Jakarta (buseronline.com) - Suasana khidmat menyelimuti pelaksanaan Salat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah di Halaman Gedung A Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Sabtu.
Jemaah yang terdiri dari keluarga besar Kemendikdasmen serta masyarakat sekitar tampak antusias mengikuti rangkaian ibadah, termasuk mendengarkan khotbah yang mengangkat tema “Keshalihan Spiritual & Sosial sebagai Fondasi Pendidikan Karakter”.
Khotbah Idulfitri disampaikan oleh M Shalehuddin Al Ayubi yang menekankan bahwa Idulfitri tidak sekadar menjadi perayaan seremonial melalui lantunan takbir dan tahmid, melainkan momentum refleksi mendalam atas kualitas penghambaan kepada Allah SWT.
Baca Juga:
Menurut Ayubi, makna kemenangan sejati dalam Idulfitri terletak pada keberhasilan seseorang dalam mengendalikan hawa nafsu, meningkatkan hubungan spiritual dengan Tuhan, serta memperkuat relasi sosial dengan sesama manusia.
“Bulan Ramadan mengajarkan kita untuk membangun fondasi karakter melalui nilai-nilai pendidikan. Lebih dari itu, kita juga terdidik dengan ibadah sosial melalui kewajiban sedekah dan zakat fitrah,” ungkapnya dalam khotbah.
Baca Juga:
Dalam pemaparannya, dilansir dari laman Kemendikdasmen, Ayubi menjelaskan tiga aktivitas utama selama Ramadan yang memiliki nilai pendidikan sebagai penggerak perubahan karakter umat. Pertama, mujahadah, yakni upaya sungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah puasa di tengah aktivitas sehari-hari, termasuk melaksanakan qiyamul lail pada sepertiga malam.
Kedua, muraqabah, yaitu kesadaran bahwa setiap perbuatan selalu berada dalam pengawasan Allah SWT. Nilai ini dinilai mampu membentuk pribadi yang jujur serta melahirkan aparatur sipil negara (ASN) dan pemimpin yang berintegritas, sekaligus menjauhkan diri dari perilaku koruptif.
Ketiga, muhasabah, yakni proses introspeksi diri untuk mengevaluasi kekurangan sebelum datangnya hari perhitungan amal. Melalui muhasabah, umat diharapkan mampu terus memperbaiki diri secara berkelanjutan.
Lebih lanjut, Ayubi juga mengutip pemikiran tokoh pendidikan Islam, seperti KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari, yang menekankan bahwa pendidikan sejatinya harus mampu melahirkan insan kamil, yakni manusia yang beradab dan berorientasi pada amal nyata.
“Pendidikan tidak cukup hanya mentransfer ilmu, tetapi harus melahirkan manusia yang berpihak kepada lingkungan sosialnya,” tutup Ayubi.
Pelaksanaan Salat Idulfitri ini menjadi momentum bagi Kemendikdasmen untuk menegaskan kembali peran strategis pendidikan sebagai fondasi pembentukan karakter bangsa sekaligus penggerak perubahan sosial di tengah masyarakat. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
komentar