Selasa, 07 April 2026

Bangun Ekosistem Riset Secara Kolaboratif, Mendiktisaintek Dorong Forum Dialog untuk Perbaikan Berkelanjutan

Jumat, 02 Januari 2026 11:14 WIB
Bangun Ekosistem Riset Secara Kolaboratif, Mendiktisaintek Dorong Forum Dialog untuk Perbaikan Berkelanjutan
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyampaikan arahan secara daring pada Forum Dialog Risbang Akhir Tahun 2025 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang), Jakarta, Rabu (
Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ekosistem riset perguruan tinggi agar semakin berdampak bagi masyarakat serta meningkatkan daya saing bangsa.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto dalam Forum Dialog Riset dan Pengembangan (Risbang) Akhir Tahun 2025 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang), Rabu.

Dalam arahannya, Mendiktisaintek menekankan bahwa penguatan ekosistem riset tidak dapat dilakukan secara parsial atau hanya oleh pemerintah pusat.

Menurutnya, keberhasilan riset nasional sangat bergantung pada keterlibatan seluruh pemangku kepentingan dalam satu ekosistem yang saling terhubung dan berkolaborasi.

“Perbaikan ekosistem riset tidak dapat dilakukan dari pusat saja, melainkan harus dibangun bersama oleh seluruh simpul ekosistem: perguruan tinggi, LLDIKTI, industri, pemerintah daerah, serta mitra strategis lainnya,” ujar Brian.

Ia menjelaskan bahwa Forum Dialog Risbang Akhir Tahun dirancang sebagai ruang komunikasi dua arah antara pemerintah dan pelaku riset. Melalui forum ini, masukan, saran, serta kendala yang dihadapi para peneliti di lapangan diharapkan dapat menjadi dasar perbaikan kebijakan riset secara berkelanjutan.

Dilansir dari laman Diktisaintek, Mendiktisaintek juga menegaskan arah besar pembangunan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi melalui kebijakan Diktisaintek Berdampak.

Dalam kerangka tersebut, riset harus memiliki kualitas akademik yang kuat dan berkelas dunia, sekaligus mampu menjawab persoalan nyata masyarakat serta selaras dengan prioritas pembangunan nasional.

“Riset kita harus kuat dan berkelas dunia. Kita tidak perlu ragu bersaing dengan riset negara lain. Dengan kolaborasi dan kerja sama yang solid, capaian ilmiah berkualitas tinggi dapat terus ditingkatkan dan ditularkan ke lebih banyak peneliti,” kata Brian.

Selain kualitas ilmiah, ia juga menekankan pentingnya kesinambungan riset hingga tahap hilirisasi. Menurutnya, riset dasar dan hilirisasi bukanlah dua hal yang saling dipertentangkan, melainkan harus berjalan beriringan, dengan fondasi keilmuan yang kuat serta orientasi pada pemanfaatan dan nilai tambah.

Sementara itu, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Fauzan Adziman, bersama jajaran pimpinan Ditjen Risbang, memaparkan capaian kinerja riset sepanjang tahun 2025 serta rencana implementasi program dan kebijakan riset tahun 2026 sebagai pembuka forum dialog.

“Ditjen Risbang memfokuskan penelitian pada penyelesaian tantangan nasional. Pada tahun 2026, kami akan melaksanakan Program Riset Prioritas yang didanai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta Program Riset Strategis bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP),” ujar Fauzan.

Untuk mengoptimalkan pelaksanaan riset pada 2026, Ditjen Risbang menyiapkan sejumlah strategi percepatan. Salah satunya dengan membuka penerimaan proposal penelitian lebih awal.

“Call for proposal sudah dibuka sejak Oktober 2025, sehingga diharapkan riset dapat dimulai lebih awal dan periode pelaksanaannya menjadi lebih optimal,” jelasnya.

Dalam forum tersebut, Ditjen Risbang juga memaparkan hasil Survei Evaluasi Program Risbang Tahun 2025 yang melibatkan sekitar 6.400 responden dari kalangan dosen, peneliti, serta pejabat struktural perguruan tinggi. Hasil survei ini menjadi salah satu bahan evaluasi untuk peningkatan kualitas kebijakan dan layanan riset ke depan.

Terkait kebijakan pendukung, Mendiktisaintek menyampaikan bahwa Kemdiktisaintek bersama Kementerian Keuangan telah menyepakati kebijakan honorarium peneliti hingga maksimum 25 persen dari total dana penelitian.

Kebijakan ini akan mulai berlaku pada Tahun Anggaran 2026, dengan tujuan mendorong produktivitas dan kualitas riset di perguruan tinggi, tanpa mengabaikan prinsip akuntabilitas dan tata kelola yang baik.

Forum Dialog Risbang Akhir Tahun 2025 diikuti oleh pimpinan perguruan tinggi, Wakil Rektor bidang riset dan inovasi, pimpinan LPPM/DRI/DKST/STP, dosen dan peneliti, serta Kepala LLDIKTI Wilayah I hingga XVII. Jumlah peserta tercatat lebih dari 2.700 orang, termasuk jejaring akademik di luar negeri atau diaspora.

Melalui forum ini, Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ekosistem riset dan inovasi yang inklusif, kolaboratif, serta berorientasi pada solusi, sehingga riset perguruan tinggi semakin memberikan dampak nyata bagi masyarakat, industri, dan pembangunan nasional. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Real Oviedo Raih Kemenangan Penting, Tundukkan Sevilla 1-0 di La Liga
Timnas Futsal Indonesia Bantai Brunei 7-0 di Laga Pembuka Piala AFF Futsal 2026
Bripda Petra Sihombing Raih Emas di KASAL Cup V 2026
Timnas Indoor Skydiving Indonesia Siap Tampil di World Cup Lille 2026
Irwil V Itwasum Polri Tinjau Mapolsek Kamuu Pasca Penyerangan OTK
Dirkamsel Korlantas Tekankan Integritas dan Ketelitian dalam Apel Pagi NTMC
komentar
beritaTerbaru