Minggu, 24 Mei 2026

Cegah Kekerasan Seksual di Sekolah, Pakar Universitas Sydney Kenalkan Konsep “Listen to Know”

Sabtu, 17 Januari 2026 11:08 WIB
Cegah Kekerasan Seksual di Sekolah, Pakar Universitas Sydney Kenalkan Konsep “Listen to Know”
Pakar Universitas Sydney Victoria Rawlings (kiri) menyerahkan cenderamata kepada perwakilan Dinas Pendidikan Jawa Barat usai Lokakarya Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Hotel Grand Tjokro, Kota Bandung, Rabu (14/1/2026). (Dok/Humas Jabar)
Bandung (buseronline.com) - Kekerasan seksual pada remaja usia sekolah menjadi isu serius yang kerap diabaikan. Profesor sekaligus pengajar bidang gender, seksualitas, dan pendidikan Universitas Sydney, Victoria Rawlings, menekankan pentingnya perhatian khusus terhadap masalah ini.

“Kekerasan seksual tidak dipandang seperti kebakaran yang harus segera ditangani. Akibatnya, isu ini kurang mendapat perhatian, padahal kekerasan seksual merupakan produk dari kondisi yang dibiarkan,” ujar Victoria, yang akrab disapa Vic, dalam Lokakarya Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Hotel Grand Tjokro Bandung, Rabu.

Vic menjelaskan, pencegahan harus dimulai dari pembentukan iklim sosial-budaya dan lembaga yang peduli terhadap isu kekerasan seksual. Di lingkungan sekolah, guru yang tergabung dalam Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) didorong untuk menerapkan prinsip listen to know, yakni mendengarkan secara sungguh-sungguh apa yang disampaikan peserta didik.

“Ketika murid berani melapor kepada guru, itu sesuatu yang luar biasa karena jarang terjadi. Saat anak terbuka dengan kondisinya, tugas kita adalah terus mendukung dan memberi ruang bagi siswa untuk berbicara,” tambahnya.

Menurut Vic, dukungan menjadi hal utama yang dibutuhkan siswa dari guru. “Jangan langsung berpikir untuk menyelesaikan masalahnya, tetapi tawarkan dulu kepedulian, kasih, dan pemahaman. Ketika seorang anak menceritakan lukanya kepada ibu guru, itu tanda ia percaya,” ujarnya.

Lokakarya ini digelar bekerja sama dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat, dengan tujuan mendorong sekolah mampu memahami dan menangani kasus kekerasan seksual dengan lebih baik.

Dilansir dari laman Humas Jabar, Sekretaris Dinas Pendidikan Jabar, Deden Saepul Hidayat, menyebut kekerasan seksual pada remaja sebagai fenomena gunung es. Ia mengajak satuan pendidikan menjadikan sekolah sebagai ruang aman dan ramah bagi anak.

“Regulasi sudah kuat, ada Permendikbud dan Tim TPPK. Tinggal terus mengupayakan advokasi serta edukasi pendidikan seksual sejak dini,” jelas Deden. Ia menegaskan bahwa pencegahan kekerasan seksual menjadi tanggung jawab bersama antara orang tua, keluarga, dan lingkungan.

“Selama dua hari ke depan, mari kita rumuskan langkah-langkah konkret yang dapat diterapkan di seluruh satuan pendidikan di Jawa Barat,” tegasnya.

Lokakarya yang diikuti 42 kepala sekolah, guru dari 24 SMA, serta beberapa pengawas sekolah di Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII ini berlangsung pada 14–15 Januari 2026, dan menjadi upaya nyata memperkuat penanganan dan pencegahan kekerasan seksual di sekolah. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Kementan Pacu Gerakan Tanam Serentak 50 Ribu Hektare di 25 Provinsi
KPK Luncurkan Program “Desa Matang Pengadaan” untuk Perkuat Pencegahan Korupsi Dana Desa
PSEL Medan Raya Ditargetkan Groundbreaking 2026, Olah hingga 1.700 Ton Sampah per Hari
Kemendikdasmen Gelar Komitmen Bersama SPMB Ramah 2026/2027, Tekankan Akses Pendidikan Tanpa Diskriminasi
Pemprov Jateng Pastikan Kesehatan Hewan Kurban Idul Adha 2026, Populasi Ternak Diproyeksikan Surplus
Pemprov Sumut Perluas Kerja Sama dengan Jepang untuk Penguatan SDM dan Tenaga Kerja
komentar
beritaTerbaru