Senin, 25 Mei 2026

Semangat Literasi Tumbuh dari Perbatasan, Malinau Jadi Contoh Kolaborasi Pendidikan

Senin, 25 Mei 2026 16:58 WIB
Semangat Literasi Tumbuh dari Perbatasan, Malinau Jadi Contoh Kolaborasi Pendidikan
Momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, Hari Buku Nasional 2026, dan Hari Kebangkitan Nasional dimanfaatkan untuk mengangkat praktik baik pembangunan literasi di wilayah tersebut melalui gelar wicara bertajuk “Cerita dari Perbatasan: Praktik Baik Partisipasi Semesta dalam Pembangunan Literasi di Malinau, Kalimantan Utara”.

Jakarta (buseronline.com) - Semangat membangun budaya literasi terus tumbuh dari wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia. Dilansir dari laman Kemendikdasmen, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, menjadi contoh bagaimana keterbatasan akses dan tantangan geografis tidak menghalangi masyarakat menghadirkan gerakan literasi yang melibatkan banyak pihak.

Momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, Hari Buku Nasional 2026, dan Hari Kebangkitan Nasional dimanfaatkan untuk mengangkat praktik baik pembangunan literasi di wilayah tersebut melalui gelar wicara bertajuk "Cerita dari Perbatasan: Praktik Baik Partisipasi Semesta dalam Pembangunan Literasi di Malinau, Kalimantan Utara".

Kegiatan itu diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) sebagai upaya mendukung Gerakan Literasi Nasional dan visi Pendidikan Bermutu untuk Semua.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin mengatakan bahwa literasi merupakan fondasi utama dalam pembangunan sumber daya manusia dan pencapaian tujuan pendidikan nasional.

"Literasi menjadi fondasi penting mendapatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan dan literasi tidak dapat dipisahkan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional," ujarnya di Kantor Badan Bahasa, Jakarta, Kamis.

Menurut Hafidz, visi Pendidikan Bermutu untuk Semua yang diusung Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menekankan pentingnya layanan pendidikan yang dapat diakses seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali.

Ia menilai praktik literasi di Malinau membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang untuk menciptakan inovasi.

"Orang sering mengatakan daerah 3T dan perbatasan memiliki keterbatasan. Namun Malinau menunjukkan bahwa dengan keterbatasan justru lahir inovasi dan kreativitas yang luar biasa," katanya.

Hafidz juga menyebut Indeks Kegemaran Membaca Provinsi Kalimantan Utara berada di atas rata-rata nasional. Pada 2025, indeks nasional berada di angka 54,8, sedangkan Kalimantan Utara mencapai 58,89.

Sementara itu, Bunda Literasi Kabupaten Malinau, Maylenty Wempi, menegaskan bahwa gerakan literasi di daerahnya dibangun melalui kolaborasi berbagai pihak dengan pendekatan berbasis keluarga.

"Gerakan literasi di Kabupaten Malinau adalah gerakan bersama. Bukan hanya tugas pemerintah, tetapi semua mengambil peran," ujarnya.

Menurut Maylenty, keluarga menjadi titik awal penting dalam menumbuhkan budaya baca di masyarakat. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk INOVASI, turut memperkuat kesadaran pentingnya literasi sejak dini.

Ia juga menyoroti tantangan geografis Malinau sebagai wilayah perbatasan dengan luas wilayah yang besar dan keberagaman budaya, termasuk keberadaan 11 suku asli. Karena itu, pendekatan berbasis budaya dan bahasa lokal dinilai penting agar masyarakat lebih mudah terlibat.

Meski menghadapi berbagai tantangan, gerakan literasi di Malinau terus berkembang. Sejak 2020, jumlah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) meningkat dari lima menjadi 96 unit pada 2026. Jumlah pegiat literasi juga bertambah dari 11 orang menjadi sekitar 768 orang.

Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi lintas sektor mampu memperkuat ekosistem literasi secara inklusif dan berkelanjutan di wilayah perbatasan Indonesia. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru