Tangerang Selatan (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) terus memperkuat pengembangan bakat siswa di bidang penelitian dan inovasi melalui Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026.
Dilansir dari laman
Kemendikdasmen, penutupan dan pemberian medali
OPSI 2026 menjadi momentum untuk menegaskan bahwa prestasi yang diraih siswa bukanlah tujuan akhir, melainkan menjadi pintu gerbang menuju pembelajaran, peningkatan kompetensi, serta pengembangan diri.
Sebanyak 250 talenta penelitian dan inovasi dari jenjang pendidikan dasar dan menengah mengikuti seri final OPSI 2026 yang berlangsung pada 24-30 September 2026. Pelaksanaan OPSI merupakan bagian dari Manajemen Talenta Siswa sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 25 Tahun 2025.
Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah untuk Peningkatan Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM) serta Kompetensi Guru, Maila Dinia Husni Rahiem, mengatakan OPSI menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan dan mewujudkan bakat mereka di bidang penelitian.
Menurutnya, OPSI juga menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun ekosistem manajemen talenta yang mendukung proses identifikasi, pengembangan, perwujudan, hingga keberlanjutan bakat siswa.
"Pemerintah ingin memastikan bahwa talenta OPSI memiliki kesempatan untuk berkembang secara berkelanjutan melalui apresiasi dan partisipasi universal, termasuk dari universitas dan dunia industri," ujar Maila saat menutup OPSI di Tangerang Selatan, pada 29 September 2026.
Maila menegaskan bahwa OPSI tidak hanya berbicara mengenai perolehan medali. Pengalaman yang diperoleh peserta selama mengikuti kompetisi menjadi bagian penting dalam membangun karakter sekaligus mengembangkan kapasitas mereka sebagai peneliti muda.
"Prestasi hari ini adalah gerbang menuju peluang di masa depan. Kesempatan untuk belajar lebih banyak, mengembangkan bakat, mendapatkan pengalaman baru, berkompetisi di level yang lebih tinggi, dan bagi sebagian orang, membawa nama Indonesia ke panggung internasional dengan berpartisipasi dalam proses seleksi Beasiswa Talenta Indonesia," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Puspresnas Maria Veronica Irene Herdjiono mengatakan OPSI memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kompetisi yang hanya berorientasi pada penyelesaian masalah.
Dalam penelitian, siswa tidak hanya dituntut memecahkan persoalan, tetapi juga harus mampu memahami bagaimana suatu masalah dapat diidentifikasi dan dicarikan solusinya.
"Dalam kompetisi lain, siswa diminta untuk memecahkan masalah. Tetapi dalam penelitian, mereka tidak memecahkan masalah, melainkan memikirkan bagaimana cara memecahkan masalah," kata Irene.
Rangkaian final
OPSI 2026 tidak hanya diisi dengan presentasi penelitian. Peserta juga mengikuti pameran hasil penelitian serta Research Idea Challenge (RICh), yang menantang peserta menghasilkan gagasan untuk menyelesaikan persoalan secara spontan dalam waktu terbatas.
Pengembangan talenta peserta juga diperkuat melalui program Kolaborasi Pengembangan Talenta Indonesia (BTI) yang digelar pada 28 September 2026. Program tersebut berfokus pada penguatan enam kompetensi atau 6C, yakni berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, karakter, dan kewarganegaraan.
Irene menjelaskan, penguatan enam kompetensi tersebut bertujuan membekali talenta penelitian dengan kemampuan yang lebih komprehensif, baik dari sisi akademik maupun karakter dan kemampuan berinteraksi.
"Mahasiswa dari 125 tim berkolaborasi untuk memecahkan masalah, berinteraksi, dan berkomunikasi. Kami berharap di masa depan mereka dapat membangun jaringan untuk mengembangkan diri sebagai talenta penelitian yang menjanjikan," ujarnya.
Partisipasi dalam
OPSI 2026 juga menunjukkan peningkatan. Jumlah pendaftar diproyeksikan mencapai 39.300 peserta, meningkat sekitar 47 persen dibandingkan 26.723 peserta pada 2025.
Untuk memperkuat kemampuan penelitian, Kemendikdasmen berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kolaborasi tersebut mencakup penguatan metodologi penelitian, pemahaman mengenai izin etik penelitian, serta pengenalan dasar-dasar penelitian sesuai prinsip ilmiah.
Pada tingkat nasional,
OPSI 2026 diikuti finalis dari jenjang SMP/MTs/sederajat dan SMA/MA/SMK/MAK/sederajat. Untuk jenjang pendidikan dasar, bidang kompetisi meliputi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Terapan (IPT), dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).
Sementara pada jenjang pendidikan menengah atas, bidang kompetisi meliputi Fisika dan Teknik Terapan (FTR), Ilmu Sosial dan Humaniora (ISH), serta Matematika, Sains, dan Teknologi (MST).
Sebagai bentuk apresiasi,
Kemendikdasmen menyediakan dana pengembangan bagi para peraih medali OPSI Nasional 2026. Peraih medali emas tingkat SMP/sederajat memperoleh Rp15 juta, perak Rp10 juta, dan perunggu Rp5 juta.
Sementara itu, peraih medali emas tingkat SMA/sederajat mendapatkan Rp25 juta, perak Rp20 juta, dan perunggu Rp15 juta.
Selain dukungan dana pengembangan, talenta berprestasi juga memperoleh kesempatan mengikuti berbagai program pengembangan lanjutan, termasuk pelatihan untuk ajang internasional, Program Pengembangan Talenta Indonesia, serta seleksi Beasiswa Talenta Indonesia untuk jenjang sarjana di dalam maupun luar negeri.
Melalui berbagai program tersebut, Kemendikdasmen mendorong peserta OPSI untuk tidak berhenti pada pencapaian medali. Prestasi diharapkan menjadi awal bagi siswa untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, membangun jejaring, serta mengembangkan diri sebagai talenta penelitian dan inovasi Indonesia. (R)
beritaTerkait
komentar