Jumat, 16 Oktober 2026

Densus 88 dan Disdik DKI Gelar Workshop Sekolah Ramah Anak, Cegah Radikalisme dan Cyberbullying

Jumat, 16 Oktober 2026 11:35 WIB
Densus 88 dan Disdik DKI Gelar Workshop Sekolah Ramah Anak, Cegah Radikalisme dan Cyberbullying
Ditcegah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta menggelar Workshop Sekolah Ramah Anak untuk memperkuat pencegahan IRET, yang berlangsung di Auditorium Ki Hajar Dewantara, Lantai 5, Kantor Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Selasa (13/10/2026).

Jakarta (buseronline.com) - Densus 88 Antiteror Polri melalui Direktorat Pencegahan (Ditcegah) bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta menggelar Workshop Sekolah Ramah Anak untuk memperkuat pencegahan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET), sekaligus mengantisipasi perundungan siber atau cyberbullying di lingkungan pendidikan.

Dilansir dari laman Humas Polri, kegiatan yang berlangsung pada 13 Oktober 2026, di Auditorium Ki Hajar Dewantara, Lantai 5, Kantor Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta itu diikuti 343 peserta. Mereka terdiri atas wakil kepala sekolah bidang kesiswaan SMP se-DKI Jakarta serta unsur wakil kesiswaan SSG, sesuai data penyelenggara.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kombes Pol Moh Dofir dari Ditcegah Densus 88 AT Polri dan Ernita Napitu MPd, Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta. Sejumlah narasumber turut memberikan materi terkait pencegahan IRET, perlindungan anak, serta penanganan perundungan di lingkungan pendidikan.

Kombes Pol Moh Dofir menegaskan bahwa tenaga pendidik memiliki peran strategis dalam mencegah penyebaran paham ekstremisme karena berinteraksi langsung dengan peserta didik dalam proses pembelajaran dan pembentukan karakter.

"Pencegahan IRET di lingkungan pendidikan membutuhkan sinergi dan peran aktif seluruh pihak, khususnya tenaga pendidik. Sekolah memiliki peran strategis dalam membangun karakter peserta didik, menanamkan nilai toleransi, serta menumbuhkan sikap saling menghormati di tengah keberagaman," ujar Dofir.

Ia menjelaskan, tenaga pendidik perlu memiliki pemahaman yang memadai untuk mengenali indikasi awal penyebaran paham ekstremisme maupun perilaku perundungan, termasuk yang terjadi melalui media digital.

Menurutnya, deteksi dini dan edukasi menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman dan kondusif. Karena itu, kolaborasi antara Densus 88 Antiteror Polri dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta diharapkan terus diperkuat.

Selain membahas pencegahan IRET, workshop tersebut juga menyoroti dampak cyberbullying terhadap peserta didik. Perundungan di ruang digital dapat memengaruhi kepercayaan diri, hubungan sosial, kenyamanan belajar, hingga perkembangan psikologis anak.

Melalui kegiatan ini, tenaga pendidik diharapkan mampu mengenali tanda-tanda siswa yang membutuhkan bantuan, sekaligus memahami mekanisme penanganan dan pendampingan yang mengutamakan kepentingan serta perlindungan anak.

Penguatan literasi digital juga menjadi perhatian dalam workshop tersebut. Peserta didik perlu dibekali kemampuan untuk menyaring informasi secara kritis, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, serta menghormati orang lain saat berinteraksi di ruang digital.

Upaya tersebut dinilai penting untuk mencegah siswa terpengaruh konten yang mengandung kebencian maupun mendorong kekerasan. Lingkungan sekolah juga diharapkan menjadi ruang yang mendukung dialog, toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan.

Ditcegah Densus 88 Antiteror Polri dan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta menekankan bahwa pencegahan harus dilakukan melalui edukasi, komunikasi yang sehat, serta pendekatan yang mengedepankan dialog dan kepedulian. Penanganan terhadap siswa juga perlu dilakukan secara cermat tanpa memberikan stigma atau pelabelan secara prematur.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas tenaga pendidik dalam melakukan pencegahan sejak dini, sekaligus memperkuat perlindungan anak di lingkungan pendidikan.

Dengan sinergi yang berkelanjutan, sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang yang aman, inklusif, dan ramah anak untuk membangun karakter serta menumbuhkan sikap saling menghormati di tengah keberagaman. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Kapolri Suyudi Ario Seto Silaturahmi ke MUI, Perkuat Sinergi Jaga Keamanan dan Kerukunan
Rumah Pendidikan Hadirkan Pembelajaran Interaktif, Bantu Guru dan Siswa di SMA Negeri 80 Jakarta
Kemenkes: Kesehatan Jiwa Jadi Kunci Peningkatan Kualitas SDM Indonesia
Kemenkes Ajak Keluarga Rangkul Neurodivergent, 9 dari 10 Penderita Depresi Belum Terjangkau Layanan Kesehatan
KPK Bekali 110 Calon Pemimpin Nasional dengan Pendidikan Antikorupsi
PMI Manufaktur Indonesia Capai 52,4, Sektor Industri Terus Ekspansif
komentar
beritaTerbaru