Jakarta (buseronline.com) - Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa kusta bukanlah kutukan atau penyakit mistik, melainkan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri, sulit menular, memiliki tingkat fatalitas hampir nol, dan dapat disembuhkan.
Pernyataan ini disampaikan dalam talkshow bertajuk “Ending Leprosy Without Stigma” yang digelar di gedung Kementerian Kesehatan RI, Kamis.
Acara ini menghadirkan WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Yohei Sasakawa, serta penyintas kusta, Samsul, yang membagikan pengalaman pribadi dan pandangan terkait penghapusan stigma.
“Kusta bukan kutukan. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri, penularannya sangat sulit dan membutuhkan waktu lama. Yang terpenting, kusta sudah ada obatnya dan bisa sembuh,” ujar Menkes Budi.
Ia menekankan bahwa stigma yang berkembang di masyarakat membuat penderita takut melapor sehingga pengobatan sering terlambat. Pemberian informasi yang benar, menurut Menkes, menjadi kunci untuk memutus stigma dan mempercepat penanganan kusta.
Sementara itu, dilansir dari laman Kemenkes, Yohei Sasakawa menyampaikan optimismenya terhadap upaya Indonesia dalam menghapus kusta.
“Dengan komitmen yang sangat kuat ini, saya yakin Indonesia akan mampu mengeliminasi kusta,” kata Sasakawa.
Menkes Budi juga menyoroti peningkatan jumlah kasus yang terdeteksi setelah berbagai program dijalankan sebagai tanda positif. Hal ini menunjukkan semakin banyak penderita yang berani melapor dan mendapatkan pengobatan.
Di kesempatan yang sama, Samsul, penyintas kusta sejak 1999, menceritakan pengalaman menghadapi diskriminasi akibat kurangnya pengetahuan masyarakat. Ia menekankan pentingnya edukasi sederhana dan mudah dipahami, terutama bagi guru dan masyarakat umum, untuk menghapus stigma.
“Awalnya teman-teman menjauhi saya karena mereka tidak tahu. Tapi setelah saya jelaskan dan mereka melihat saya baik-baik saja, lama-kelamaan mereka bisa menerima dan berteman kembali, bahkan sampai saya kuliah,” ujar Samsul.
Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa upaya edukasi publik dan pemberian informasi yang tepat menjadi strategi utama untuk menghapus stigma kusta, sekaligus memastikan penderita mendapatkan penanganan medis yang cepat dan efektif. (R)
beritaTerkait
komentar