Minggu, 24 Mei 2026

Mendiktisaintek Tekankan Peran Sains dan Teknologi dalam Menyelesaikan Masalah Masyarakat

Selasa, 23 Desember 2025 09:06 WIB
Mendiktisaintek Tekankan Peran Sains dan Teknologi dalam Menyelesaikan Masalah Masyarakat
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyampaikan arahan dalam acara “REPORTOAR 2025: Refleksi dan Arah Pengembangan Sains dan Teknologi” yang digelar di Graha Kemdiktisaintek, Jakarta, Sabtu (20/12/2025). (Dok/Diktisaintek)
Jakarta (buseronline.com) - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan bahwa arah pengembangan sains dan teknologi di Indonesia harus bergeser dari sekadar pencapaian indikator kuantitatif menuju kebermanfaatan nyata bagi masyarakat.

Sains dan teknologi dinilai harus hadir sebagai solusi atas persoalan riil yang dihadapi masyarakat, bukan hanya berhenti pada capaian akademik dan laboratorium.

Penegasan tersebut disampaikan Mendiktisaintek saat membuka acara “REPORTOAR 2025: Refleksi dan Arah Pengembangan Sains dan Teknologi” yang digelar di Graha Kemdiktisaintek, Jakarta, Sabtu.

Dalam arahannya, Menteri Brian menekankan bahwa melalui Program Semesta, Kemdiktisaintek berupaya membangun paradigma baru pengembangan sains dan teknologi yang lebih inklusif dan membumi.

“Sains tidak boleh eksklusif, teknologi harus dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan pengetahuan tidak boleh tumbuh meninggalkan masyarakat,” tegas Mendiktisaintek.

Menurutnya, pengembangan sains dan teknologi harus diarahkan untuk menjawab kebutuhan konkret masyarakat, sekaligus memperkuat kemandirian bangsa. Salah satu tantangan utama yang disoroti adalah persoalan hilirisasi riset, khususnya fenomena death valley atau “lembah kematian” inovasi, yakni kondisi ketika hasil riset berhenti di tahap prototipe dan gagal bertransformasi menjadi produk yang dapat dimanfaatkan secara luas.

Menteri Brian mendorong agar hasil riset dan inovasi perguruan tinggi tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi mampu masuk ke tahap komersialisasi dan adopsi oleh masyarakat serta industri. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk impor dan memperkuat daya saing nasional.

“Prototipe hasil riset harus bisa menjadi produk yang digunakan masyarakat. Inilah kunci agar sains dan teknologi benar-benar berdampak,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Sains dan Teknologi (Dirjen Saintek) Ahmad Najib Burhani melaporkan bahwa kolaborasi strategis antara Kemdiktisaintek, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dan Harian Kompas melalui Program Semesta telah menghasilkan capaian konkret.

Sebanyak 137 poster dan produk inovasi dari berbagai skema Program Semesta, seperti In Saintek, Tera Saintek, Resona Saintek, dan Berdikari, dipamerkan dalam acara tersebut sebagai bukti kedaulatan berpikir dan keberpihakan riset pada kebutuhan masyarakat.

Dirjen Najib menambahkan, sebanyak 100 karya terbaik dari program Berdikari akan dirangkum dalam sebuah buku yang akan segera diluncurkan agar dapat diakses lebih luas oleh publik.

“Seratus kisah yang tersaji dalam buku itu memperlihatkan bahwa sains dan teknologi tidak berdiri di luar masyarakat. Di situlah sains dan teknologi menemukan makna sosialnya, bukan sekadar simbol kemajuan, tetapi sebagai motor penggerak yang memperkuat daya hidup, produktivitas, dan ketahanan masyarakat,” tutur Dirjen Najib.

Sejumlah inovasi unggulan yang mendapat perhatian dalam REPORTOAR 2025 antara lain Ecopeat-ATMI berupa pemanfaatan sabut kelapa dari Politeknik ATMI Surakarta, otomatisasi circular farming berbasis Internet of Things (IoT) untuk lahan kering di Nusa Tenggara Timur oleh Politeknik Negeri Kupang, teknologi jagung sen organik sebagai solusi peningkatan kesejahteraan komunitas di Nifuboke, serta inovasi pengolahan limbah pasar menjadi pakan ayam oleh Universitas Papua.

Selain itu, Ditjen Saintek juga memperkenalkan Suryakanta, sebuah inisiatif baru untuk mengukur dampak perguruan tinggi terhadap masyarakat.

“Melalui Suryakanta, kita ingin menggeser fokus kinerja dari yang tadinya hanya menghitung jumlah riset, menjadi mengukur seberapa besar manfaat riset tersebut bagi masyarakat luas,” jelas Dirjen Najib.

Acara REPORTOAR 2025 turut menghadirkan tokoh inovasi global, Anil K. Gupta dari Honey Bee Network India, yang berbagi pengalaman dalam membangun ekosistem teknologi berbasis komunitas.

Kehadiran tokoh internasional tersebut diharapkan dapat memperkaya perspektif dan memperkuat komitmen pengembangan sains dan teknologi yang berakar pada kebutuhan masyarakat.

Melalui forum ini, Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya untuk mendorong sains dan teknologi sebagai instrumen strategis pembangunan nasional yang berdampak, berkeadilan, dan berkelanjutan. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
Tags
beritaTerkait
PSEL Medan Raya Ditargetkan Groundbreaking 2026, Olah hingga 1.700 Ton Sampah per Hari
Kemendikdasmen Gelar Komitmen Bersama SPMB Ramah 2026/2027, Tekankan Akses Pendidikan Tanpa Diskriminasi
Pemprov Jateng Pastikan Kesehatan Hewan Kurban Idul Adha 2026, Populasi Ternak Diproyeksikan Surplus
Pemprov Sumut Perluas Kerja Sama dengan Jepang untuk Penguatan SDM dan Tenaga Kerja
FAO Waspadai Risiko Krisis Pangan Global, Indonesia Tunjukkan Ketahanan dan Surplus Produksi
KPK Soroti Risiko Korupsi SPMB 2026/2027, Tekankan Penguatan Integritas Pendidikan
komentar
beritaTerbaru