Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen) bersama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat pemulihan layanan pendidikan di daerah terdampak bencana melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dan Perjanjian Kerja Sama Teknis.
Penandatanganan kerja sama tersebut berlangsung di Kantor Kemendikdasmen di Jakarta, Kamis, sebagai bagian dari upaya percepatan rehabilitasi dan pembangunan kembali sekolah yang terdampak bencana di berbagai daerah.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah berkontribusi dalam mendukung pemulihan layanan pendidikan di wilayah terdampak bencana.
“Kami mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih, karena situasi di lapangan tidak mudah dan kami percaya bagi teman-teman kami di daerah ini bisa diatasi,” ujar Fajar.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah berharap para murid dan guru di daerah terdampak bencana dapat segera kembali menikmati layanan pendidikan yang baik seperti sebelum terjadinya bencana.
Menurutnya, dari total 4.922 sekolah yang terdampak bencana, seluruh proses pembelajaran saat ini telah kembali berjalan normal.
“Alhamdulillah dari total 4.922 sekolah yang terdapat bencana, semua proses pembelajarannya sudah berjalan normal pada jajaran 100 persen. Mayoritas proses pembelajarannya sudah dilakukan di sekolah asalnya,” ungkapnya.
Meski demikian, sebagian kecil kegiatan belajar mengajar masih dilakukan melalui skema sementara, seperti menggunakan ruang kelas darurat atau menumpang di sekolah lain.
“Sebagian kecil dilakukan di ruang kelas darurat, sisanya juga dilakukan dengan menumpang di sekolah yang lain. Tapi mayoritas itu sudah dilaksanakan di sekolah masing-masing dan 100 persen sudah berjalan normal,” tambahnya.
Dilansir dari laman Kemendikdasmen, Fajar menuturkan bahwa pemerintah terus mendorong percepatan revitalisasi sekolah yang mengalami kerusakan berat akibat bencana agar murid dapat kembali belajar dengan fasilitas yang lebih baik dan aman.
“Tentu dengan upaya percepatan revitalisasi sekolah rusak berat di daerah bencana ini, dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi mudah-mudahan anak-anak yang terkena bencana bisa segera menikmati fasilitas layanan yang bahkan mungkin lebih baik sebelum tertimpa bencana,” tuturnya.
Ia juga menjelaskan bahwa kolaborasi tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan arahan Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik Indonesia agar program revitalisasi pendidikan pada 2026 difokuskan pada tiga prioritas utama, yakni sekolah dengan kondisi rusak berat, sekolah di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta sekolah yang terdampak bencana.
“Bapak Presiden sudah memberikan dukungan kepada Pak Menteri agar revitalisasi di tahun 2026 ini difokuskan pada tiga hal. Pertama, sekolah yang rusak berat. Kedua, di daerah 3T. Ketiga, sekolah-sekolah yang terdampak bencana,” jelasnya.
Lebih lanjut, Fajar menegaskan bahwa rehabilitasi sekolah yang menjadi bagian dari kerja sama ini ditargetkan dapat selesai pada Oktober 2026, sehingga murid dapat kembali belajar dengan fasilitas yang lebih layak.
Sementara itu, Asisten Teritorial TNI AD, Rachmad Zulkarnaen, menyatakan bahwa jajaran TNI AD siap mendukung percepatan rehabilitasi sekolah di wilayah terdampak bencana melalui koordinasi dengan pemerintah daerah serta satuan kewilayahan.
“Penandatangan kontrak dengan Kemendikdasmen nantinya dilanjutkan ke wilayah, dalam hal ini ada Komando Daerah Militer yang berada di tiga provinsi terdampak. Sebelumnya, kami juga sudah berupaya mempercepat pelaksanaan rehabilitasi sekolah ini yang diinisiasi oleh Kepala Staf TNI Angkatan Darat,” ujar Rachmad.
Ia menjelaskan bahwa kerja sama antara Kemendikdasmen dan TNI AD telah berlangsung sejak tahap awal, mulai dari proses survei hingga kesepakatan pelaksanaan pembangunan kembali sekolah yang terdampak bencana.
“Ini bukan hal yang tiba-tiba, tapi kita memang sejak kemarin selalu bekerja sama, mulai dari survei hingga kesepakatan pelaksanaan pembangunan,” jelasnya.
Rachmad berharap percepatan rehabilitasi sekolah tersebut dapat memungkinkan para murid kembali belajar di ruang kelas yang layak pada tahun ajaran baru mendatang.
“Mohon doa agar segera adik-adik kita di sana bisa sama-sama di tahun ajaran baru besok, mereka sudah bisa sekolah di tempat yang layak,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, menjelaskan bahwa bencana hidrometeorologi yang melanda tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, telah menyebabkan kerusakan signifikan pada sarana pendidikan dari jenjang PAUD hingga SMA.
“Berdasarkan laporan verifikasi lapangan, terdapat 3.966 satuan pendidikan dari jenjang PAUD, SD, SMP, dan SMA yang mengalami kerusakan akibat bencana tersebut,” jelasnya.
Menurut Gogot, kondisi tersebut berpotensi menghambat pemenuhan hak peserta didik atas layanan pendidikan yang aman dan berkelanjutan, sehingga negara berkewajiban memastikan pemulihan layanan pendidikan secara cepat, tepat mutu, dan akuntabel.
Ia menambahkan bahwa pelibatan TNI dalam percepatan rehabilitasi sekolah didasarkan pada sejumlah pertimbangan strategis, antara lain kebutuhan percepatan dalam kondisi darurat, kemampuan mobilisasi sumber daya dan logistik di wilayah sulit dijangkau, kapasitas rekayasa lapangan dan dukungan konstruksi darurat, serta penguatan ketahanan layanan publik strategis seperti pendidikan.
“Melalui kerja sama dengan TNI, kita akan melaksanakan rehabilitasi pada 267 satuan pendidikan dengan kategori rusak berat dan yang memerlukan relokasi,” pungkasnya. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
komentar