Senin, 06 April 2026

Mendikdasmen Letakkan Batu Pertama, Revitalisasi 116 Sekolah Terdampak Bencana di Bireuen Resmi Dimulai

GY Simanjuntak MSi - Minggu, 15 Maret 2026 11:00 WIB
Mendikdasmen Letakkan Batu Pertama, Revitalisasi 116 Sekolah Terdampak Bencana di Bireuen Resmi Dimulai
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti melakukan peletakan batu pertama pembangunan revitalisasi sekolah saat kunjungan di Kabupaten Bireuen, Aceh, Selasa (10/3/2026). (Dok/Kemendikdasmen)

Bireuen (buseronline.com) - Mendikdasmen Abdul Mu’ti menandai dimulainya Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2026 di Kabupaten Bireuen dengan melakukan prosesi peletakan batu pertama di sejumlah sekolah penerima bantuan, Selasa.


Sekolah yang menjadi lokasi awal peletakan batu pertama tersebut antara lain UPTD TK Negeri Mujahidin, UPTD SMP Negeri 2 Peudada, serta SMK Kesehatan Muhammadiyah Bireuen. Program ini merupakan bagian dari upaya percepatan pemulihan sarana pendidikan, khususnya di wilayah yang terdampak bencana.


“Hari ini kita melakukan peletakan batu pertama pembangunan di TK Negeri Mujahidin yang mendapatkan bantuan revitalisasi untuk tahun 2026. Ini merupakan realisasi dari program revitalisasi tahun 2026 yang alhamdulillah sebagian sudah ditetapkan dan sudah bisa dimulai pembangunannya,” ujar Abdul Mu’ti saat kegiatan berlangsung.

Baca Juga:

Dalam program revitalisasi tahun 2026 di Kabupaten Bireuen, tercatat 116 sekolah terdampak bencana telah menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) dengan total nilai bantuan mencapai Rp167,4 M. Dari jumlah tersebut, sebanyak 86 sekolah akan dikerjakan secara swakelola oleh pihak sekolah, sementara 30 sekolah lainnya akan dilaksanakan oleh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat.


Dilansir dari laman Kemendikdasmen, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa bentuk bantuan revitalisasi yang diberikan kepada setiap sekolah tidak sama, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan.

Baca Juga:

“Menu bantuan revitalisasi bervariasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing sekolah, seperti pembangunan ruang kelas baru, perpustakaan, laboratorium, toilet, ruang administrasi, dan fasilitas lainnya,” jelasnya.


Ia berharap program revitalisasi tersebut dapat mempercepat pemulihan sektor pendidikan di Aceh sehingga proses belajar mengajar dapat kembali berjalan lebih optimal.


“Mudah-mudahan dengan revitalisasi ini kegiatan pembelajaran dapat berlangsung lebih baik lagi, dan masyarakat yang terdampak musibah banjir dapat bangkit kembali dengan sarana pendidikan yang lebih baik. Mudah-mudahan pembangunan bisa cepat selesai,” tambahnya.


Sementara itu, Kepala UPTD TK Negeri Mujahidin, Mursyidah, mengungkapkan bahwa sebelum menerima bantuan revitalisasi, kondisi sekolahnya cukup memprihatinkan, bahkan sejak sebelum bencana banjir melanda.


Setelah banjir terjadi, kondisi bangunan sekolah semakin memburuk. Beberapa ruang kelas mengalami kerusakan berat sehingga hampir tidak dapat digunakan sebagai tempat belajar.


Dengan jumlah murid sekitar 120 anak, pihak sekolah terpaksa mengatur proses pembelajaran dengan menempatkan sekitar 30 siswa dalam satu ruang kelas agar kegiatan belajar tetap berjalan.


Melalui program revitalisasi tersebut, TK Negeri Mujahidin menerima bantuan sebesar Rp1,032 M yang akan digunakan untuk rehabilitasi tiga ruang belajar, rehabilitasi ruang administrasi, pembangunan satu ruang kelas baru, penataan lingkungan sekolah, serta perbaikan sanitasi.


“Alhamdulillah kami sangat senang dan bersyukur mendapat kesempatan menjadi salah satu sekolah yang mendapatkan bantuan revitalisasi. Ini merupakan sesuatu yang kami tunggu-tunggu, apalagi ini merupakan tahun terakhir saya bekerja,” ungkap Mursyidah.


Di sisi lain, Kepala UPTD SMP Negeri 2 Peudada, Salawati, menyampaikan bahwa sekolahnya juga menjadi penerima bantuan revitalisasi tahun 2026 dengan nilai Rp3,4 M.


Dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan ruang administrasi, rehabilitasi sembilan ruang belajar, pembangunan dua unit toilet, rehabilitasi perpustakaan, serta pembangunan ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) guna menunjang kegiatan belajar mengajar.


Salah satu siswa kelas IX SMP Negeri 2 Peudada, Heira Umira, turut menceritakan kondisi sekolahnya sebelum mendapat bantuan revitalisasi.


Menurutnya, beberapa ruang kelas sering mengalami kebocoran dan bahkan tergenang air saat hujan turun, sehingga kegiatan belajar mengajar kerap terganggu. Para siswa bahkan harus berpindah tempat belajar ke musala ketika hujan turun di tengah pelajaran.


Kini ia merasa senang karena sekolahnya akan segera diperbaiki melalui program revitalisasi tersebut.


“Harapannya belajarnya lebih nyaman dan tidak takut bocor dan banjir lagi saat hujan,” ujarnya.


Melalui program revitalisasi ini, pemerintah berharap fasilitas pendidikan di wilayah terdampak bencana dapat kembali layak digunakan sehingga proses pembelajaran berjalan lebih optimal dan kualitas pendidikan di daerah tersebut semakin meningkat. (R)

Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Tiga Prajurit TNI Gugur di Misi UNIFIL Lebanon, Presiden Prabowo Beri Penghormatan Terakhir
Perayaan Paskah GBKP Setia Budi Meriah, Diisi Ibadah, Pujian dan Perlombaan
Kredensialing: Strategi Utama Hadirkan Layanan JKN Berkualitas
Pemko Medan Tingkatkan Layanan dan Fasilitas RSUD Dr Pirngadi di Hari Ginjal Sedunia
Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan Diperkuat Jejaring Lintas K/L
Kemendikdasmen Jadi Finalis Top Inovasi Kementerian PAN-RB Lewat Inovasi Verifikasi Data ATS
komentar