Senin, 22 Juni 2026

Kasus Pneumonia di Kalangan Jemaah Haji Indonesia Meningkat, Kemenkes Imbau Waspada

Jumat, 23 Mei 2025 07:17 WIB
Kasus Pneumonia di Kalangan Jemaah Haji Indonesia Meningkat, Kemenkes Imbau Waspada
Petugas kesehatan memantau kondisi jemaah haji lanjut usia yang dirawat akibat pneumonia di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah, Rabu (21/5/2025).
Madinah (buseronline.com) - Sebanyak 99 jemaah haji asal Indonesia dilaporkan terinfeksi pneumonia selama menunaikan ibadah di Tanah Suci. Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI) melalui Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) menyatakan bahwa kasus ini menjadi perhatian serius mengingat pneumonia merupakan infeksi saluran pernapasan akut yang dapat berakibat fatal, terutama bagi jemaah lanjut usia atau yang memiliki penyakit penyerta (komorbiditas).

Data KKHI per tanggal 20 Mei 2025, cut-off pukul 16.00 WAS, mencatat bahwa jemaah yang terjangkit pneumonia tersebar di berbagai sektor dan kelompok terbang (kloter), dan saat ini sedang dirawat secara intensif di rumah sakit rujukan di Makkah dan Madinah. Dari 99 kasus tersebut, satu orang dilaporkan meninggal dunia.

“Kami mencatat adanya peningkatan kasus pneumonia di kalangan jemaah haji kita. Ini adalah kondisi yang harus diwaspadai, karena dapat berkembang menjadi lebih serius jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat,” ujar Kepala Pusat Kesehatan Haji, Liliek Marhaendro Susilo, di KKHI Madinah, Rabu.

Pneumonia sendiri adalah peradangan pada kantung udara di paru-paru (alveoli) yang bisa disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau jamur. Dalam situasi padat seperti ibadah haji, risiko penyebaran penyakit ini meningkat secara signifikan.

Menurut KKHI, terdapat beberapa faktor risiko utama yang memicu meningkatnya kasus pneumonia di kalangan jemaah, antara lain suhu panas ekstrem di Tanah Suci yang berkisar antara 41 hingga 47 derajat Celcius, kelelahan fisik akibat padatnya aktivitas ibadah, keramaian yang memudahkan penyebaran penyakit, serta kondisi kesehatan jemaah yang memiliki komorbiditas seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung.

Liliek mengimbau para jemaah untuk meningkatkan kewaspadaan dan menjaga kesehatan diri selama menjalankan ibadah. Beberapa langkah pencegahan yang disarankan antara lain menggunakan masker terutama di tempat ramai, mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, menjaga asupan cairan dengan meminum air putih atau air zam-zam minimal dua liter sehari, serta disiplin dalam mengonsumsi obat bagi jemaah yang memiliki penyakit penyerta.

“Puncak ibadah haji di Armuzna membutuhkan stamina tinggi. Kami imbau jemaah untuk menyimpan tenaga dan mengurangi ibadah sunnah seperti umrah berulang kali. Jangan terlalu lelah,” tambahnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan agar jemaah tidak merokok sembarangan demi menjaga kenyamanan bersama. Yang terpenting, kata dia, jemaah harus segera melapor ke petugas kesehatan jika merasa kurang sehat.

“Kesehatan jemaah adalah prioritas utama kami. Mari kita jaga bersama-sama agar ibadah haji berjalan lancar dan seluruh jemaah kembali ke Tanah Air dengan sehat,” tutup Liliek. (R)
Editor
: EM Bukit MKes
beritaTerkait
Pemprov Jateng dan LPSK Teken MoU Perlindungan Saksi dan Korban
PMI Demak Pastikan Donor Darah Aman, Ajak Warga Donor Sukarela
Persaja Berikan Penyuluhan Hukum dan Motivasi bagi Warga Binaan Perempuan di Lapas Jakarta
Desa Doreng Ditetapkan sebagai Desa Siaga TBC, Dukung Target Eliminasi 2030
Paraguay Bungkam Turki 1-0, Tim Bulan Sabit Dipastikan Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Apindo Dukung Jawa Tengah Jadi Pusat Investasi Nasional
komentar
beritaTerbaru