Malaka (buseronline.com) - Praktik digitalisasi pembelajaran di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai menunjukkan hasil positif.
Tenaga pendidik di SMPN Wederok, Kabupaten Malaka, mengakui adanya peningkatan signifikan dalam capaian hasil belajar siswa sejak pemanfaatan perangkat digital di ruang kelas.
Guru Ilmu Pengetahuan Sosial SMPN Wederok, Theobaldus Banafanu, mengungkapkan bahwa penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) atau papan interaktif digital (PID), super aplikasi Rumah Pendidikan, serta akses internet berbasis satelit Starlink sejak awal 2026 telah meningkatkan semangat belajar 139 siswa di sekolah tersebut.
Baca Juga:
“Sebelumnya, buku ajar sangat terbatas. Sekarang dengan adanya PID, guru bisa langsung menampilkan materi secara visual melalui internet. Proses belajar menjadi jauh lebih mudah dan menarik,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu (18/3/2026).
Menurutnya, kemudahan akses materi pembelajaran secara digital berdampak langsung pada peningkatan nilai siswa. Jika sebelumnya rata-rata nilai kelas berada di kisaran 60, kini meningkat menjadi 75 hingga 80. Hal ini menunjukkan pemahaman siswa terhadap materi semakin baik.
Baca Juga:
Selain itu, dilansir dari laman Kemendikdasmen, digitalisasi pembelajaran juga dinilai mampu menyesuaikan dengan karakter siswa di wilayah 3T yang sebagian besar sudah akrab dengan penggunaan ponsel pintar, meskipun berasal dari keluarga petani jagung, padi, dan kopra.
“Dengan adanya sarana digital, siswa tidak lagi mengantuk di kelas. Guru juga lebih antusias karena bisa menyajikan pembelajaran yang lebih interaktif,” tambah Theobaldus.
Ia juga menyoroti manfaat pelatihan Training of Trainers (ToT), khususnya dalam penggunaan aplikasi desain seperti Canva, yang dinilai mampu meningkatkan kreativitas guru dalam menyampaikan materi.
Meski demikian, keterbatasan sarana masih menjadi tantangan. Saat ini, satu perangkat PID hanya dapat digunakan secara bergiliran oleh beberapa kelas, dengan frekuensi rata-rata satu kali per minggu.
“Kami berharap ke depan jumlah perangkat dapat ditambah agar pemanfaatannya lebih optimal,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikdasmen, Yudhistira Nugraha, menegaskan bahwa keberhasilan implementasi digitalisasi di NTT merupakan bukti nyata transformasi paradigma pembelajaran.
“Pembelajaran tidak lagi terbatas di ruang kelas. Dengan pendekatan learning, proses belajar dapat berlangsung di mana saja dan kapan saja,” jelasnya.
Ia menambahkan, penguatan ekosistem teknologi pendidikan perlu terus dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor. Saat ini, terdapat hampir 3.000 pengembang teknologi pembelajaran di Indonesia yang tersebar di berbagai kementerian dan lembaga.
Melalui sinergi tersebut, pemerintah berharap digitalisasi pendidikan dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak wilayah 3T, sehingga kesenjangan kualitas pendidikan di Indonesia dapat semakin diperkecil. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
komentar