Senin, 06 April 2026

Menag: Nilai Ramadan Harus Terus Dijaga Usai Idulfitri

GY Simanjuntak MSi - Rabu, 25 Maret 2026 11:00 WIB
Menag: Nilai Ramadan Harus Terus Dijaga Usai Idulfitri
Menteri Agama Nasaruddin Umar. (Dok/Kemenag)

Jakarta (buseronline.com) - Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya menjaga dan menginternalisasi nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari setelah perayaan Idulfitri.


Menurutnya, keberhasilan menjalani bulan suci tidak hanya diukur dari ibadah selama Ramadan, tetapi juga dari konsistensi perilaku setelahnya.


Hal tersebut disampaikan dalam program Memaknai Lebaran Bersama Menag Nasaruddin Umar yang disiarkan BeritaSatu dalam edisi khusus Idulfitri, Sabtu (21/3/2026).

Baca Juga:

Menag mengingatkan agar nilai-nilai yang telah dibangun selama Ramadan tidak hilang setelah bulan suci berakhir. Ia menyebut Ramadan sebagai proses pembentukan karakter yang mencakup penguatan nilai kejujuran, keadilan, kebersamaan, dan toleransi.


“Yang paling penting, nilai-nilai Ramadan itu harus dipatrikan dalam diri kita. Kejujuran, keadilan, kebersamaan, toleransi, dan sifat-sifat keutamaan lainnya jangan sampai hilang setelah Ramadan,” ujarnya.

Baca Juga:

Menurutnya, konsistensi dalam menjaga nilai-nilai tersebut akan berdampak langsung pada kualitas kehidupan berbangsa. Masyarakat yang mampu mempertahankan spirit Ramadan dinilai dapat menciptakan suasana yang lebih harmonis dan produktif.


“Kalau ini kita ikuti perkembangan Ramadan, maka kita akan menjadi produk Ramadan yang sangat sejuk, sangat indah, cerah dan mencerahkan,” katanya.


Selain itu, dilansir dari laman Kemenag, Menag juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa serta tidak terjebak pada kepentingan jangka pendek yang dapat merusak kohesi sosial.


“Saya minta persatuan dan kesatuan. Jangan sampai kita terkecoh oleh satu kepentingan sesaat, lalu saling menyikut antar sesama warga bangsa. Itu akan melemahkan sendi-sendi kebangsaan kita,” tegasnya.


Menjawab pertanyaan terkait “fitrah kebangsaan” yang perlu dipulihkan, Nasaruddin menyoroti bahaya sikap individualisme yang dapat merusak solidaritas sosial.


“Saya kira individualisme itu jangan sampai bersarang di hati dan di pikiran setiap anak bangsa. Ini yang menjadi racun, kalau semua orang mementingkan dirinya sendiri,” tuturnya.


Ia menegaskan bahwa momentum Idulfitri seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai perayaan seremonial tahunan, tetapi menjadi titik awal untuk menjaga kesinambungan nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan pribadi maupun sosial.


Melalui penguatan nilai tersebut, diharapkan masyarakat dapat membangun kehidupan yang lebih harmonis, saling menghargai, dan memperkuat persatuan bangsa. (R)

Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Tiga Prajurit TNI Gugur di Misi UNIFIL Lebanon, Presiden Prabowo Beri Penghormatan Terakhir
Perayaan Paskah GBKP Setia Budi Meriah, Diisi Ibadah, Pujian dan Perlombaan
Kredensialing: Strategi Utama Hadirkan Layanan JKN Berkualitas
Pemko Medan Tingkatkan Layanan dan Fasilitas RSUD Dr Pirngadi di Hari Ginjal Sedunia
Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan Diperkuat Jejaring Lintas K/L
Kemendikdasmen Jadi Finalis Top Inovasi Kementerian PAN-RB Lewat Inovasi Verifikasi Data ATS
komentar