Jakarta (buseronline.com) - Densus 88 Antiteror Polri melalui Direktorat Pencegahan (Ditcegah) bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta menggelar Workshop Sekolah Ramah Anak untuk memperkuat pencegahan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET), sekaligus mengantisipasi perundungan siber atau cyberbullying di lingkungan pendidikan.
Dilansir dari laman Humas Polri, kegiatan yang berlangsung pada 13 Oktober 2026, di Auditorium Ki Hajar Dewantara, Lantai 5, Kantor Dinas Pendidikan Provinsi DKI
Jakarta itu diikuti 343 peserta. Mereka terdiri atas wakil kepala sekolah bidang kesiswaan SMP se-DKI
Jakarta serta unsur wakil kesiswaan SSG, sesuai data penyelenggara.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kombes Pol Moh Dofir dari Ditcegah Densus 88 AT Polri dan Ernita Napitu MPd, Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta. Sejumlah narasumber turut memberikan materi terkait pencegahan IRET, perlindungan anak, serta penanganan perundungan di lingkungan pendidikan.
Kombes Pol Moh Dofir menegaskan bahwa tenaga pendidik memiliki peran strategis dalam mencegah penyebaran paham ekstremisme karena berinteraksi langsung dengan peserta didik dalam proses pembelajaran dan pembentukan karakter.
"Pencegahan IRET di lingkungan pendidikan membutuhkan sinergi dan peran aktif seluruh pihak, khususnya tenaga pendidik. Sekolah memiliki peran strategis dalam membangun karakter peserta didik, menanamkan nilai toleransi, serta menumbuhkan sikap saling menghormati di tengah keberagaman," ujar Dofir.
Ia menjelaskan, tenaga pendidik perlu memiliki pemahaman yang memadai untuk mengenali indikasi awal penyebaran paham ekstremisme maupun perilaku perundungan, termasuk yang terjadi melalui media digital.
Menurutnya, deteksi dini dan edukasi menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman dan kondusif. Karena itu, kolaborasi antara Densus 88 Antiteror Polri dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta diharapkan terus diperkuat.
Selain membahas pencegahan IRET, workshop tersebut juga menyoroti dampak cyberbullying terhadap peserta didik. Perundungan di ruang digital dapat memengaruhi kepercayaan diri, hubungan sosial, kenyamanan belajar, hingga perkembangan psikologis anak.
Melalui kegiatan ini, tenaga pendidik diharapkan mampu mengenali tanda-tanda siswa yang membutuhkan bantuan, sekaligus memahami mekanisme penanganan dan pendampingan yang mengutamakan kepentingan serta perlindungan anak.
Penguatan literasi digital juga menjadi perhatian dalam workshop tersebut. Peserta didik perlu dibekali kemampuan untuk menyaring informasi secara kritis, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, serta menghormati orang lain saat berinteraksi di ruang digital.
beritaTerkait
komentar