Bangli (buseronline.com) - Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong penguatan ekoteologi melalui aksi nyata pelestarian lingkungan, salah satunya melalui kegiatan penanaman pohon di Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa, Bangli, Senin.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap lingkungan hidup di lingkungan pendidikan tinggi.
Dalam sambutannya, dilansir dari laman Kemenag, Menag menegaskan bahwa selama ini agama kerap dipersepsikan hanya mengatur aspek spiritual, sementara sains berada di ranah empiris. Padahal, menurutnya, keduanya dapat dipadukan untuk menjawab berbagai tantangan global, termasuk persoalan lingkungan.
“Dalam sejarah peradaban manusia, agama sering dianggap hanya mengurusi wilayah ‘langit’, sementara sains mengurusi ‘bumi’. Namun di UHN Sugriwa, kita ingin membangun jembatan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa spiritualitas Hindu dengan konsep Rta memiliki relevansi kuat dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern, seperti bioteknologi, teknologi informasi, hingga ilmu lingkungan.
Menurut Menag, pendekatan ekoteologi menjadi penting agar kemajuan ilmu pengetahuan tetap selaras dengan nilai spiritual serta keberlanjutan alam.
“Menjaga lingkungan adalah bagian dari ajaran agama. Karena itu, gerakan seperti penanaman pohon harus menjadi kesadaran bersama, bukan sekadar kegiatan simbolik,” tegasnya.
Menag juga mengapresiasi langkah kampus dalam mengintegrasikan teknologi dengan pelestarian lingkungan, termasuk pengolahan sampah organik dan pengembangan produk berbasis kearifan lokal.
Sementara itu, Rektor UHN Sugriwa, I Gusti Ngurah Sudiana, menyampaikan bahwa komitmen terhadap ekoteologi telah menjadi bagian dari program nyata kampus, sejalan dengan Asta Protas Kementerian Agama serta Kurikulum Cinta.
“Kami secara rutin melakukan penanaman bibit pohon, termasuk pohon matoa dan tanaman yang digunakan sebagai sarana upakara keagamaan. Ini menjadi bagian dari pendidikan nilai sekaligus pelestarian lingkungan,” jelasnya.
Ia menambahkan, kampus juga aktif dalam konservasi satwa langka seperti rusa, merak, dan jalak Bali melalui kerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam.
Kegiatan ekologis tersebut bahkan kerap dikaitkan dengan momentum hari suci keagamaan. Salah satunya melalui peringatan Tumpek Uye yang diisi dengan penanaman pohon dan pelepasan burung di kawasan kampus.
Selain itu, UHN Sugriwa juga memperoleh dukungan sarana pendukung keberlanjutan lingkungan, antara lain bantuan alat pabrik dupa aromaterapi dari Bank Pembangunan Daerah Bali serta mesin pengolahan sampah organik dari Bank Mandiri yang bermitra dengan PT Manah Liang.
Melalui penguatan ekoteologi dan berbagai program pelestarian lingkungan tersebut, UHN Sugriwa diharapkan mampu menjadi contoh kampus yang mengintegrasikan nilai spiritual, ilmu pengetahuan, serta kepedulian terhadap alam secara berkelanjutan.
Kementerian Agama pun berharap pendekatan ini dapat terus dikembangkan di berbagai institusi pendidikan sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
komentar