Untuk mengatasi persoalan tersebut, Nawal mendorong pemberian pelatihan, akses permodalan, perlindungan usaha, pendampingan desain, serta pemanfaatan teknologi produksi yang sesuai. Para perajin juga perlu mendapatkan akses pasar yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun global.
"Maka para pembatik ini harus mendapatkan akses pelatihan, akses permodalan dan perlindungan usaha, diberikan pendampingan desain, teknologi produksi yang sesuai, serta akses pasar baik nasional maupun global," ungkapnya.
Nawal turut mengajak sekolah, perguruan tinggi, komunitas kreatif, desainer, dan pelaku pemasaran digital untuk terlibat dalam regenerasi pembatik. Keterlibatan berbagai pihak tersebut diharapkan mampu menumbuhkan minat generasi muda untuk mempelajari sekaligus mengembangkan batik.
"Sekolah harus terlibat, universitas perguruan tinggi harus terlibat, komunitas kreatif harus terlibat, desainer juga harus terlibat dan pelaku pemasaran digital agar proses regenerasi berlangsung," pungkasnya.
Melalui dokumentasi motif, penguatan keterampilan, dan dukungan terhadap perajin, Batik Rifa'iyah diharapkan tetap menjadi identitas budaya Kabupaten Batang sekaligus memiliki peluang untuk berkembang sebagai produk ekonomi kreatif yang berkelanjutan. (R)
beritaTerkait
komentar