Selasa, 18 Agustus 2026

Mendikdasmen Abdul Mu’ti Dorong Sekolah Jadi Ruang Aman dan Nyaman bagi Anak

Selasa, 18 Agustus 2026 10:45 WIB
Mendikdasmen Abdul Mu’ti Dorong Sekolah Jadi Ruang Aman dan Nyaman bagi Anak
Festival Pahlawan Anak yang digelar Save the Children Indonesia di Jakarta, Kamis (13/8/2026).
Pada kesempatan yang sama, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPPPA) Arifah Fauzi menegaskan pentingnya keterlibatan seluruh pihak dalam menciptakan ruang aman bagi anak.

Berdasarkan Survei Pengalaman Hidup Anak dan Remaja 2024, sebanyak 50,78 persen anak usia 13–17 tahun pernah mengalami sedikitnya satu bentuk kekerasan sepanjang hidupnya. Sementara itu, sebanyak 33,64 persen mengalami kekerasan dalam 12 bulan terakhir.

Arifah mengatakan angka tersebut tidak sekadar menjadi data statistik, tetapi menggambarkan pengalaman ketakutan, kekecewaan, kekhawatiran, hingga trauma yang dialami anak.

Karena itu, menurutnya, berbagai pihak harus mengambil langkah pencegahan sebelum anak menjadi korban kekerasan. "Ini tidak bisa dikerjakan sendiri. Ini harus bersama-sama," tegas Arifah.

Ia menjelaskan, perlindungan anak perlu dilakukan melalui penciptaan lingkungan yang aman, respons cepat ketika terjadi kekerasan, serta pemberian dukungan kepada anak yang menjadi korban.

Ruang aman tersebut harus tersedia di berbagai lingkungan, mulai dari keluarga, satuan pendidikan, ruang publik, hingga ruang digital.

Festival Pahlawan Anak juga dinilai menjadi momentum penting untuk mendengarkan suara anak. Arifah mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mengawal agar mimpi dan cita-cita anak dapat diwujudkan.

Dewan Pembina Yayasan Save the Children Indonesia, Dewi Soeharto, mengatakan ruang aman sangat penting agar anak dapat menjadi dirinya sendiri tanpa rasa takut dihakimi, direndahkan, maupun disakiti.

Menurut Dewi, menciptakan ruang aman bagi anak merupakan tanggung jawab orang dewasa. Salah satu langkah paling mendasar adalah memberikan ruang kepada anak untuk menyampaikan suara dan pengalaman mereka.

"Tentunya pertama kalinya adalah dengan mendengarkan anak-anak. Mendengar tidak hanya menggunakan telinga kita, tapi dengan segenap hati, isi pikiran kita," ujar Dewi.

Ia berharap Festival Pahlawan Anak tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu mendorong semakin banyak pihak untuk mendengarkan suara anak dan mengambil tindakan nyata dalam menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan ramah bagi anak.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, organisasi masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya, perlindungan anak diharapkan dapat menjadi gerakan bersama sekaligus budaya yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Papan Interaktif Digital Dorong Guru di Bandung Barat Ciptakan Pembelajaran Lebih Interaktif
Kemendikdasmen Apresiasi Bengkayang Perkuat Kompetensi Guru di Wilayah Terpencil
Mendikdasmen Abdul Mu’ti Tegaskan Komitmen Pendidikan Inklusif dalam Suara Inklusi di Yogyakarta
Kemendikdasmen Perkuat Akses Pendidikan melalui Beasiswa SCG Sharing the Dream 2026
Kemendikdasmen Percepat Revitalisasi SLB, Wujudkan Pendidikan Inklusif di Yogyakarta
Kemendikdasmen Dorong Guru Vokasi Kuasai AI untuk Hadapi Perkembangan Teknologi
komentar
beritaTerbaru