Senin, 01 Juni 2026

Sinergi Warga, Seniman, dan Pemerintah Bersatu Wujudkan Bandung Kota Kreatif

Selasa, 30 September 2025 10:28 WIB
Sinergi Warga, Seniman, dan Pemerintah Bersatu Wujudkan Bandung Kota Kreatif
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan saat menyampaikan pandangan dalam dialog kebudayaan bersama seniman dan budayawan di Pendopo Kota Bandung, Jumat (26/9/2025). (Dok/Diskominfo Bandung)
Bandung (buseronline.com) - Kota Bandung terus memperkuat posisinya sebagai kota kreatif dengan menekankan pentingnya kolaborasi lintas elemen, mulai dari warga, komunitas seni, hingga pemerintah. Hal itu mengemuka dalam dialog kebudayaan bersama seniman dan budayawan Kota Bandung, yang digelar di Pendopo, Jumat.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan, modal sosial yang dimiliki Bandung sangat kuat untuk terus berkembang sebagai kota kreatif. Menurutnya, kreativitas masyarakat tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga dapat menjadi solusi atas berbagai persoalan perkotaan.

“Kreativitas harus menjadi energi bersama. Pemerintah hadir bukan untuk mengatur secara kaku, tetapi memfasilitasi agar ide-ide warga bisa tumbuh dan memberi manfaat luas,” ujarnya.

Pengamat budaya sekaligus kurator seni, Heru Hikayat, menambahkan bahwa keberhasilan Bandung sebagai kota kreatif ditentukan oleh kemampuannya menjaga ruang pertemuan antara masyarakat, seniman, dan pemangku kebijakan. Ia menilai pembangunan tidak cukup berbasis infrastruktur semata, melainkan juga harus berlandaskan nilai budaya.

“Budaya bukan sekadar tontonan atau komoditas. Budaya adalah cara kita menjaga kehidupan bersama, toleransi, dan keberagaman,” ungkap Heru.

Pegiat budaya dan seni tari, Keni K Soeriaatmadja, menyoroti peran “middle ground” dalam ekosistem kreatif Bandung. Menurutnya, ada tiga lapisan dalam masyarakat kreatif: underground (seniman dan kreator), upper ground (pemerintah), serta middle ground yang berfungsi menjembatani keduanya.

“Yang sering terlupa adalah middle ground, yaitu pihak yang bisa memahami bahasa pemerintah tapi juga mengerti nilai ideologis seniman. Bandung butuh peran ini agar kolaborasi berjalan lebih sehat,” ujar Keni.

Ia menambahkan, budaya harus ditempatkan sebagai nilai dasar pembangunan, bukan sekadar penghias. Toleransi, menurutnya, mesti dijadikan haluan utama dalam perencanaan pembangunan daerah.

“Budaya bukan benda, bukan sekadar indeks kemajuan kebudayaan. Budaya adalah indeks kemajuan manusia. Orang Bandung harus tahu rasanya jadi orang Bandung, dengan segala keberagaman di dalamnya,” tegasnya.

Forum tersebut juga menghadirkan sastrawan Ahda Imran dan Zulfa Nasrulloh, serta sejumlah pegiat seni budaya lainnya.

Melalui kolaborasi lintas pihak, Pemkot Bandung berharap nilai budaya dan kreativitas menjadi dasar pembangunan kota. Dengan demikian, Bandung tidak hanya dikenal sebagai kota kreatif, tetapi juga sebagai kota toleran, inklusif, dan mampu menghadirkan kemajuan bagi seluruh warganya. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
Tags
beritaTerkait
Polrestabes Medan Ungkap 136 Kendaraan Diduga Hasil Kejahatan Disimpan di 8 Gudang
Pemprov Sumut Catat Kemajuan Signifikan Sektor Kesehatan Sepanjang 2025
Kasus Whip Pink Diusut, Bareskrim Bidik Konsumen Gas N2O dari Kalangan Selebgram
Mendikdasmen Tinjau Persiapan Sekolah Terintegrasi di Teluk Bintuni
Menag Ajak Umat Buddha Jadikan Waisak Momentum Menjaga Perdamaian Dunia
PSG Juara Liga Champions 2025/2026 Setelah Tundukkan Arsenal Lewat Adu Penalti
komentar
beritaTerbaru