Selasa, 07 April 2026

Temukan Lebih Banyak Kasus, Kunci Indonesia Hentikan Penularan TBC

Selasa, 21 Oktober 2025 10:07 WIB
Temukan Lebih Banyak Kasus, Kunci Indonesia Hentikan Penularan TBC
Wakil Menteri Kesehatan II dr Benjamin Paulus Octavianus SpP FISR (ketiga dari kanan) bersama jajaran Kementerian Kesehatan saat temu media membahas percepatan penanggulangan Tuberkulosis (TBC), Jakarta, Jumat (17/10/2025). (Dok/Kemenkes)
Jakarta (buseronline.com) - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, dr Benjamin Paulus Octavianus SpP FISR, menegaskan komitmen pemerintah dalam mempercepat penanggulangan penyakit Tuberkulosis (TBC) melalui strategi active case finding atau penemuan kasus aktif secara agresif di seluruh Indonesia.

Hal tersebut disampaikan dr Benny, sapaan akrabnya, dalam acara temu media membahas program prioritas Presiden Prabowo Subianto di Jakarta, Jumat.

Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), pada tahun 2023 terdapat 856.000 kasus TBC baru yang ditemukan, meningkat signifikan dibandingkan 443.000 kasus pada tahun 2021.

Peningkatan ini, kata dr Benny, bukan menunjukkan kondisi yang memburuk, melainkan keberhasilan pemerintah dalam menemukan lebih banyak pasien yang sebelumnya tidak terdiagnosis.

“Kalau angka kasus yang ditemukan naik, itu bukan berarti penyakitnya tambah banyak. Justru artinya kita bekerja lebih keras menemukan pasien yang sebelumnya tidak terdiagnosis,” ujar dr Benny.

Berdasarkan estimasi global, Indonesia diperkirakan memiliki 1,09 juta kasus TBC setiap tahun, sehingga sekitar 20 persen kasus masih belum ditemukan dan berpotensi menularkan penyakit di masyarakat.

“Selama kumannya masih ada dan tidak ditemukan, penularan akan terus terjadi. Karena itu, target kami tahun depan justru menemukan lebih banyak lagi bahkan sampai satu setengah juta kasus. Kalau sudah ditemukan dan diobati, barulah penularannya bisa turun drastis,” tegasnya.

Untuk mempercepat eliminasi TBC, dr Benny menjelaskan bahwa Kemenkes akan memperkuat kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Desa, Kementerian Sosial, serta TNI dan Polri.

“TBC bukan hanya soal penyakit, tapi juga soal sosial dan lingkungan. Banyak pasien tinggal di rumah yang lembab, minim ventilasi, atau tanpa cahaya matahari. Maka kita harus kerja bersama lintas kementerian — dari perbaikan rumah, sanitasi, sampai jaminan sosial bagi pasien,” jelasnya.

Wamenkes juga menekankan pentingnya menghapus stigma terhadap pasien TBC. Ia menegaskan bahwa penyakit TBC dapat disembuhkan sepenuhnya jika ditangani dengan pengobatan yang tepat dan disiplin.

“Pasien TBC sensitif obat itu 95 persen dari total pasien. Setelah dua minggu sampai satu bulan minum obat, kumannya sudah mati dan dia tidak menular lagi. Jadi tidak ada alasan untuk memecat pekerja yang sedang berobat,” katanya.

Kemenkes, lanjutnya, akan berkoordinasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan agar tidak ada diskriminasi terhadap pekerja yang sedang menjalani pengobatan TBC.

Selain pengobatan, dr Benny menyoroti pentingnya edukasi masyarakat untuk mencegah penularan TBC di tempat umum seperti pasar, tempat ibadah, dan transportasi publik.

“Batuk dua minggu atau lebih harus diperiksa, jangan dianggap sepele. Bisa jadi TBC. Penularan sering terjadi di ruang tertutup, lembab, tanpa sinar matahari. Kuncinya kebersihan, ventilasi yang baik, dan perilaku hidup sehat,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa pengobatan TBC gratis dan telah dijamin oleh negara, sehingga masyarakat diimbau tidak ragu memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

“TBC bisa disembuhkan, obatnya gratis, tapi kalau masyarakat tidak sadar untuk memeriksa diri, penularan akan terus terjadi. Kami butuh dukungan media untuk menyebarkan pesan ini ke seluruh pelosok Indonesia,” tegasnya.

Lebih lanjut, dr Benny menjelaskan masa inkubasi TBC yang cukup panjang, antara 10 hingga 12 minggu. Karena itu, deteksi dini menjadi faktor penentu dalam menekan angka kematian dan penularan.

“Kalau tunggu batuk darah baru periksa, sudah terlambat. Makanya batuk dua minggu harus segera rontgen, jangan tunggu parah,” tambahnya.

Sebagai penutup, Wamenkes menegaskan bahwa keberhasilan menurunkan angka TBC merupakan indikator kemajuan suatu negara.

“Negara dengan angka TBC tinggi tidak bisa disebut negara maju. Edukasi, gizi, dan kesadaran masyarakat mencerminkan kualitas pembangunan. Saat ini Indonesia masih di peringkat kedua dunia setelah India dalam jumlah kasus TBC. Ini tanggung jawab bersama agar dalam tiga tahun ke depan, angka TBC bisa turun drastis,” pungkasnya dr Benny. (R)
Editor
: EM Bukit MKes
beritaTerkait
Real Oviedo Raih Kemenangan Penting, Tundukkan Sevilla 1-0 di La Liga
Timnas Futsal Indonesia Bantai Brunei 7-0 di Laga Pembuka Piala AFF Futsal 2026
Bripda Petra Sihombing Raih Emas di KASAL Cup V 2026
Timnas Indoor Skydiving Indonesia Siap Tampil di World Cup Lille 2026
Irwil V Itwasum Polri Tinjau Mapolsek Kamuu Pasca Penyerangan OTK
Dirkamsel Korlantas Tekankan Integritas dan Ketelitian dalam Apel Pagi NTMC
komentar
beritaTerbaru