Senin, 26 Oktober 2026

Kemenkes Catat 109 Juta Warga Ikuti Cek Kesehatan Gratis, Kasus TB Mulai Menurun

Senin, 26 Oktober 2026 15:55 WIB
Kemenkes Catat 109 Juta Warga Ikuti Cek Kesehatan Gratis, Kasus TB Mulai Menurun
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers bertajuk “2 Tahun Pemerintahan Bidang Kesehatan” di Kantor Kementerian Kesehatan, Kamis (22/10/2026).

Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat sebanyak 109.300.240 orang di Indonesia telah mengikuti program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sepanjang 2026.

Dilansir dari laman Kemkes, selain itu, sebanyak 21 rumah sakit di daerah tertinggal telah selesai dibangun dan beroperasi, serta estimasi insiden tuberkulosis (TB) di Indonesia mulai menunjukkan penurunan.

Capaian tersebut disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers bertajuk "2 Tahun Pemerintahan Bidang Kesehatan" di Kantor Kementerian Kesehatan, pada 22 Oktober 2026.

Ketiga capaian itu merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. Program CKG telah menjangkau 109.300.240 orang dari target 130.344.650 sasaran.

Jumlah tersebut terdiri atas sekitar 88 juta peserta CKG tahunan dan 21 juta peserta CKG sekolah. Sementara itu, jumlah warga yang telah mendaftar mencapai 116.313.018 orang.

Pelaksanaan program ini telah menjangkau 10.319 Puskesmas atau 99,8 persen dari total Puskesmas yang terdaftar, serta mencakup seluruh 514 kabupaten/kota dan 38 provinsi di Indonesia.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, program CKG bertujuan meningkatkan rata-rata angka harapan hidup masyarakat Indonesia dari 72 tahun menjadi 76 tahun melalui deteksi dini berbagai faktor risiko penyakit.

Empat faktor risiko utama yang menjadi sasaran pemeriksaan adalah hipertensi, diabetes, dislipidemia atau kolesterol tinggi, serta obesitas. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, seperti stroke dan serangan jantung, serta gangguan ginjal.

"Kalau kita bisa mengukur keempat faktor risiko tadi, obesitas, tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, sama kolesterol tinggi, kita bisa menurunkan sampai 80 persen dari kematian yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskular," ujar Budi.

Warga yang terdeteksi memiliki faktor risiko akan mendapatkan tindak lanjut berupa penanganan dan pengobatan gratis di Puskesmas. Langkah ini diharapkan dapat membantu mengendalikan kondisi kesehatan masyarakat sejak dini.

Selain program pemeriksaan gratis, pemerintah juga memperkuat fasilitas pelayanan kesehatan melalui pembangunan dan peningkatan kapasitas 66 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di daerah tertinggal yang sebelumnya berstatus kelas D.

Dari 22 RSUD yang masuk tahap pertama dan kedua pada 2025, sebanyak 21 rumah sakit telah rampung 100 persen dan beroperasi penuh. Sementara itu, 20 RSUD lainnya masuk tahap pembangunan pada 2026, sedangkan 24 RSUD dijadwalkan dalam tahap berikutnya pada 2027.

Rumah sakit di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Kepulauan Anambas, Kabupaten Buru, Bengkulu Tengah, dan Kabupaten Keerom di Papua, kini dilengkapi peralatan medis modern.

Fasilitas tersebut meliputi mammografi untuk deteksi dini kanker payudara, CT scan, serta cath lab untuk mendukung penanganan penyakit jantung dan pembuluh darah.

Namun, pemerataan tenaga medis masih menjadi tantangan. Kemenkes mencatat baru 34 dari 66 RSUD atau sekitar 51 persen yang memiliki tujuh jenis dokter spesialis dasar secara lengkap.

Di sisi lain, upaya penanggulangan TB juga menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan estimasi WHO Global TB Report, jumlah insiden TB di Indonesia pada 2026 diperkirakan mencapai 1.080.000 kasus, turun dibandingkan estimasi 1.092.000 kasus pada 2024.

Hingga Oktober 2026, sebanyak 666.985 kasus TB telah ditemukan dan dilaporkan, atau sekitar 61 persen dari target 972.000 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 599.425 pasien telah memulai pengobatan.

Penemuan kasus diperkuat melalui penyediaan perangkat portable X-ray dan mesin tes molekuler Near Point of Care (NPOC) di ribuan Puskesmas.

Pemeriksaan juga dilakukan di berbagai lingkungan masyarakat, termasuk lembaga pemasyarakatan, rumah tahanan, pondok pesantren, serta sektor transportasi daring.

Kemenkes mencatat sebanyak 40.910 warga binaan di lapas dan rutan serta 24.623 santri telah menjalani pemeriksaan TB. Selain itu, sebanyak 8.914 karyawan dan mitra layanan transportasi daring, termasuk Gojek dan Grab, turut diperiksa.

Pemerintah juga mendorong penggunaan regimen obat TB yang lebih modern untuk memperpendek durasi pengobatan. Indonesia bahkan ikut berpartisipasi dalam uji klinis fase ketiga kandidat vaksin TB M72 yang ditargetkan mulai diproduksi pada awal 2029.

Budi mengatakan, perkembangan pengobatan TB diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani terapi hingga tuntas.

"Dulu TB ini minum obatnya panjang sekali, bisa sampai lebih dari satu tahun dia minum obat setiap hari. Sekarang turun jadi 12 bulan, turun lagi jadi enam bulan, yang terakhir kita sudah bisa ada yang bisa empat bulan," ungkapnya.

Kemenkes berharap berbagai program tersebut dapat memperluas akses pelayanan kesehatan, mempercepat deteksi penyakit, serta meningkatkan pemerataan fasilitas dan tenaga medis di seluruh Indonesia. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Kemenkes Percepat Pemerataan Dokter Spesialis, 55.192 Dokter Masih Dibutuhkan
CKG Sumut Capai 32,81 Persen, Target 46 Persen hingga Akhir 2026
Kemenkes dan UI Mulai Uji Klinik Photon, Teliti Peran Gizi dalam Mencegah Penularan Tuberkulosis
Kemenkes Kirim 500 Ribu Masker Tambahan per Provinsi untuk Tangani Dampak Karhutla
Kemenkes Perkuat Deteksi Dini Gangguan Penglihatan, 1,6 Juta Orang Terindikasi Bermasalah pada Mata
Kemenkes RI dan Inggris Luncurkan Tangguh+ untuk Perkuat Sistem Kesehatan Indonesia
komentar
beritaTerbaru