Batang (buseronline.com) - Pelestarian Batik Rifa'iyah, warisan budaya khas Kabupaten Batang, Jawa Tengah, perlu diperkuat menyusul berkurangnya jumlah motif yang dikenal. Dilansir dari laman Jatengprov, dari sebelumnya 24 motif, kini hanya tersisa sekitar 16 motif.
Ketua Dekranasda
Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin menegaskan pentingnya dokumentasi motif, regenerasi pembatik, serta pewarisan keterampilan kepada generasi muda agar warisan budaya tersebut tetap lestari.
Hal itu disampaikan Nawal saat menghadiri Kenduri Batik 2026 di Objek Wisata Hutan Pinus Si Kembang, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, pada 17 Oktober 2026.
Menurut Nawal, Batik Rifa'iyah bukan sekadar produk kerajinan, melainkan warisan yang menyimpan nilai filosofi, sejarah perjuangan, dan identitas komunitas. Batik tersebut memiliki keterkaitan erat dengan perjuangan masyarakat Rifa'iyah melawan kolonialisme.
"Batik Rifaiyah ini lahir dari perjuangan melawan kolonialisme masyarakat Rifaiyah. Batik Rifaiyah bukan sekadar karya, tetapi juga bagian dari perjuangan-perjuangan sejarah, perjuangan nilai, dan perjuangan identitas komunitas agama yang menjaganya," ujarnya.
Selain nilai sejarah, Batik Rifa'iyah juga memiliki dimensi spiritual. Tradisi membatik yang diiringi lantunan selawat kepada Rasulullah SAW menjadi salah satu ciri khas yang melekat pada proses pembuatannya.
Nawal mengapresiasi langkah Dekranasda Kabupaten Batang yang telah mendokumentasikan motif-motif langka sebagai upaya mencegah hilangnya kekayaan budaya tersebut.
Ia mengingatkan bahwa berkurangnya jumlah motif menjadi tanda perlunya upaya pelestarian yang lebih serius dan berkelanjutan. Pemerintah, perajin, komunitas, dan masyarakat harus bekerja sama menjaga keberlangsungan tradisi membatik.
"Kekayaan budaya ini bisa berkurang atau hilang sama sekali, apabila tidak dirawat secara serius dan berkelanjutan, baik oleh pemerintah, baik oleh pengrajin, dan baik untuk masyarakat," katanya.
Menurut Nawal, pelestarian Batik Rifa'iyah juga perlu berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi kreatif. Produk batik harus mampu mengikuti kebutuhan pasar tanpa kehilangan karakter dan nilai tradisionalnya.
Tantangan tersebut semakin penting di tengah penurunan jumlah perajin batik di Jawa Tengah. Berdasarkan data Balai Besar Kerajinan dan Batik Kementerian Perindustrian periode 2020-2024 yang disampaikan Nawal, jumlah perajin batik mengalami penurunan dari 82.550 orang, dengan jumlah penurunan mencapai 49.530 orang.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Nawal mendorong pemberian pelatihan, akses permodalan, perlindungan usaha, pendampingan desain, serta pemanfaatan teknologi produksi yang sesuai. Para perajin juga perlu mendapatkan akses pasar yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun global.
"Maka para pembatik ini harus mendapatkan akses pelatihan, akses permodalan dan perlindungan usaha, diberikan pendampingan desain, teknologi produksi yang sesuai, serta akses pasar baik nasional maupun global," ungkapnya.
Nawal turut mengajak sekolah, perguruan tinggi, komunitas kreatif, desainer, dan pelaku pemasaran digital untuk terlibat dalam regenerasi pembatik. Keterlibatan berbagai pihak tersebut diharapkan mampu menumbuhkan minat generasi muda untuk mempelajari sekaligus mengembangkan batik.
"Sekolah harus terlibat, universitas perguruan tinggi harus terlibat, komunitas kreatif harus terlibat, desainer juga harus terlibat dan pelaku pemasaran digital agar proses regenerasi berlangsung," pungkasnya.
Melalui dokumentasi motif, penguatan keterampilan, dan dukungan terhadap perajin, Batik Rifa'iyah diharapkan tetap menjadi identitas budaya Kabupaten Batang sekaligus memiliki peluang untuk berkembang sebagai produk ekonomi kreatif yang berkelanjutan. (R)
beritaTerkait
komentar