Senin, 24 Agustus 2026

Kesulitan Menulis Anak Bukan Selalu karena Malas, Buku 'Menulis Tanpa Menangis' Beri Solusi

Senin, 24 Agustus 2026 16:40 WIB
Kesulitan Menulis Anak Bukan Selalu karena Malas, Buku 'Menulis Tanpa Menangis' Beri Solusi
Bedah buku Menulis Tanpa Menangis yang digelar Pusat Perbukuan, BKPDM, Kemendikdasmen, di Perpustakaan Kemendikdasmen, Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Jakarta (buseronline.com) - Kesulitan anak dalam menulis tidak selalu disebabkan oleh rasa malas. Anak yang menangis saat diminta menulis, memiliki tulisan sulit dibaca, atau kesulitan menuangkan gagasan dalam karangan bisa mengalami hambatan tertentu yang perlu dikenali dan ditangani dengan tepat.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam bedah buku Menulis Tanpa Menangis yang digelar Pusat Perbukuan, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), di Perpustakaan Kemendikdasmen, Jakarta, pada 20 Agustus 2026.

Kepala Pusat Perbukuan Kemendikdasmen Supriyatno mengatakan buku tersebut relevan dengan kebutuhan pembelajaran saat ini. Terlebih, pemerintah berencana memberikan buku tulis kepada peserta didik, khususnya siswa kelas I dan II pada tahap awal.

"Buku ini sangat relevan, sekiranya bagaimana memanfaatkan buku dan memberikan pembelajaran bagi anak-anak kita, bagaimana mengajarkan cara menulis agar kemudian tidak menjadi beban bagi anak-anak kita," ujar Supriyatno dilansir dari laman Kemendikdasmen.

Menurutnya, kegiatan bedah buku merupakan agenda rutin yang digelar setidaknya setiap bulan untuk memperkenalkan berbagai buku yang tersedia di platform Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (SIBI).

Melalui SIBI, masyarakat dapat mengakses buku teks maupun nonteks pelajaran secara gratis. Supriyatno mengajak guru, orang tua, dan masyarakat memanfaatkan koleksi tersebut karena telah melalui kriteria standar buku bermutu dan layak dibaca peserta didik dari berbagai jenjang.

Penulis buku Menulis Tanpa Menangis, Ossy, yang merupakan dosen Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Makassar, bersama Dirham, guru Sekolah Khusus Negeri di Pandeglang, menjelaskan bahwa buku tersebut berangkat dari berbagai persoalan nyata yang ditemukan di lapangan.

Salah satu kisah yang diangkat adalah Ocis, siswa kelas III SD yang kerap menangis ketika diminta menulis. Dirham mengatakan buku tersebut menghadirkan enam kasus kesulitan menulis yang dilengkapi dengan penyebab dan alternatif penanganannya melalui cerita.

"Tokoh dalam buku ini adalah Ocis yang menangis setiap diminta menulis, Pinus yang menulis hingga tembus, Rimba yang kesulitan dikte dan mengeja, Bora yang menulis terlalu besar dan keluar baris, Bulan yang kesulitan mengarang, serta Bromo yang melamun setiap menulis," jelas Dirham.

Ossy menjelaskan, kesulitan menulis dapat dipengaruhi berbagai faktor internal, seperti hambatan motorik, intelektual, perkembangan bahasa, fungsi eksekutif, disgrafia, disleksia, ADHD, autisme, maupun kebutuhan khusus lainnya.

Selain itu, faktor lingkungan, termasuk pola pendampingan guru dan orang tua, juga dapat memengaruhi kemampuan anak dalam menulis.

Kesulitan tersebut dapat muncul sejak tahap pramenulis, mengeja, menulis permulaan hingga menulis lanjutan. Bentuknya pun beragam, mulai dari kesulitan memegang pensil, menarik garis, menulis huruf dan kata, mengikuti dikte, menyalin tulisan, hingga membuat karangan.

Buku Menulis Tanpa Menangis disusun Ossy dan Dirham bersama tim Pusat Perbukuan Kemendikdasmen pada 2023. Penyusunannya didasarkan pada survei kebutuhan yang menunjukkan masih banyak guru menghadapi tantangan dalam menangani kesulitan belajar peserta didik.

"Kasus-kasus di buku ini berangkat dari temuan-temuan yang sering terjadi di lapangan yang kami ubah menjadi cerita fiksi," kata Ossy.

Menurutnya, penulis juga melakukan observasi di sejumlah sekolah dasar serta membagikan lembar kerja menulis pada beberapa jenjang. Temuan tersebut kemudian dipadukan dengan teori yang relevan dan disajikan dalam bentuk cerita agar lebih mudah dipahami.

Dirham menambahkan, buku tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi guru, tetapi juga orang tua dan masyarakat umum. Penyajian kasus dalam bentuk cerita diharapkan dapat membantu pembaca memahami persoalan, penyebab, sekaligus alternatif penanganannya.

Kemampuan menulis juga menjadi bagian penting dalam penerapan Pembelajaran Mendalam. Peserta didik tidak hanya diarahkan untuk membaca dan menerima informasi, tetapi juga memahami, mengolah, serta menunjukkan pemahamannya melalui tulisan.

Salah satu bentuknya adalah meminta siswa menuliskan kembali isi bacaan menggunakan bahasa sendiri. Dengan demikian, kemampuan menulis dapat menjadi salah satu cara untuk melihat sejauh mana peserta didik memahami materi yang dipelajari.

Supriyatno menegaskan bahwa keterampilan menulis perlu dikembangkan sebagai bagian dari proses pembelajaran yang mendorong peserta didik aktif menunjukkan pemahamannya.

"Dalam Pembelajaran Mendalam, anak tidak hanya membaca dan menerima informasi, tetapi juga memahami, mengolah, dan menuangkan kembali apa yang dipelajari melalui tulisan," ujarnya.

Pesan utama buku Menulis Tanpa Menangis adalah bahwa menulis bukanlah hukuman. Aktivitas menulis seharusnya dapat menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.

Melalui buku tersebut, guru dan orang tua diharapkan mampu mengenali kesulitan yang dialami anak, memahami penyebabnya, serta memberikan pendampingan yang tepat sehingga anak dapat belajar menulis dengan lebih percaya diri, gembira, dan tanpa menangis. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Forum PIEPTN Rumuskan Tujuh Rekomendasi Perkuat Integritas Perguruan Tinggi
Densus 88 dan Pemprov DKI Perkuat Pencegahan Radikalisme di Kalangan Pelajar
KPK Tahan Eks Pejabat Pajak, Diduga Terima Gratifikasi Rp20,7 Miliar
O2SN 2026 Resmi Dibuka, 234.803 Murid Siap Unjuk Prestasi Olahraga
CKG Anak Tak Sekadar Pemeriksaan, Pemerintah Pastikan Temuan Kesehatan Ditindaklanjuti
Kemendikdasmen Siapkan Anggaran Rp61,1 Triliun untuk Pendidikan Tahun 2027
komentar
beritaTerbaru