Selasa, 07 April 2026

Kemdiktisaintek Himpun Aspirasi Perguruan Tinggi lewat Forum Dialog Risbang Akhir Tahun 2025

Sabtu, 03 Januari 2026 09:12 WIB
Kemdiktisaintek Himpun Aspirasi Perguruan Tinggi lewat Forum Dialog Risbang Akhir Tahun 2025
Pemaparan capaian pendanaan dan sebaran riset Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Tahun Anggaran 2025 dalam Forum Dialog Risbang Akhir Tahun 2025 yang digelar secara daring, Rabu (31/12/2025). (Dok/Diktisaintek)

Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) menghimpun berbagai aspirasi dari perguruan tinggi guna memperkuat kualitas layanan, tata kelola program, serta mempercepat pelaksanaan riset pada Tahun Anggaran 2026. Upaya tersebut dilakukan melalui Forum Dialog Risbang Akhir Tahun 2025 yang digelar secara daring, Rabu.


Forum ini diikuti lebih dari 2.700 peserta yang terdiri atas pimpinan perguruan tinggi, dosen dan peneliti, pengelola riset, Kepala LLDIKTI Wilayah I–XVII, serta jejaring akademik di luar negeri (diaspora).


Dilansir dari laman Diktisaintek, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto dalam arahannya menegaskan bahwa keberhasilan riset dan pengembangan membutuhkan kolaborasi yang erat antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, serta pemangku kepentingan lainnya.


Sinergi lintas sektor tersebut dinilai menjadi kunci agar hasil riset semakin berdampak bagi masyarakat dan berkontribusi nyata terhadap penguatan daya saing nasional.


Membuka forum, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Fauzan Adziman menegaskan bahwa Forum Dialog Risbang Akhir Tahun dirancang sebagai ruang komunikasi dua arah antara kementerian dan perguruan tinggi.


“Forum ini memang kami desain sebagai dialog dua arah. Kami ingin lebih banyak mendengarkan masukan dari perguruan tinggi, apa kendalanya, apa yang perlu disederhanakan, serta pengalaman di lapangan, agar menjadi dasar perbaikan kebijakan dan layanan ke depan,” ujar Fauzan.


Dalam paparannya, Fauzan juga menyampaikan konteks daya saing inovasi Indonesia sekaligus capaian Ditjen Risbang sepanjang Tahun Anggaran 2025. Meski peringkat Indonesia pada Global Innovation Index (GII) turun satu tingkat secara keseluruhan, kinerja pada aspek innovation output justru menunjukkan penguatan.


Indonesia tercatat naik delapan peringkat, dari posisi 67 ke 59 dari 135 negara, serta dikategorikan sebagai innovation overperformer, yakni negara dengan kinerja inovasi yang melampaui tingkat perkembangan ekonominya.


“Capaian ini menunjukkan bahwa riset kita semakin produktif dan berdampak. Tantangan ke depan adalah memperkuat innovation input, termasuk pendanaan riset dan kontribusi industri, agar ekosistem inovasi semakin seimbang,” jelasnya.


Sepanjang 2025, Ditjen Risbang mencatat penyaluran pendanaan riset sekitar Rp2 T, dengan komposisi 51 persen untuk perguruan tinggi negeri (PTN) dan 49 persen untuk perguruan tinggi swasta (PTS).


Pendanaan tersebut diarahkan untuk mendukung program prioritas nasional serta delapan industri strategis, yakni pangan, energi, kesehatan, maritim, pertahanan dan ketahanan bencana, digitalisasi, manufaktur dan material maju, serta hilirisasi dan industrialisasi.


Selain itu, Ditjen Risbang mendanai 16.836 kegiatan riset dan 6.340 kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Upaya hilirisasi juga didorong melalui 796 produk riset dan 929 kerja sama dengan 624 mitra industri, termasuk kemitraan internasional dengan Australia, Belanda, Prancis, dan Inggris. Porsi riset yang didanai di PTS meningkat dari 52,6 persen pada 2024 menjadi 62,2 persen pada 2025.


