Bireuen (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia menuntaskan program Revitalisasi Satuan Pendidikan tahun 2025 di Provinsi Aceh yang menjangkau 726 satuan pendidikan dengan total anggaran sekitar Rp688,2 M.
Program tersebut mencakup berbagai jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan dasar dan menengah, hingga pendidikan nonformal.
Peresmian program revitalisasi tersebut dilakukan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu ti di Kabupaten Bireuen, Selasa.
Baca Juga:
Kegiatan itu juga menandai selesainya pembangunan dan perbaikan sarana pendidikan pada 29 sekolah di wilayah tersebut dengan total nilai bantuan sekitar Rp36 M.
Menteri Abdul Mu’ti mengatakan bahwa revitalisasi satuan pendidikan menjadi langkah strategis pemerintah untuk memulihkan kegiatan belajar mengajar, khususnya di daerah yang terdampak bencana.
Baca Juga:
“Program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang menyasar Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh berhasil membangkitkan semangat belajar para murid dan guru karena meningkatkan kenyamanan saat kegiatan belajar mengajar,” ujarnya.
Selain meresmikan hasil revitalisasi tahun 2025, pemerintah juga mulai merealisasikan program revitalisasi untuk tahun 2026. Di Kabupaten Bireuen, tercatat sebanyak 116 sekolah terdampak bencana telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan total nilai bantuan mencapai Rp167,4 M.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 86 sekolah akan dikerjakan secara swakelola oleh pihak sekolah, sementara 30 sekolah lainnya akan dilaksanakan oleh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat.
Dalam kesempatan itu, Menteri Abdul Mu’ti juga melakukan peletakan batu pertama pembangunan di TK Negeri Muhajidin yang menjadi salah satu penerima bantuan revitalisasi tahun 2026.
“Hari ini kita akan melakukan peletakan batu pertama pembangunan di TK Negeri Muhajidin yang mendapatkan bantuan revitalisasi untuk tahun 2026. Ini merupakan realisasi dari revitalisasi tahun 2026 yang alhamdulillah sebagian sudah kita tetapkan dan sudah bisa dimulai pembangunannya,” kata Abdul Mu’ti.
Ia menegaskan bahwa pembangunan sarana dan prasarana pendidikan melalui program revitalisasi tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga menjadi bagian dari upaya strategis untuk membangun generasi Indonesia yang unggul melalui fasilitas pendidikan yang memadai.
“Membangun gedung tidaklah sekadar mendirikan tembok yang tinggi, tetapi membangun fondasi yang kokoh dalam rangka membangun anak-anak Indonesia yang cerdas dan berkarakter,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, dilansir dari laman Kemendikdasmen, Menteri Abdul Mu’ti juga berpesan kepada seluruh penerima manfaat agar fasilitas yang telah dibangun dapat dimanfaatkan dan dirawat dengan baik. Ia menekankan bahwa sarana pendidikan yang dibangun melalui program revitalisasi merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.
Salah satu penerima manfaat revitalisasi, Pelaksana Tugas Kepala SMP Negeri 1 Peusangan Selatan, Leni, mengatakan bahwa program revitalisasi memberikan dampak signifikan terhadap kenyamanan dan keamanan proses pembelajaran di sekolahnya.
Menurutnya, kondisi ruang kelas yang sebelumnya kurang layak kini telah jauh lebih baik sehingga siswa dapat belajar dengan lebih fokus dan nyaman.
“Siswa dapat belajar dengan lebih fokus, mendorong motivasi dan semangat belajarnya karena ruang kelas tidak lagi bocor, plafon yang layak, pintu dan jendela yang kokoh, serta fasilitas perpustakaan dan laboratorium komputer yang lebih baik sehingga siswa betah untuk menambah ilmu pengetahuan dan teknologinya,” ungkap Leni.
Hal senada disampaikan Kepala SMA Negeri 3 Samalanga, Ira Novita. Ia menyebut program revitalisasi sangat membantu sekolahnya karena fasilitas yang dibangun sesuai dengan kebutuhan sekolah.
Ia mencontohkan pembangunan ruang administrasi baru yang memungkinkan laboratorium IPA dimanfaatkan secara maksimal oleh siswa.
“Dengan adanya ruang administrasi baru, siswa jadi bisa memanfaatkan laboratorium IPA dengan maksimal untuk pembelajaran, karena sebelumnya harus berbagi dengan ruang administrasi,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Peudada, Yuslina, menyampaikan bahwa revitalisasi sangat membantu memperbaiki kondisi sekolah yang sebelumnya sudah cukup lama dan membutuhkan berbagai perbaikan.
“Alhamdulillah sudah selesai 100 persen dan sudah mulai kita manfaatkan. Dengan adanya revitalisasi ini ada empat ruang kelas yang direhabilitasi, ruang perpustakaan, toilet, serta tiga bangunan baru yaitu toilet, UKS, dan ruang BK,” ujarnya.
Selain revitalisasi reguler, pemerintah juga memberikan perhatian khusus terhadap satuan pendidikan yang terdampak bencana pada akhir November 2025 lalu. Hingga saat ini tercatat sebanyak 3.120 usulan sekolah terdampak bencana, dengan 2.178 sekolah telah terverifikasi akan menerima bantuan revitalisasi.
Dari jumlah tersebut, terdapat 63 sekolah yang perlu direlokasi, 188 sekolah mengalami kerusakan berat, 1.382 sekolah rusak sedang, dan sisanya mengalami kerusakan ringan.
Dalam rangka pemulihan layanan pendidikan pascabencana, Menteri Abdul Mu’ti juga meresmikan delapan Ruang Kelas Darurat (RKD) di SMK Negeri 1 Peusangan.
Di Kabupaten Bireuen sendiri terdapat 15 RKD yang tersebar di lima sekolah, yakni delapan RKD di SMK Negeri 1 Peusangan, dua RKD di SMA Negeri 1 Peusangan Siblah Krueng, dua RKD di SMA Negeri 1 Peusangan, satu RKD di SMA Negeri 2 Kutablang, serta dua RKD di SMAS Terpadu Al-Furqan.
Kepala SMK Negeri 1 Peusangan, Faisal, mengatakan bahwa kehadiran RKD sangat membantu proses belajar mengajar di sekolahnya setelah terdampak banjir yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025 lalu.
“Kami sangat bersyukur atas hadirnya delapan RKD yang memungkinkan murid kembali belajar dengan lebih fokus dan tertib. Ruang belajar yang layak menjadi faktor penting agar proses pendidikan dapat berjalan optimal dan membangkitkan semangat belajar murid,” ujar Faisal.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pembangunan RKD merupakan bagian dari upaya percepatan pemulihan layanan pendidikan yang dilakukan Kemendikdasmen setelah terjadinya bencana.
Menurutnya, meskipun bersifat sementara, ruang kelas darurat tersebut diharapkan mampu mendukung keberlangsungan proses pembelajaran sekaligus memotivasi siswa untuk terus semangat belajar.
“Semangat belajar harus tetap terjaga dan tertanam kepada para peserta didik. Untuk itu, hadirnya delapan RKD ini menjadi wujud nyata upaya kami untuk mempercepat proses pemulihan layanan pendidikan dan membangkitkan semangat belajar pascamusibah yang melanda di Kabupaten Bireuen Aceh,” pungkasnya. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
komentar