Senin, 06 April 2026

Dinkes Kota Bandung Dorong Warga Lengkapi Imunisasi Campak

EM Bukit MKes - Kamis, 02 April 2026 12:18 WIB
Dinkes Kota Bandung Dorong Warga Lengkapi Imunisasi Campak
Tenaga kesehatan berjalan di area fasilitas pelayanan kesehatan di Kota Bandung. (Dok/Jabarprov)
Bandung (buseronline.com) - Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) mengajak masyarakat untuk melengkapi imunisasi campak guna menekan risiko penularan penyakit yang saat ini mengalami peningkatan kasus di Kota Bandung, Selasa (31/3/2026).

Berdasarkan data Dinas Kesehatan hingga Maret 2026, tercatat sebanyak 248 kasus suspek campak dengan 28 kasus terkonfirmasi. Seluruh pasien dilaporkan telah membaik tanpa adanya kasus kematian.

Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Bandung, Dadan Mulyana Kosasih, mengatakan campak merupakan penyakit dengan tingkat penularan yang sangat tinggi, bahkan melebihi Covid-19.

“Campak ini penyakit yang sangat mudah menular. Satu orang bisa menularkan ke 17 sampai 18 orang. Namun penyakit ini dapat dicegah melalui imunisasi,” ujar Dadan.

Ia menjelaskan, sebagian besar kasus campak terjadi pada kelompok balita yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Dari total kasus yang ditemukan, sekitar 69 persen berasal dari anak yang belum menerima imunisasi campak.

Dadan menambahkan, cakupan imunisasi campak-rubella di Kota Bandung masih berada di bawah target nasional sebesar 95 persen. Imunisasi dasar pada bayi usia sembilan bulan tercatat sebesar 84,3 persen pada 2024 dan 2025.

Sementara itu, imunisasi lanjutan pada usia 18 bulan masih tergolong rendah, yakni 59,5 persen pada 2024 dan meningkat menjadi 66,9 persen pada 2025. Adapun cakupan imunisasi campak pada anak kelas satu sekolah dasar mencapai 87 persen.

“Masih ada kesenjangan antara imunisasi dasar dan lanjutan. Banyak yang menganggap cukup di usia sembilan bulan, padahal imunisasi lanjutan di usia 18 bulan itu wajib,” jelasnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, Dinas Kesehatan Kota Bandung menggencarkan program imunisasi kejar bagi anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap di seluruh kecamatan.

Program ini menyasar anak balita yang belum diimunisasi, tanpa mempermasalahkan keterlambatan usia selama masih dalam kelompok sasaran.

“Silakan masyarakat datang ke puskesmas atau melalui kader. Imunisasi kejar tetap bisa diberikan selama anak masih dalam usia sasaran,” ujarnya.

Selain itu, Dinkes juga menggandeng aparat kewilayahan seperti kecamatan, kelurahan, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas untuk meningkatkan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya imunisasi.

Dilansir dari laman Jabarprov, Dadan juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai gejala campak yang umumnya diawali dengan demam tinggi, ruam kulit, batuk, pilek, serta mata merah.

Orang tua diimbau segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam tanpa harus menunggu munculnya ruam.

Bagi penderita yang diduga terinfeksi campak, dianjurkan melakukan isolasi mandiri selama 14 hari serta menggunakan masker untuk mencegah penularan.

“Virus campak bisa bertahan di udara hingga dua jam. Oleh karena itu, penggunaan masker dan isolasi mandiri sangat penting untuk mencegah penyebaran,” kata Dadan.

Dinas Kesehatan menegaskan bahwa imunisasi merupakan langkah paling efektif dalam mencegah campak sekaligus membentuk kekebalan kelompok di masyarakat.

Melalui upaya tersebut, diharapkan penyebaran campak di Kota Bandung dapat ditekan serta kesehatan masyarakat tetap terjaga. (R)

Editor
: EM Bukit MKes
beritaTerkait
Tiga Prajurit TNI Gugur di Misi UNIFIL Lebanon, Presiden Prabowo Beri Penghormatan Terakhir
Perayaan Paskah GBKP Setia Budi Meriah, Diisi Ibadah, Pujian dan Perlombaan
Kredensialing: Strategi Utama Hadirkan Layanan JKN Berkualitas
Pemko Medan Tingkatkan Layanan dan Fasilitas RSUD Dr Pirngadi di Hari Ginjal Sedunia
Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan Diperkuat Jejaring Lintas K/L
Kemendikdasmen Jadi Finalis Top Inovasi Kementerian PAN-RB Lewat Inovasi Verifikasi Data ATS
komentar