Dari sisi tata kelola, serapan anggaran Ditjen Risbang mencapai 96,6 persen atau 97,8 persen setelah penyesuaian blokir anggaran. Ditjen Risbang juga terlibat aktif dalam penanganan bencana di Sumatera melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Tanggap Darurat Bencana dengan melibatkan sekitar 3.000 tenaga medis, tenaga kesehatan, dan relawan dari perguruan tinggi.


Sejumlah indikator kinerja lainnya juga melampaui target, antara lain pemetaan Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUIPT) yang mencapai 84 lembaga dari target 78, peningkatan dampak publikasi internasional dengan rasio sitasi 1,89 dan h-index 349, serta capaian paten granted sebanyak 18.006 dari target 17.500. Penerimaan Science Techno Park (STP) juga tercatat mencapai Rp93,8 M dari target Rp50 M dan masih dalam proses verifikasi.


Dalam forum tersebut, Ditjen Risbang turut memaparkan hasil Survei Evaluasi Program Risbang Tahun 2025 yang diikuti sekitar 5.942 responden dari kalangan dosen, peneliti, dan pejabat struktural perguruan tinggi. Survei ini menjadi rujukan utama dalam penyempurnaan kebijakan dan layanan program riset pada tahun berikutnya.


Berbagai aspirasi yang dihimpun dari peserta forum menitikberatkan pada peningkatan kemudahan layanan dan kualitas proses, antara lain terkait transparansi penilaian proposal dan umpan balik reviewer, penyederhanaan administrasi, percepatan digitalisasi dan pencairan dana, penguatan akses jurnal dan basis data ilmiah, serta penataan timeline pendanaan dan luaran agar lebih realistis.


Sejumlah pimpinan unit kerja Ditjen Risbang juga menegaskan komitmen perbaikan berkelanjutan. Sekretaris Ditjen Risbang Junaidi Khotib menyebut forum ini sebagai momentum untuk menghimpun gagasan konstruktif sekaligus memperkuat tanggung jawab bersama antara kementerian dan perguruan tinggi dalam membangun iklim riset yang sehat.


Sementara itu, Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat I Ketut Adnyana menegaskan pembenahan proses bisnis layanan akan terus dilakukan secara bertahap berbasis evaluasi dan praktik baik.


Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Yos Sunitiyoso menyampaikan bahwa skema hilirisasi dan kemitraan akan terus disempurnakan, termasuk percepatan proses reviu dan penguatan kontribusi pendanaan mitra pada 2026 agar kolaborasi lebih berkelanjutan.


Direktur Bina Talenta Heri Kuswanto menambahkan, pembinaan talenta riset akan diperluas melalui skema yang lebih tersegmentasi, mulai dari dosen muda hingga peneliti mapan, guna meningkatkan daya saing global dan menjembatani hilirisasi serta komersialisasi riset.


Melalui Forum Dialog Risbang Akhir Tahun 2025, Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat peran riset dan inovasi sebagai penggerak pembangunan nasional yang berkelanjutan, inklusif, dan berdampak nyata bagi masyarakat. (R)

Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Real Oviedo Raih Kemenangan Penting, Tundukkan Sevilla 1-0 di La Liga
Timnas Futsal Indonesia Bantai Brunei 7-0 di Laga Pembuka Piala AFF Futsal 2026
Bripda Petra Sihombing Raih Emas di KASAL Cup V 2026
Timnas Indoor Skydiving Indonesia Siap Tampil di World Cup Lille 2026
Irwil V Itwasum Polri Tinjau Mapolsek Kamuu Pasca Penyerangan OTK
Dirkamsel Korlantas Tekankan Integritas dan Ketelitian dalam Apel Pagi NTMC
komentar
beritaTerbaru