Semarang (buseronline.com) - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) RI, Pratikno, menegaskan bahwa permasalahan mendasar di bidang kesehatan di Indonesia saat ini masih didominasi oleh stunting dan tuberkulosis (TBC). Kedua masalah tersebut dinilai membutuhkan penanganan cepat dan kolaboratif lintas sektor.
“Jadi ini permasalahan kita bersama, dan memerlukan penanganan yang sangat cepat. Presiden sudah perintahkan kepada kabinet untuk percepatan,” ujar Pratikno didampingi Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, seusai membuka Forum Ilmiah Tahunan dan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jumat.
Menurut Pratikno, penanganan masalah kesehatan seperti stunting dan TBC membutuhkan peran sentral dari para Ahli Kesehatan Masyarakat (AKM), mengingat pendekatan yang dibutuhkan tidak hanya dari sisi medis, tetapi juga sosial dan perilaku hidup masyarakat.
Ia juga menyoroti meningkatnya ancaman penyakit zoonosis, yakni penyakit yang menular dari hewan ke manusia, seperti rabies di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kasusnya masih tinggi, serta penyakit lain seperti malaria dan demam berdarah.
“Nah inilah peran sentral dari para ahli kesehatan masyarakat, yang pendekatannya tidak hanya dengan perangkat teknis medis yang klinikal, tetapi juga sosial dan gaya hidup, termasuk kesehatan hewan dan kesehatan alam,” jelasnya.
Lebih lanjut, Pratikno menilai bahwa sinergi lintas sektoral menjadi kunci utama dalam penanganan berbagai masalah kesehatan nasional. Ia mencontohkan langkah konkret yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi melalui program dokter spesialis keliling (Speling) dan berbagai upaya pengentasan kemiskinan yang berjalan beriringan dengan program kesehatan.
“Gubernur Jateng ini luar biasa aktif dalam urusan ini. Ia menyinergikan berbagai macam program di lapangan, dengan melibatkan kampus dan para ahli kesehatan masyarakat untuk bersama-sama menangani,” ungkap Pratikno.
Sementara itu, Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa kesehatan dan keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama pemerintahannya.
Melalui program Speling, Pemprov Jawa Tengah berupaya menghadirkan pelayanan kesehatan paripurna hingga ke pelosok desa.
“Program Speling ini terus kami gencarkan. Hingga 13 Oktober 2025, program tersebut telah menjangkau 595 desa di 35 kabupaten/kota, dengan total 64.278 jiwa penerima manfaat,” terang Luthfi.
Selain pelayanan umum, program Speling juga diintegrasikan dengan skrining TBC menggunakan alat portable pemeriksaan tuberkulosis. Namun, Luthfi mengakui bahwa jumlah alat tersebut masih terbatas dan perlu ditambah agar bisa menjangkau lebih banyak wilayah terpencil.
“Program Speling kita sangat dirasakan oleh masyarakat. Untuk TBC, kita butuh alat yang mobilitasnya tinggi agar bisa menjangkau desa-desa, karena saat ini jumlahnya masih kurang,” ujarnya.
Luthfi menambahkan, keberhasilan pelayanan kesehatan di Jawa Tengah tidak lepas dari kolaborasi antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, serta dukungan rumah sakit pemerintah dan swasta. Bahkan, Pemprov Jateng juga menggandeng perguruan tinggi melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik di bidang kesehatan masyarakat.
“Termasuk kampus kami libatkan, dengan program KKN tematiknya. Semua bergerak bersama agar pelayanan kesehatan semakin merata dan berkualitas,” tandasnya.
Dengan sinergi lintas sektor dan pendekatan kolaboratif tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah optimistis dapat menekan angka stunting dan TBC secara signifikan, serta meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara menyeluruh. (R)
beritaTerkait
komentar