Senin, 06 April 2026

Dari Papua ke Daerah Bencana, Kisah Pertamina di Hari Air Sedunia

EM Bukit MKes - Kamis, 26 Maret 2026 11:06 WIB
Dari Papua ke Daerah Bencana, Kisah Pertamina di Hari Air Sedunia
Petugas Pertamina bersama warga mencoba aliran air bersih dari fasilitas sumur bor bantuan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) di wilayah Papua. (Dok/Pertamina)

Jakarta (buseronline.com) - Peringatan Hari Air Sedunia yang jatuh pada 22 Maret 2026 menjadi momentum bagi PT Pertamina (Persero) untuk menegaskan komitmennya dalam penyediaan akses air bersih bagi masyarakat, mulai dari pelosok Papua hingga wilayah terdampak bencana di Sumatra.


Selama bertahun-tahun, warga Kampung Tambat, Merauke, Papua, menghadapi keterbatasan akses air bersih. Mereka bergantung pada air hujan, sementara sumber air sumur yang tersedia mengandung belerang dan kurang layak digunakan.


Kepala Kampung Tambat, Samuel Heremba, mengungkapkan kondisi tersebut sempat menjadi tantangan besar bagi masyarakat setempat.

Baca Juga:

“Dulu kami sangat mengandalkan tampungan air hujan. Ada sumur, tapi airnya mengandung belerang, kurang aman untuk digunakan,” tuturnya.


Namun, kondisi tersebut kini mulai berubah. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), Pertamina menghadirkan fasilitas sumur bor yang dilengkapi reservoir penampungan serta sistem penyaringan air. Kehadiran fasilitas tersebut disambut antusias oleh warga.

Baca Juga:

“Kini masyarakat tidak lagi khawatir terhadap kandungan belerang atau kesulitan air saat musim kemarau. Airnya sudah jauh lebih bersih dan penampungannya sangat cukup,” ujar Samuel.


Dilansir dari laman Pertamina, Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menjelaskan bahwa pada awal 2026, Pertamina telah membangun tujuh titik sumur bor lengkap dengan fasilitas filter dan jaringan pipa di wilayah Merauke dan Jayapura. Program tersebut kini telah melayani sebanyak 4.585 jiwa yang sebelumnya kesulitan mengakses air bersih.


“Bagi Pertamina, inisiatif air bersih ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur fisik, melainkan upaya menjaga martabat kemanusiaan di wilayah yang paling membutuhkan. Program ini menjadi jembatan harapan agar warga di pelosok Papua hingga penyintas bencana di Sumatra bisa mulai menata hidup kembali dengan layak,” tegas Baron.


Di wilayah lain, tepatnya di Sumatra, Pertamina juga menghadirkan bantuan serupa bagi masyarakat terdampak bencana banjir. Bencana tersebut sempat merusak akses air bersih, sehingga warga terpaksa menggunakan air parit yang keruh.


Salah satu warga terdampak, Putera, menggambarkan kondisi air saat itu seperti “air cappuccino” karena warnanya yang cokelat pekat.


Menanggapi kondisi darurat tersebut, Pertamina melakukan berbagai langkah cepat, antara lain membangun 25 sumur baru, mereaktivasi 43 sumur milik warga, serta menyalurkan 5 juta liter air bersih melalui truk tangki. Bantuan ini menjangkau lebih dari 17.000 jiwa di wilayah terdampak.


“Sangat membantu sekali air bersih ini. Sebelumnya kami pakai air parit. Begitu bantuan air ini masuk sekitar dua minggu setelah kejadian, kami benar-benar terbantu,” ungkap Yanti, salah satu penyintas.


Program penyediaan air bersih ini merupakan bagian dari kontribusi Pertamina dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya tujuan ke-6 terkait air bersih dan sanitasi layak. Selain itu, program ini juga mendukung SDG 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan serta SDG 13 terkait penanganan perubahan iklim.


Melalui berbagai inisiatif tersebut, Pertamina terus berupaya memperkuat ketahanan masyarakat terhadap krisis air, baik akibat kondisi geografis maupun bencana alam.


Sebagai perusahaan yang berperan dalam transisi energi, Pertamina juga berkomitmen mendukung target Net Zero Emission 2060 serta mendorong implementasi prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) dalam seluruh lini bisnis dan operasionalnya.


Bagi masyarakat di Merauke, Jayapura, maupun wilayah terdampak bencana di Sumatra, kehadiran air bersih bukan sekadar kebutuhan dasar, tetapi juga menjadi simbol harapan dan keberlanjutan hidup yang lebih baik. (R)

Editor
: EM Bukit MKes
beritaTerkait
Tiga Prajurit TNI Gugur di Misi UNIFIL Lebanon, Presiden Prabowo Beri Penghormatan Terakhir
Perayaan Paskah GBKP Setia Budi Meriah, Diisi Ibadah, Pujian dan Perlombaan
Kredensialing: Strategi Utama Hadirkan Layanan JKN Berkualitas
Pemko Medan Tingkatkan Layanan dan Fasilitas RSUD Dr Pirngadi di Hari Ginjal Sedunia
Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan Diperkuat Jejaring Lintas K/L
Kemendikdasmen Jadi Finalis Top Inovasi Kementerian PAN-RB Lewat Inovasi Verifikasi Data ATS
komentar