Sementara itu, Bunda Literasi Kabupaten Malinau, Maylenty Wempi, menegaskan bahwa gerakan literasi di daerahnya dibangun melalui kolaborasi berbagai pihak dengan pendekatan berbasis keluarga.
"Gerakan literasi di Kabupaten Malinau adalah gerakan bersama. Bukan hanya tugas pemerintah, tetapi semua mengambil peran," ujarnya.
Menurut Maylenty, keluarga menjadi titik awal penting dalam menumbuhkan budaya baca di masyarakat. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk INOVASI, turut memperkuat kesadaran pentingnya literasi sejak dini.
Ia juga menyoroti tantangan geografis Malinau sebagai wilayah perbatasan dengan luas wilayah yang besar dan keberagaman budaya, termasuk keberadaan 11 suku asli. Karena itu, pendekatan berbasis budaya dan bahasa lokal dinilai penting agar masyarakat lebih mudah terlibat.
Meski menghadapi berbagai tantangan, gerakan literasi di Malinau terus berkembang. Sejak 2020, jumlah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) meningkat dari lima menjadi 96 unit pada 2026. Jumlah pegiat literasi juga bertambah dari 11 orang menjadi sekitar 768 orang.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi lintas sektor mampu memperkuat ekosistem literasi secara inklusif dan berkelanjutan di wilayah perbatasan Indonesia. (R)
beritaTerkait
komentar