” jelasnya.
Selain itu, guru juga dapat mengakses pembelajaran mandiri melalui Learning Management System (LMS) dan kanal RGTK pada aplikasi Rumah Pendidikan sebagai bagian dari penguatan kompetensi berkelanjutan.
Dalam kesempatan yang sama, Tim Pengembang Program PKGSD-MBI, Herri Mulyono, menjelaskan bahwa pendekatan pembelajaran dalam program ini menitikberatkan pada metode kontekstual dan menyenangkan.
“Pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar perlu dirancang secara kontekstual dan menyenangkan. Fokusnya bukan pada hafalan semata, tetapi pada bagaimana murid berani menggunakan bahasa dalam situasi sederhana sehari-hari,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa program ini mampu mengubah pola pikir guru menjadi lebih percaya diri dalam mengajar, meskipun tidak memiliki latar belakang pendidikan Bahasa Inggris.
Salah satu peserta program, Tintin Supriatin, mengaku mendapatkan banyak manfaat dari pelatihan tersebut. Ia menyebut program PKGSD-MBI tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membangun kepercayaan diri sebagai pengajar.
“Program ini tidak hanya menambah pengetahuan tentang pengajaran Bahasa Inggris, tetapi juga mengubah cara pandang kami terhadap diri sendiri sebagai pengajar, sehingga membuat kami lebih percaya diri,” ujarnya.
Dilansir dari laman Kemendikdasmen, Tintin juga membagikan praktik sederhana yang diterapkannya di kelas, seperti mengenalkan kosakata dasar, mengajak siswa bernyanyi lagu berbahasa Inggris, serta membiasakan penggunaan sapaan sederhana dalam keseharian.
Melalui kegiatan ini, Kemendikdasmen berharap para guru sekolah dasar semakin siap dan percaya diri dalam mengajar Bahasa Inggris, sekaligus mampu menghadirkan pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik.
Program Sapa GTK pun akan terus dikembangkan sebagai wadah inspiratif untuk berbagi praktik baik, memperkuat kompetensi guru, serta membangun ekosistem pembelajaran yang kolaboratif di seluruh Indonesia. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
komentar