Senin, 06 April 2026

Pemanfaatan Al-Qur’an Berbahasa Isyarat sebagai Praktik Baik Pendidikan Inklusif

GY Simanjuntak MSi - Sabtu, 07 Maret 2026 11:12 WIB
Pemanfaatan Al-Qur’an Berbahasa Isyarat sebagai Praktik Baik Pendidikan Inklusif
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq menyampaikan sambutan pada kegiatan Training of Trainer (ToT) Qur’an Isyarat di Jakarta, Selasa (3/3/2026). (Dok/Kemendikdasmen)

Jakarta (buseronline.com) - Implementasi Training of Trainer Al-Qur’an Isyarat (ToT) yang digelar sejak September 2025 mulai menunjukkan dampak positif dalam penguatan pendidikan inklusif, khususnya bagi peserta didik penyandang disabilitas tunarungu.


Program ini melahirkan sejumlah pengajar yang mampu mengajarkan Al-Qur’an melalui bahasa isyarat, sehingga membuka akses pembelajaran agama yang lebih inklusif dan mudah dipahami.


Berbagai praktik baik hasil pelatihan tersebut telah diterapkan di sejumlah sekolah luar biasa (SLB), mulai dari pemanfaatan Al-Qur’an berbahasa isyarat dalam proses pembelajaran, penguatan literasi keagamaan siswa, hingga pelibatan wali murid dalam proses belajar di rumah.

Baca Juga:

Salah satu praktik baik diungkapkan oleh Bukhori, guru di SLB Negeri 7 Jakarta. Ia mengaku mendapatkan banyak wawasan baru setelah mengikuti pelatihan tersebut, terutama mengenai metode membaca Al-Qur’an yang dirancang khusus bagi penyandang disabilitas tunarungu.


“Puji syukur melalui kegiatan ini saya mendapatkan pengalaman berharga. Ternyata ada Al-Qur’an yang memang dikhususkan untuk penyandang disabilitas tunarungu. Murid-murid kami juga sangat antusias karena selama ini mereka belum memahami metode membaca Al-Qur’an yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujar Bukhori.

Baca Juga:

Sebagai bentuk pengembangan implementasi pembelajaran, Bukhori menuturkan bahwa pihak sekolah juga aktif melibatkan orang tua murid untuk mempelajari Al-Qur’an berbahasa isyarat. Menurutnya, dukungan keluarga sangat penting agar proses pembelajaran agama tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga berlanjut di lingkungan rumah.


“Sangat penting bagi orang tua murid untuk memahami Al-Qur’an Isyarat. Dengan begitu, pembelajaran agama di rumah juga dapat berjalan dengan baik. Kami ingin pemahaman ini menyentuh sisi emosional dan spiritual baik bagi murid maupun orang tuanya,” tambahnya.


Praktik serupa juga diterapkan di SLB Negeri 3 Jakarta. Guru di sekolah tersebut, Wita Panca Dewi Annisa, menyebut bahwa metode Al-Qur’an isyarat membawa perubahan signifikan dalam pembelajaran pendidikan agama bagi siswa tunarungu.


Menurut Wita, sebelumnya para guru hanya menggunakan bahasa isyarat sehari-hari yang diterjemahkan secara mandiri untuk menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an. Namun setelah mengikuti ToT Al-Qur’an Isyarat, para guru memiliki metode yang lebih sistematis dan mudah dipahami oleh peserta didik.


“Sebelumnya kami hanya menggunakan bahasa isyarat sehari-hari yang diterjemahkan secara mandiri ke bahasa Al-Qur’an. Setelah mengikuti kegiatan ToT Al-Qur’an Isyarat, kini kami memiliki keterampilan baru untuk mengajarkan mereka dengan bahasa yang lebih sistematis dan mudah dipahami,” jelas Wita.


Ia menambahkan, metode Al-Qur’an Isyarat kini telah diintegrasikan dalam kegiatan Pembiasaan Pagi di sekolah. Para siswa diajak membaca ayat-ayat pendek dan doa harian menggunakan bahasa isyarat, dimulai dari pengenalan huruf hijaiyah bagi siswa tingkat SD hingga hafalan surat-surat pendek untuk jenjang SMP dan SMA.


Dampak positif program ini juga dirasakan oleh siswa. Salah satunya adalah Nadia Aulia Safira, siswi kelas IX SLB Negeri 3 Jakarta. Setelah mengikuti program tersebut, Nadia menunjukkan antusiasme tinggi dalam mempelajari Al-Qur’an berbahasa isyarat, terutama selama bulan Ramadan.


Ia bahkan secara mandiri mempraktikkan bacaan Al-Qur’an isyarat setiap selesai salat Subuh tanpa harus diminta oleh orang tua maupun guru. Selain itu, Nadia juga aktif membantu teman-teman sekelasnya dalam mempelajari huruf hijaiyah dan doa harian menggunakan bahasa isyarat.


“Nadia adalah anak yang mandiri dan peduli. Di kelas, dia sering membantu teman-temannya saat belajar hijaiyah atau membaca doa bersama,” ungkap Wita.


Menanggapi berbagai praktik baik tersebut, dilansir dari laman Kemendikdasmen, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa pelaksanaan ToT Al-Qur’an Isyarat merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam memenuhi hak pendidikan bagi penyandang disabilitas, sekaligus sejalan dengan prinsip-prinsip dalam Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas.


“Melalui ToT Al-Qur’an Isyarat ini, saya berharap para lulusan pelatihan akan menjadi Mujahid Literasi yang membawa semangat pencerahan serta menciptakan lingkungan pendidikan yang ramah bagi seluruh penyandang disabilitas di Indonesia,” ujar Fajar di Jakarta, Selasa.


Program ini diharapkan dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak sekolah inklusif di berbagai daerah, sehingga seluruh peserta didik, termasuk penyandang disabilitas, memiliki kesempatan yang sama untuk memahami dan mempelajari Al-Qur’an secara lebih mudah dan bermakna. (R)

Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Tiga Prajurit TNI Gugur di Misi UNIFIL Lebanon, Presiden Prabowo Beri Penghormatan Terakhir
Perayaan Paskah GBKP Setia Budi Meriah, Diisi Ibadah, Pujian dan Perlombaan
Kredensialing: Strategi Utama Hadirkan Layanan JKN Berkualitas
Pemko Medan Tingkatkan Layanan dan Fasilitas RSUD Dr Pirngadi di Hari Ginjal Sedunia
Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan Diperkuat Jejaring Lintas K/L
Kemendikdasmen Jadi Finalis Top Inovasi Kementerian PAN-RB Lewat Inovasi Verifikasi Data ATS
komentar