Minggu, 31 Mei 2026

Pendidikan Bermutu Dimulai dari Budaya Sekolah yang Aman dan Nyaman

Sabtu, 14 Februari 2026 09:00 WIB
Pendidikan Bermutu Dimulai dari Budaya Sekolah yang Aman dan Nyaman
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu ti menyampaikan arahan pada Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2026 di Depok, Selasa (10/2/2026). (Dok/Diktisaintek)
Depok (buseronline.com) - Budaya sekolah aman dan nyaman menjadi fondasi utama dalam menciptakan pendidikan bermutu di Indonesia. Konsep ini membangun ekosistem belajar melalui nilai, sikap, dan kebiasaan bersama yang menjamin keamanan fisik, psikologis, sosial, spiritual, dan digital seluruh warga sekolah. Lingkungan belajar yang aman dan nyaman diyakini dapat mendorong perkembangan peserta didik secara utuh.

Komitmen tersebut ditegaskan melalui Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, yang menekankan pencegahan perundungan (bullying) dan kekerasan di satuan pendidikan.

Regulasi ini juga mendorong pendekatan humanis, partisipatif, dan inklusif dalam pengelolaan sekolah, menjadikan keamanan dan kenyamanan warga sekolah sebagai prasyarat utama pendidikan berkualitas.

Dalam Konsolidasi Nasional (Konsolnas) Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2026, Kemendikdasmen menegaskan kembali arah kebijakan ini. Kegiatan yang diikuti pemerintah pusat, daerah, mitra pendidikan, dan pemangku kebijakan, menjadi forum sinergi untuk menjawab tantangan pendidikan di era modern.

Dilansir dari laman Diktisaintek, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan, “Selain peningkatan kualitas pembelajaran, kami juga menerapkan kebijakan yang berkaitan dengan penguatan bimbingan konseling sebagai bagian dari upaya memperkuat pendidikan karakter di satuan pendidikan,” ujarnya, Selasa.

Penerapan budaya sekolah aman dan nyaman dirasakan langsung oleh pendidik dan siswa. Azela, Guru Seni Budaya SMP Negeri 23 Kota Tangerang Selatan, mengatakan, “Budaya sekolah aman dan nyaman sangat memengaruhi efektivitas pembelajaran, karena suasana belajar menjadi lebih kondusif, inklusif, dan siswa tidak takut berinteraksi dengan teman-temannya.”

Liza Neshali Aini, siswa SMP Negeri 142 Jakarta Barat, menambahkan bahwa lingkungan sekolah yang aman mendorong keberanian siswa untuk berpartisipasi aktif dan melaporkan masalah yang terjadi di sekolah.

“Kami sangat berani melapor jika ada perundungan, karena ingin menjadi pelopor dan pelapor di sekolah,” ujarnya.

Selain itu, dilansir dari laman Diktisaintek, program-program seperti Senam Anak Indonesia Hebat (SAIH) dan gerakan Rukun sama Teman turut memperkuat hubungan sosial antar siswa, menciptakan iklim belajar yang harmonis dan bebas perundungan.

Peningkatan sarana dan prasarana sekolah juga mendukung terciptanya lingkungan belajar aman dan nyaman. David Goverlevernabau, siswa SMA Eben Haezar Manado, menyampaikan, “Dengan adanya revitalisasi ruang pembelajaran dan digitalisasi, kami sekarang menggunakan Interactive Flat Panel (IFP) sehingga proses belajar menjadi lebih digital dan nyaman.”

Melalui penguatan kebijakan, pendampingan bimbingan konseling, peningkatan kapasitas pendidik, serta perbaikan sarana dan prasarana pembelajaran, Kemendikdasmen berkomitmen memperkuat budaya sekolah aman dan nyaman sebagai fondasi pendidikan bermutu.

Upaya ini diharapkan mewujudkan satuan pendidikan yang inklusif, partisipatif, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik secara optimal di seluruh Indonesia. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Polrestabes Medan Ungkap 136 Kendaraan Diduga Hasil Kejahatan Disimpan di 8 Gudang
Pemprov Sumut Catat Kemajuan Signifikan Sektor Kesehatan Sepanjang 2025
Kasus Whip Pink Diusut, Bareskrim Bidik Konsumen Gas N2O dari Kalangan Selebgram
Mendikdasmen Tinjau Persiapan Sekolah Terintegrasi di Teluk Bintuni
Menag Ajak Umat Buddha Jadikan Waisak Momentum Menjaga Perdamaian Dunia
PSG Juara Liga Champions 2025/2026 Setelah Tundukkan Arsenal Lewat Adu Penalti
komentar
beritaTerbaru