Minggu, 24 Mei 2026

Pemulihan Pascabencana Sumatera 2025 Diperkuat Lewat Konsorsium PTN, Dorongan Dirjen Risbang

Senin, 19 Januari 2026 09:12 WIB
Pemulihan Pascabencana Sumatera 2025 Diperkuat Lewat Konsorsium PTN, Dorongan Dirjen Risbang
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Fauzan Adziman (tengah) bersama pimpinan Kemdiktisaintek, MRPTNI, dan perwakilan perguruan tinggi negeri berfoto bersama usai Rapat Koordinasi Pembentukan Konsorsium Perguruan Tinggi untuk Penangana

Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) menggelar Rapat Koordinasi Pembentukan Konsorsium Perguruan Tinggi untuk Penanganan Pascabencana Alam Sumatera 2025. Kegiatan tersebut berlangsung di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, Rabu.


Rapat koordinasi ini menjadi langkah awal penguatan kolaborasi lintas perguruan tinggi dalam memasuki fase pemulihan pascabencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Fokus utama konsorsium diarahkan pada percepatan pemulihan kehidupan masyarakat terdampak melalui kontribusi pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat.


Dilansir dari laman Diktisaintek, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, dalam arahannya menegaskan bahwa pembentukan konsorsium perguruan tinggi merupakan kebutuhan mendesak agar seluruh potensi akademik dapat digerakkan secara terintegrasi dan memberikan dampak nyata.


“Bencana yang terjadi di Sumatera tidak bisa ditangani secara parsial. Kita membutuhkan konsorsium agar kepakaran, riset, dan sumber daya perguruan tinggi dapat bergerak secara terkoordinasi, terarah, dan tepat sasaran,” ujar Fauzan.


Ia menjelaskan, pemerintah saat ini tengah menyiapkan kerangka pemulihan dan rekonstruksi nasional melalui pembentukan satuan kerja khusus sesuai dengan keputusan presiden. Kebutuhan anggaran pemulihan diperkirakan mencapai Rp60 T yang akan dialokasikan berdasarkan rencana aksi yang terukur serta penguatan ekosistem akademik nasional.


Dalam konteks tersebut, pemetaan wilayah kritis terdampak bencana, pengorganisasian kepakaran, serta penguatan basis data ahli kebencanaan dari perguruan tinggi dinilai menjadi langkah krusial. Fauzan menyebutkan, saat ini telah terdata puluhan pakar kebencanaan dari berbagai kampus yang siap diterjunkan ke lapangan.


“Konsorsium ini akan membantu kami dalam mendelegasikan para pakar tersebut sesuai dengan kebutuhan di lapangan,” tegasnya.


Pada kesempatan itu, Dirjen Fauzan juga memperkenalkan program “Mahasiswa Berdampak” yang mengintegrasikan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan pendanaan proposal mahasiswa agar terlibat langsung dalam proses pemulihan di daerah terdampak bencana.


Program ini disiapkan dengan total anggaran sekitar Rp18 M hingga Rp20 M untuk mendukung 150 proposal mahasiswa, dengan pendanaan maksimal Rp120 juta per proposal.


Selain aspek teknis dan akademik, Fauzan menekankan pentingnya komunikasi publik yang efektif dalam proses pemulihan pascabencana. Menurutnya, peran media nasional dan konten edukasi sangat dibutuhkan agar proses pemulihan dapat dipahami serta didukung secara luas oleh masyarakat.


Sejalan dengan hal tersebut, Sekretaris Jenderal MRPTNI, Muryanto Amin, menyampaikan bahwa pembentukan konsorsium ini merupakan tindak lanjut dari berbagai diskusi yang telah dilakukan oleh para pimpinan perguruan tinggi negeri.


“Kami ingin memastikan kerja perguruan tinggi dalam penanganan pascabencana memiliki acuan bersama. Diperlukan rule book, komitmen, dan pembagian peran yang jelas agar upaya pemulihan dapat berjalan lebih cepat dan efektif,” ungkapnya.


Sebagai tuan rumah kegiatan, Rektor Universitas Indonesia, Heri Hermansyah, menyatakan komitmen UI dalam mendukung penanganan bencana melalui berbagai program yang telah dijalankan secara berkelanjutan.


“Selama lebih dari satu dekade, Universitas Indonesia terlibat aktif dalam respons kebencanaan melalui program UI Peduli. Pengalaman tersebut kami bawa untuk memperkuat kerja konsorsium, khususnya di bidang kesehatan, teknik, dan sosial,” ujarnya.


Heri juga menyoroti pentingnya menjaga keberlanjutan pendidikan bagi masyarakat terdampak bencana, termasuk kemudahan akses dan pendampingan administrasi pendidikan bagi peserta didik.


“Pemulihan tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga memastikan anak-anak dan generasi muda tetap dapat melanjutkan pendidikan mereka dengan baik,” katanya.


Melalui pembentukan konsorsium yang dihadiri oleh para rektor, wakil rektor, serta penanggung jawab dari sejumlah perguruan tinggi negeri anggota MRPTNI tersebut, Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya untuk memperkuat sinergi perguruan tinggi sebagai pusat solusi berbasis riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat. Sinergi ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam percepatan pemulihan pascabencana alam di wilayah Sumatera. (R)

Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Kementan Pacu Gerakan Tanam Serentak 50 Ribu Hektare di 25 Provinsi
KPK Luncurkan Program “Desa Matang Pengadaan” untuk Perkuat Pencegahan Korupsi Dana Desa
PSEL Medan Raya Ditargetkan Groundbreaking 2026, Olah hingga 1.700 Ton Sampah per Hari
Kemendikdasmen Gelar Komitmen Bersama SPMB Ramah 2026/2027, Tekankan Akses Pendidikan Tanpa Diskriminasi
Pemprov Jateng Pastikan Kesehatan Hewan Kurban Idul Adha 2026, Populasi Ternak Diproyeksikan Surplus
Pemprov Sumut Perluas Kerja Sama dengan Jepang untuk Penguatan SDM dan Tenaga Kerja
komentar
beritaTerbaru