Dirham menambahkan, buku tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi guru, tetapi juga orang tua dan masyarakat umum. Penyajian kasus dalam bentuk cerita diharapkan dapat membantu pembaca memahami persoalan, penyebab, sekaligus alternatif penanganannya.
Kemampuan menulis juga menjadi bagian penting dalam penerapan Pembelajaran Mendalam. Peserta didik tidak hanya diarahkan untuk membaca dan menerima informasi, tetapi juga memahami, mengolah, serta menunjukkan pemahamannya melalui tulisan.
Salah satu bentuknya adalah meminta siswa menuliskan kembali isi bacaan menggunakan bahasa sendiri. Dengan demikian, kemampuan menulis dapat menjadi salah satu cara untuk melihat sejauh mana peserta didik memahami materi yang dipelajari.
Supriyatno menegaskan bahwa keterampilan menulis perlu dikembangkan sebagai bagian dari proses pembelajaran yang mendorong peserta didik aktif menunjukkan pemahamannya.
"Dalam Pembelajaran Mendalam, anak tidak hanya membaca dan menerima informasi, tetapi juga memahami, mengolah, dan menuangkan kembali apa yang dipelajari melalui tulisan," ujarnya.
Pesan utama buku Menulis Tanpa Menangis adalah bahwa menulis bukanlah hukuman. Aktivitas menulis seharusnya dapat menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.
Melalui buku tersebut, guru dan orang tua diharapkan mampu mengenali kesulitan yang dialami anak, memahami penyebabnya, serta memberikan pendampingan yang tepat sehingga anak dapat belajar menulis dengan lebih percaya diri, gembira, dan tanpa menangis. (R)
beritaTerkait
komentar