Selasa, 07 April 2026

Sains Ungkap Peran Interaksi Keluarga dalam Membangun Kecerdasan Anak

Senin, 05 Januari 2026 09:12 WIB
Sains Ungkap Peran Interaksi Keluarga dalam Membangun Kecerdasan Anak
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menyampaikan paparan pada Seminar Natal Nasional 2025 di Sekolah Tinggi Filsafat Theologi, Jakarta, Sabtu (3/1/2026). (Dok/Diktisaintek)

Jakarta (buseronline.com) - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menegaskan bahwa interaksi langsung dalam keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun kecerdasan, karakter, serta kapasitas belajar anak.


Penegasan tersebut disampaikan dalam paparannya pada Seminar Natal Nasional 2025 yang digelar di Sekolah Tinggi Filsafat Theologi, Sabtu.


Dalam kesempatan tersebut, dilansir dari laman Diktisaintek, Wamen Stella menyoroti tantangan besar yang dihadapi keluarga, khususnya di wilayah metropolitan, yakni semakin dominannya penggunaan gawai yang menggerus waktu kebersamaan dan interaksi berkualitas antaranggota keluarga, terutama saat makan bersama.


Mengutip data statistik terbaru, Wamendiktisaintek mengungkapkan bahwa rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan waktu sekitar tiga jam delapan menit per hari untuk media sosial.


Angka tersebut meningkat hingga tujuh jam jika digabungkan dengan penggunaan internet secara umum. Bahkan, pada generasi Z, durasi penggunaan media sosial mencapai sekitar empat jam per hari.


“Banyak waktu kita, bahkan saat makan malam, dihabiskan masing-masing dengan layar. Padahal, makan malam adalah momen krusial, karena pada saat itu tidak ada alasan anak sedang sekolah atau orang tua bekerja di luar rumah,” ujar Stella Christie.


Ia menekankan bahwa momen makan bersama seharusnya menjadi ruang utama terjadinya komunikasi, pertukaran cerita, serta penanaman nilai-nilai keluarga yang tidak tergantikan oleh teknologi digital.


Lebih lanjut, Wamen Stella memaparkan bukti ilmiah dari eksperimen Profesor DeLoach terkait efektivitas pembelajaran pada anak usia dini. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa balita yang mempelajari kosa kata baru melalui interaksi langsung dengan orang tua memiliki kemampuan bahasa yang jauh lebih baik dibandingkan anak yang belajar melalui video edukasi, meskipun video tersebut ditonton bersama orang tua.


“Ada fenomena yang dikenal sebagai 10 ribu word gap pada usia lima tahun. Anak yang jarang berbincang dengan orang tuanya memiliki kosa kata yang lebih rendah, dan hal ini secara langsung memprediksi kemampuan belajar mereka di sekolah pada masa depan,” jelasnya.


Menurut Stella, kemampuan berbahasa bukan sekadar soal jumlah kata yang dikuasai, melainkan juga berkaitan erat dengan kemampuan berpikir, memahami konsep, serta membangun relasi sosial yang sehat.


Selain aspek bahasa, Wamen Stella juga menekankan pentingnya menumbuhkan rasa ingin tahu atau curiosity pada anak melalui proses tanya jawab yang berkualitas.


Ia mendorong para orang tua untuk tidak sekadar memberikan jawaban singkat, tetapi menjelaskan dengan cara yang membangun struktur berpikir dan membuka ruang diskusi.


“Bertanya dan menjawab adalah bentuk active learning. Jika anak hanya dibiarkan dengan gawai, mereka kehilangan kesempatan untuk belajar secara aktif, karena gawai tidak mampu memberikan umpan balik langsung terhadap rasa penasaran mereka,” tambahnya.


Menurutnya, interaksi dua arah antara orang tua dan anak menjadi kunci dalam membentuk pola pikir kritis, empati, serta kemampuan memecahkan masalah sejak usia dini.


Menutup paparannya, Wamen Stella mengingatkan bahwa esensi keluarga terletak pada penanaman nilai-nilai kemanusiaan dan penciptaan kenangan yang membahagiakan.


Ia mengingatkan bahwa apabila komunikasi di meja makan tergantikan oleh layar gawai, maka nilai-nilai yang diserap anak bukan lagi berasal dari orang tua, melainkan dari algoritma kecerdasan buatan dan arus media sosial.


“Keluarga adalah jangkar kemanusiaan. Kita adalah makhluk sosial yang dianugerahi kemampuan untuk bertukar pikiran. Jangan sampai kita menghilangkan anugerah tersebut. Mari kita mulai dari hal sederhana: makan bersama dan berbicara tanpa gawai,” tegas Stella Christie.


Pemaparan tersebut menjadi pengingat penting bahwa di tengah kemajuan teknologi dan digitalisasi, peran keluarga sebagai ruang pendidikan pertama dan utama tetap tidak tergantikan dalam membangun generasi yang cerdas, berkarakter, dan berkepribadian utuh. (R)

Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Real Oviedo Raih Kemenangan Penting, Tundukkan Sevilla 1-0 di La Liga
Timnas Futsal Indonesia Bantai Brunei 7-0 di Laga Pembuka Piala AFF Futsal 2026
Bripda Petra Sihombing Raih Emas di KASAL Cup V 2026
Timnas Indoor Skydiving Indonesia Siap Tampil di World Cup Lille 2026
Irwil V Itwasum Polri Tinjau Mapolsek Kamuu Pasca Penyerangan OTK
Dirkamsel Korlantas Tekankan Integritas dan Ketelitian dalam Apel Pagi NTMC
komentar
beritaTerbaru