Bireuen (buseronline.com) - Program revitalisasi satuan pendidikan yang dilaksanakan pemerintah mulai menunjukkan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan di daerah.
Hal itu terlihat dari peresmian hasil revitalisasi 29 sekolah di Kabupaten Bireuen, Aceh, oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu ti.
Peresmian tersebut menandai selesainya pembangunan dan perbaikan sarana pendidikan dengan total nilai bantuan sekitar Rp36 M. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas serta kenyamanan proses belajar mengajar bagi para siswa.
“Dengan adanya bantuan revitalisasi tersebut maka pemerintah dapat memastikan kegiatan belajar mengajar dapat kembali pulih dan berjalan secara optimal di wilayah yang terdampak bencana,” ujar Abdul Mu’ti saat peresmian di Bireuen, Selasa.
Ia menjelaskan bahwa pada 2025 program revitalisasi satuan pendidikan di Aceh telah menjangkau 726 sekolah dari berbagai jenjang dengan total anggaran sekitar Rp688,2 M.
Program tersebut mencakup berbagai tingkat pendidikan, mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan dasar dan menengah, hingga pendidikan nonformal.
Menurutnya, pembangunan sarana dan prasarana pendidikan melalui program revitalisasi tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk membangun generasi Indonesia yang cerdas dan berkarakter.
“Membangun gedung tidak sekadar mendirikan tembok yang tinggi, tetapi juga membangun fondasi yang kokoh dalam rangka membangun anak-anak Indonesia yang cerdas dan berkarakter,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, dilansir dari laman Kemendikdasmen, Mendikdasmen juga berpesan kepada seluruh pihak penerima bantuan agar fasilitas yang telah dibangun dapat dimanfaatkan serta dirawat dengan baik.
Ia menegaskan bahwa sarana pendidikan yang dibangun melalui program revitalisasi merupakan investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa.
Salah satu penerima manfaat revitalisasi, Pelaksana Tugas Kepala SMP Negeri 1 Peusangan Selatan, Leni, mengatakan bahwa program tersebut memberikan dampak signifikan terhadap kenyamanan dan keamanan proses pembelajaran di sekolahnya.
Menurut Leni, kondisi ruang kelas yang sebelumnya kurang layak kini telah jauh lebih baik sehingga siswa dapat belajar dengan lebih fokus dan nyaman.
“Siswa dapat belajar dengan lebih fokus dan semangat karena ruang kelas tidak lagi bocor, plafon sudah layak, pintu dan jendela kokoh, serta fasilitas perpustakaan dan laboratorium komputer lebih baik sehingga siswa betah menambah pengetahuan dan teknologi,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa revitalisasi juga memberikan dampak positif bagi para guru. Kini tersedia ruang kerja yang lebih memadai dan kondusif untuk melakukan perencanaan pembelajaran, berdiskusi dengan sesama guru, hingga mengelola administrasi pendidikan dengan lebih tertata.
Hal serupa disampaikan Kepala SMA Negeri 3 Samalanga, Ira Novita. Ia menyebut program revitalisasi sangat membantu karena fasilitas yang dibangun sesuai dengan kebutuhan sekolah.
Menurutnya, pembangunan ruang administrasi baru membuat laboratorium IPA dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh siswa.
“Dengan adanya ruang administrasi baru, siswa jadi bisa memanfaatkan laboratorium IPA dengan maksimal untuk pembelajaran, karena sebelumnya harus berbagi dengan ruang administrasi,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Peudada, Yuslina, menyampaikan bahwa revitalisasi sangat membantu memperbaiki kondisi sekolah yang sebelumnya sudah cukup lama dan membutuhkan perbaikan di berbagai bagian.
“Alhamdulillah pembangunan sudah selesai 100 persen dan sudah mulai dimanfaatkan. Ada empat ruang kelas yang direhabilitasi, ruang perpustakaan, toilet, serta tiga bangunan baru yaitu toilet, UKS, dan ruang bimbingan konseling,” ujarnya.
Manfaat revitalisasi juga dirasakan oleh Kepala SLB Vokasional Muhammadiyah Bireuen, Istiarsyah. Ia menyebut perubahan signifikan terjadi di lingkungan sekolahnya setelah program revitalisasi dilakukan.
Menurutnya, lingkungan sekolah yang sebelumnya sempit kini menjadi lebih luas sehingga siswa memiliki ruang lebih leluasa untuk beraktivitas. Selain itu, sekolah kini memiliki sejumlah fasilitas baru yang sebelumnya belum tersedia.
“Ada ruang sensori integrasi, ruang perpustakaan, UKS, dan ruang keterampilan yang sebelumnya tidak kami miliki. Fasilitas ini akan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk meningkatkan potensi anak-anak berkebutuhan khusus,” ujarnya.
Melalui program revitalisasi tersebut, pemerintah berharap kualitas pendidikan di berbagai daerah dapat terus meningkat serta memberikan lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman, dan mendukung pengembangan potensi peserta didik. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
komentar