Senin, 06 April 2026

Layanan Jantung Gorontalo Diperkuat, Menkes Tekankan Tata Kelola RSUD dan Retensi Dokter

EM Bukit MKes - Rabu, 17 Desember 2025 09:14 WIB
Layanan Jantung Gorontalo Diperkuat, Menkes Tekankan Tata Kelola RSUD dan Retensi Dokter
Tenaga medis RSUD Prof Dr H Aloei Saboe melakukan pemantauan dan evaluasi kondisi pasien pasca tindakan bedah jantung terbuka perdana di ruang perawatan intensif, Gorontalo, Senin (15/12/2025). (Dok/Kemenkes)
Gorontalo (buseronline.com) - Keberhasilan pelaksanaan bedah jantung terbuka perdana di RSUD Prof Dr H Aloei Saboe, Gorontalo, menandai langkah penting dalam pemerataan layanan kesehatan rujukan. Layanan ini sekaligus menegaskan dua kunci utama keberlanjutan layanan jantung di daerah: tata kelola rumah sakit yang sehat dan keberlangsungan dokter spesialis.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menekankan bahwa layanan bedah jantung terbuka yang ditanggung BPJS Kesehatan dapat berjalan berkelanjutan apabila dikelola dengan manajemen rumah sakit yang baik.

“Layanan bedah jantung terbuka ini di-cover oleh BPJS dan seharusnya tidak menjadi masalah. Rugi atau tidak rugi itu tergantung tata kelola manajemen rumah sakit. Kalau tata kelolanya baik, layanan akan jalan terus,” tegas Menkes dalam sambutan daringnya, Senin.

Menkes menegaskan bahwa rumah sakit daerah seharusnya mampu mandiri secara finansial melalui skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), tanpa ketergantungan berlebihan pada subsidi pemerintah daerah. Kementerian Kesehatan siap mendampingi RSUD yang berkomitmen memperbaiki tata kelola, termasuk transparansi pengadaan obat dan alat kesehatan, agar defisit dapat diminimalkan.

Selain manajemen, Menkes menyoroti tantangan klasik layanan kesehatan daerah, yaitu retensi dokter spesialis, khususnya dokter bedah jantung.

“Alatnya mahal dan bisa kita bantu. Tapi kalau dokternya pindah, layanannya berhenti. Karena itu dokter-dokter yang bertugas di Gorontalo harus dirawat dengan baik agar tidak cepat pindah ke kota besar,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya ketersediaan minimal dua hingga tiga dokter spesialis jantung untuk menjamin layanan berjalan 24 jam.

“Idealnya ada tiga dokter agar bisa rotasi layanan. Kalau hanya satu, begitu cuti atau belajar, layanannya berhenti,” tambah Menkes.

Sebagai solusi jangka panjang, Kementerian Kesehatan terus mendorong pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit (hospital-based) agar putra-putri daerah memiliki kesempatan lebih besar menjadi dokter spesialis dan kembali mengabdi di daerah asal.

Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, menyatakan komitmen Pemerintah Provinsi Gorontalo untuk mendukung keberlanjutan layanan bedah jantung terbuka melalui penguatan sumber daya manusia, sarana prasarana, dan kolaborasi lintas sektor.

“Kami bersyukur layanan ini berhasil dilaksanakan. Pemerintah Provinsi Gorontalo siap mendukung agar layanan bedah jantung terbuka berlanjut dan tidak berhenti di tahap perdana,” ujar Gusnar.

Ia menambahkan bahwa operasi perdana ini menjadi momentum alih ilmu dan teknologi bagi dokter-dokter lokal melalui pendampingan tim RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita.

Keberhasilan ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi RSUD Aloei Saboe untuk berkembang sebagai rumah sakit rujukan jantung regional yang dikelola secara profesional dan berkelanjutan, memberikan layanan kesehatan yang berkualitas dan merata bagi masyarakat Gorontalo dan sekitarnya. (R)
Editor
: EM Bukit MKes
beritaTerkait
150 Alumni LPDP Dilibatkan Mendikdasmen Dampingi Belajar Digital di Wilayah 3T
Alumni Pejuang Digital Dilepas Wapres dan Mendikdasmen, Beasiswa Negara Kembali ke Rakyat
Revitalisasi 19 Sekolah di Karangasem Selesai, Kemendikdasmen Tegaskan Keberlanjutan Program
Perkuat Posisi Jateng sebagai Pusat Batik Nasional, Nawal Yasin Ajak Pengrajin Berinovasi
Nawal Yasin Kunjungi Kampung Singkong Salatiga, Tekankan Inovasi UMKM Lokal
Kedatangan KRI Bima Suci di Belawan, Rico Waas Promosikan Potensi Medan ke Dunia
komentar
beritaTerbaru