Semarang (buseronline.com) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyatakan dukungan penuh terhadap peluncuran program Gerakan Al-Qur’an dan Gizi untuk Santri (AGUS) yang diinisiasi oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Program tersebut dinilai menjadi langkah konkret dalam meningkatkan kualitas santri, baik dari sisi literasi Al-Qur’an maupun pemenuhan gizi.
Apresiasi tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, saat menghadiri peluncuran program AGUS di Pondok Pesantren Al Uswah Gunungpati, Kota Semarang, Minggu.
Menurut Taj Yasin, program tersebut sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mendukung program nasional pemenuhan gizi masyarakat.
“Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengapresiasi PBNU dan seluruh jaringan NU yang ikut menyukseskan dua program ini, yaitu penguatan pembelajaran Al-Qur’an melalui distribusi mushaf, serta dukungan terhadap pemenuhan makanan bergizi,” ujar Taj Yasin.
Ia menambahkan, selama ini Pemprov Jawa Tengah juga memberikan perhatian besar terhadap pendidikan Al-Qur’an. Salah satunya melalui pemberian tali asih kepada para penghafal Al-Qur’an sebagai bentuk penghargaan sekaligus motivasi bagi generasi muda untuk terus mencintai dan mempelajari kitab suci tersebut.
“Dengan adanya distribusi mushaf ini, kami berharap semakin banyak santri yang terdorong untuk mempelajari, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur’an,” kata Taj Yasin.
Dilansir dari laman Jatengprov, Program AGUS diluncurkan melalui distribusi sebanyak 100 ribu mushaf Al-Qur’an dengan nilai sekitar Rp10 M serta bantuan 20 ton telur untuk pesantren. Inisiatif tersebut digagas oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah PBNU (RMI) bekerja sama dengan Yayasan Al Fatihah.
Manajer Program AGUS, Ulun Nuha, menjelaskan bahwa kebutuhan dukungan bagi para santri di berbagai pesantren masih cukup besar. Berdasarkan data Kementerian Agama Republik Indonesia, terdapat lebih dari 28 ribu pesantren yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama dengan sekitar 1,6 juta santri mukim, bahkan diperkirakan mencapai lima juta santri secara keseluruhan.
Ia mengungkapkan bahwa di sejumlah pesantren masih ditemukan keterbatasan mushaf Al-Qur’an, sehingga para santri harus bergantian ketika belajar.
Selain itu, sejumlah riset juga menunjukkan masih adanya persoalan gizi di kalangan santri. Salah satu temuan penelitian bahkan menyebut lebih dari 50 persen santri perempuan mengalami kekurangan gizi.
“Santri adalah masa depan kita. Oleh karena itu RMI PBNU bekerja sama dengan Yayasan Al Fatihah meluncurkan program Gerakan Al-Qur’an dan Gizi untuk Santri,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Yahya Cholil Staquf, mengatakan bahwa program AGUS juga merupakan bagian dari upaya organisasi untuk memperkuat kontribusi pesantren dalam mendukung program pemenuhan gizi nasional.
Menurutnya, PBNU telah menjalin kerja sama dengan pemerintah dalam pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah. Hingga saat ini hampir 200 titik telah diresmikan, sementara lebih dari 300 titik lainnya masih dalam proses pembangunan.
Melalui kolaborasi tersebut diharapkan semakin banyak santri yang memperoleh akses terhadap makanan bergizi sekaligus dukungan sarana pembelajaran Al-Qur’an yang memadai.
“Alhamdulillah sore hari ini RMI meluncurkan satu lagi program yang menjadi wujud ikhtiar untuk menyumbangkan bantuan, menambah yang dirasakan sebagai kebutuhan di lingkungan ponpes,” ujar Yahya. (R)
beritaTerkait
komentar