Bandung (buseronline.com) - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Oktavianus yang akrab disapa dr Benny, menegaskan pentingnya strategi deteksi dini tuberkulosis (TBC) secara agresif dan masif hingga menjangkau tingkat rumah tangga.
Penegasan tersebut disampaikan saat kunjungan kerja percepatan eliminasi TBC di Gedung Mohamad Toha, Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa.
Kegiatan tersebut dilaksanakan bersama Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus guna melihat langsung pelaksanaan program kesehatan di daerah sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam percepatan eliminasi TBC di Indonesia.
Baca Juga:
Dalam kesempatan itu, dilansir dari laman Kemenkes, Wamenkes Benny menjelaskan bahwa pemerintah kini mendorong perubahan paradigma penanggulangan TBC dari pendekatan pasif—menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan—menjadi aktif, yaitu dengan mendatangi langsung sumber penularan di masyarakat. Langkah ini dinilai penting untuk menekan angka infeksi yang masih tinggi sekaligus mengejar target eliminasi TBC pada tahun 2030.
Ia menekankan bahwa penguatan peran fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas menjadi kunci dalam strategi deteksi dini tersebut. Pemerintah menargetkan 100 persen kontak erat pasien TBC wajib diperiksa guna memastikan penanganan sejak dini sekaligus memutus mata rantai penularan.
Baca Juga:
Sebagai gambaran, dari sekitar 235.000 kasus TBC di Provinsi Jawa Barat, diperkirakan terdapat sekitar 235.000 rumah yang harus didatangi oleh petugas kesehatan. Dari jumlah tersebut, sedikitnya 1 juta orang yang merupakan kontak erat pasien diperkirakan perlu diperiksa.
“Masyarakat yang terjangkit TBC harus terus diperiksa, dicek kesehatannya, dan dilakukan pencegahan. Kalau positif TBC bakal terus diobati sampai sembuh 100 persen, karena TBC ini bisa disembuhkan asalkan meminum obat secara teratur. Pengobatan tersedia gratis di puskesmas,” ujar Benny.
Dalam program nasional, setiap provinsi ditargetkan mampu menemukan minimal 90 persen dari estimasi kasus TBC tahunan. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Provinsi Jawa Barat menunjukkan kinerja yang sangat baik dengan keberhasilan mendeteksi 96 persen dari total estimasi 234.280 kasus pada tahun 2025, capaian yang melampaui standar nasional.
Tingginya angka penemuan kasus tersebut dinilai menjadi kunci utama dalam mempercepat inisiasi pengobatan bagi pasien. Dengan deteksi yang lebih dini, pemerintah dapat segera memberikan intervensi medis untuk menghentikan penularan secara lebih efektif di masyarakat.
Data Kementerian Kesehatan juga menunjukkan bahwa pada tahun 2024 Indonesia menyumbang sekitar 10 persen kasus TBC global atau sekitar 1,08 juta kasus, meningkat dibandingkan tahun 2010 yang berada pada angka 7 persen atau sekitar 842 ribu kasus.
Diperkirakan terdapat sekitar 1.080.000 orang yang menderita TBC di Indonesia, dengan 126.000 di antaranya meninggal dunia akibat penyakit tersebut.
Situasi tersebut mendorong Prabowo Subianto bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meluncurkan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) atau Quick Win Pengentasan TBC 2025–2029. Program ini menargetkan penurunan insiden TBC hingga 50 persen menjadi 190 kasus per 100.000 penduduk pada 2029.
Program tersebut berfokus pada empat indikator utama, yakni penemuan kasus, inisiasi pengobatan, keberhasilan pengobatan, serta pemberian Terapi Pencegahan TBC (TPT).
Untuk mendukung strategi percepatan eliminasi TBC, pemerintah pusat juga memberikan dukungan peralatan medis kepada daerah. Di Kabupaten Bandung, misalnya, diperkirakan dibutuhkan sekitar 45 unit alat rontgen (X-Ray) guna mempercepat proses pemeriksaan di masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, Wamendagri Akhmad Wiyagus menegaskan bahwa penanggulangan TBC membutuhkan kerja sama lintas sektor, termasuk peran aktif pemerintah daerah. Ia meminta pemerintah daerah untuk terbuka dalam menyampaikan kondisi riil di lapangan.
“Kita jangan malu untuk mengekspos data yang sesungguhnya sekalipun angkanya besar. Justru di sinilah nanti kita akan menentukan strategi penanganan yang tepat,” ujar Akhmad.
Sebelumnya, Wamenkes Benny dan Wamendagri Akhmad Wiyagus juga meninjau langsung pelayanan kesehatan di Puskesmas Soreang. Dalam kunjungan tersebut, keduanya berdiskusi mengenai penguatan pelayanan kesehatan primer serta optimalisasi deteksi dan penanganan TBC di tingkat fasilitas kesehatan dasar.
Melalui strategi deteksi dini yang lebih agresif dan kolaborasi lintas sektor, pemerintah berharap upaya eliminasi TBC di Indonesia dapat tercapai sesuai target nasional dalam beberapa tahun ke depan. (R)
beritaTerkait
komentar