Senin, 31 Agustus 2026

Kemendikdasmen Salurkan Rp4,18 Miliar untuk Pulihkan 71 LKP Terdampak Banjir di Aceh dan Sumut

Senin, 31 Agustus 2026 18:25 WIB
Kemendikdasmen Salurkan Rp4,18 Miliar untuk Pulihkan 71 LKP Terdampak Banjir di Aceh dan Sumut
Penyaluran bantuan tersebut dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan program upskilling dan reskilling bagi 118 guru SMK dari 11 provinsi di BBPPMPV Bidang BBL Medan, pada 26 Agustus 2026.

Medan (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI memperkuat upaya mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua melalui penguatan pendidikan nonformal dan pendidikan vokasi.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyalurkan bantuan peningkatan mutu senilai Rp4,18 miliar kepada 71 lembaga kursus dan pelatihan (LKP) yang terdampak bencana banjir di Aceh dan Sumatra Utara.

Penyaluran bantuan tersebut dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan program upskilling dan reskilling bagi 118 guru SMK dari 11 provinsi di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Bidang Bangunan dan Listrik (BBL) Medan, pada 26 Agustus 2026.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Abdul Mu'ti menegaskan, pendidikan bermutu tidak hanya dapat diperoleh melalui sekolah formal.

Pendidikan nonformal juga memiliki peran penting dalam memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk terus belajar dan mengembangkan keterampilan.

"Education is not only about schooling but the essence of education is learning. Esensi pendidikan itu belajar, tidak hanya sekolah," ujar Abdul Mu'ti.

Menurutnya, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional telah mengakomodasi berbagai jalur pendidikan, yakni pendidikan formal, informal, dan nonformal.

Karena itu, seluruh jalur pendidikan perlu diberikan kesempatan untuk memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat.

Penguatan pendidikan vokasi, lanjut Abdul Mu'ti, juga tidak cukup hanya berorientasi pada penyiapan peserta didik untuk memasuki dunia kerja. Pendidikan di SMK harus mampu membangun kreativitas, keberanian berwirausaha, serta kemampuan nonteknis atau soft skills.

"Jangan selalu anak SMK itu didorong kerja kantor pakai lamaran berlapis-lapis, beri mereka visi tentang entrepreneurship. Karena kreativitas dan soft skills-nya itu yang didorong. Kalau hard skills, keterampilan teknis, akan cepat usang," katanya.

Abdul Mu'ti juga mendorong pengembangan SMK yang disesuaikan dengan potensi masing-masing daerah. Potensi lokal seperti kopi, teh, nilam, hingga perikanan, menurutnya, dapat dikembangkan menjadi bidang keahlian sehingga peserta didik mampu mengolah sumber daya daerah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Untuk menjaga relevansi pendidikan vokasi dengan perkembangan dunia kerja dan teknologi, peningkatan kompetensi guru juga dilakukan secara berkelanjutan melalui program upskilling dan reskilling.

Program yang berlangsung pada 20 Agustus hingga 2 September 2026 tersebut diikuti 118 guru dari 11 provinsi dengan tiga bidang keahlian, yakni Teknik Kendaraan Ringan, Teknik Sepeda Motor, serta Teknik Komputer dan Jaringan. Program tersebut mencakup lokakarya, kunjungan industri, dan uji kompetensi keahlian.

Selain meningkatkan keterampilan teknis sesuai standar industri, program juga memperkuat kompetensi pedagogik, kewirausahaan, pembelajaran berbasis projek, pembelajaran mendalam, serta pemanfaatan teknologi digital, coding, dan kecerdasan artifisial (AI).

Di sisi lain, Kemendikdasmen memberikan perhatian terhadap keberlangsungan pendidikan nonformal bagi masyarakat di wilayah yang terdampak bencana.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, mengatakan banjir di Aceh dan Sumatra Utara tidak hanya merusak bangunan LKP, tetapi juga merendam peralatan praktik dan mengganggu keberlangsungan proses pembelajaran.

"LKP bukan sekadar fisik bangunan saja yang terkena, melainkan juga ruang harapan bagi anak bangsa untuk meraih keterampilan. Dalam kondisi sulit apa pun tentu kita harus tetap memastikan pendidikan bermutu untuk semua," kata Tatang.

Dari 71 LKP penerima bantuan, sebanyak 49 LKP berada di Aceh, terdiri atas 21 LKP di Kabupaten Bireuen, 12 LKP di Kabupaten Aceh Tamiang, 10 LKP di Kota Langsa, dan 6 LKP di Kota Lhokseumawe.

Sementara itu, 22 LKP berada di Sumatra Utara, yakni 17 LKP di Kabupaten Langkat dan 5 LKP di Kabupaten Deli Serdang.

Tatang menjelaskan, bantuan tersebut diharapkan dapat menjadi modal pemulihan sarana belajar sekaligus memperkuat tata kelola lembaga dan menghadirkan kembali media pembelajaran yang adaptif.

Manfaat bantuan tersebut dirasakan langsung oleh sejumlah LKP penerima. Pimpinan LKP Sakinah, Samsinar, mengatakan bantuan Kemendikdasmen membantu lembaganya kembali menjalankan kegiatan kursus bagi masyarakat, terutama anak-anak yang tidak dapat melanjutkan pendidikan formal.

LKP Sakinah sebelumnya terdampak banjir pada November 2025. Sejumlah fasilitas, termasuk mesin jahit serta peralatan tata busana dan kecantikan, mengalami kerusakan.

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Pemprov Sumut Dorong GAMKI Jadi Mitra Strategis Pembangunan Daerah
Kemendikdasmen-ANRI Perkuat Pemanfaatan Arsip untuk Pendidikan dan Sejarah Bangsa
Pemprov Sumut Pastikan Perubahan APBD 2026 Berorientasi pada Kepentingan Masyarakat
Pemprov Sumut Siapkan Program Kampung Kreatif Sumut Berkah, Dorong Pemerataan Pembangunan Desa
Wagub Sumut Surya Ikuti Jalan Santai HUT ke-33 RS Adam Malik
Harga Ayam Tembus Rp50 Ribu per Kg, TPID Sumut Perketat Pengawasan Pasokan
komentar
beritaTerbaru