Senin, 06 April 2026

Jabar Laksanakan Respon Imunisasi untuk Tangani Campak

EM Bukit MKes - Jumat, 03 April 2026 12:06 WIB
Jabar Laksanakan Respon Imunisasi untuk Tangani Campak
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Vini Adiani Dewi menyampaikan keterangan terkait penanganan kasus campak di Jawa Barat, Rabu (1/4/2026). (Dok/Jabarprov)
Bandung (buseronline.com) - Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat mengintensifkan upaya penanganan kasus campak dengan mendorong pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) di sejumlah daerah yang mengalami peningkatan kasus. Langkah ini dilakukan sebagai respons cepat untuk menekan penyebaran penyakit menular tersebut di kalangan anak-anak.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini Adiani Dewi, mengatakan hingga 19 Maret 2026 terdapat dua wilayah yang dijadwalkan melaksanakan ORI pada April 2026, yakni Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut. Pelaksanaan ini didasarkan pada peningkatan kasus campak di wilayah tersebut.

“ORI merupakan imunisasi campak yang diberikan kepada seluruh anak usia 9 hingga 59 bulan tanpa melihat status imunisasi sebelumnya. Ini sebagai upaya cepat untuk mengendalikan penyebaran campak,” ujar Vini, Rabu.

Sebelumnya, ORI juga telah dilaksanakan pada Februari 2026 di sejumlah wilayah di Kabupaten Garut, seperti Puskesmas Cimaragas, Bagendit, dan Cibiuk.

Selain ORI, Dinas Kesehatan Jawa Barat juga melaksanakan Catch Up Campaign (CUC), yaitu imunisasi campak rubella bagi anak usia 9 hingga 59 bulan yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Program ini digelar di delapan daerah, yakni Kota Bogor, Kota Depok, Kota Bandung, Kota Bekasi, Kota Cirebon, Kabupaten Bogor, Kabupaten Cirebon, dan Kabupaten Subang.

“Pelaksanaan CUC di delapan kabupaten/kota saat ini masih berlangsung dengan target capaian 100 persen,” jelasnya.

Vini memastikan ketersediaan vaksin campak rubella (MR) mencukupi untuk mendukung pelaksanaan ORI maupun CUC. Jika terjadi kekurangan, puskesmas dapat segera berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi untuk pemenuhan kebutuhan vaksin.

Saat ini, fasilitas kesehatan juga tengah menunggu distribusi alat suntik auto disable syringe (ADS) dari Kementerian Kesehatan. Alat tersebut telah melalui proses pemeriksaan dan siap disalurkan ke daerah.

Dilansir dari laman Jabarprov, Dinas Kesehatan Jawa Barat turut mengimbau seluruh fasilitas layanan kesehatan, baik puskesmas maupun rumah sakit, untuk melaporkan setiap kasus suspek campak dalam waktu maksimal 24 jam kepada dinas kesehatan setempat.

Apabila ditemukan kasus suspek campak, petugas kesehatan diminta segera melakukan penanganan sesuai prosedur, seperti isolasi pasien minimal tujuh hari setelah muncul bercak merah, pemberian vitamin A sesuai dosis usia, serta memastikan asupan gizi yang cukup, khususnya protein dan kalori.

Selain itu, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan penularan.

Kepada masyarakat, Vini mengingatkan pentingnya memastikan status imunisasi anak. Ia menegaskan bahwa tidak ada kata terlambat untuk melengkapi imunisasi.

“Segera cek status imunisasi anak. Jika belum lengkap, silakan datang ke posyandu, puskesmas, atau fasilitas kesehatan terdekat,” ujarnya.

Imunisasi campak sendiri diberikan sebanyak tiga kali, yakni pada usia 9 bulan, 18 bulan, serta saat anak duduk di kelas 1 sekolah dasar atau sederajat.

Melalui langkah ORI dan CUC yang masif, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berharap penyebaran campak dapat segera dikendalikan, sekaligus meningkatkan kekebalan kelompok di masyarakat. (R)

Editor
: EM Bukit MKes
beritaTerkait
Tiga Prajurit TNI Gugur di Misi UNIFIL Lebanon, Presiden Prabowo Beri Penghormatan Terakhir
Perayaan Paskah GBKP Setia Budi Meriah, Diisi Ibadah, Pujian dan Perlombaan
Kredensialing: Strategi Utama Hadirkan Layanan JKN Berkualitas
Pemko Medan Tingkatkan Layanan dan Fasilitas RSUD Dr Pirngadi di Hari Ginjal Sedunia
Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan Diperkuat Jejaring Lintas K/L
Kemendikdasmen Jadi Finalis Top Inovasi Kementerian PAN-RB Lewat Inovasi Verifikasi Data ATS
komentar