Jumat, 02 Oktober 2026

Kemenkes Imbau Warga Tak Panic Buying Oseltamivir, Mayoritas Influenza Bisa Sembuh Sendiri

Jumat, 02 Oktober 2026 14:50 WIB
Kemenkes Imbau Warga Tak Panic Buying Oseltamivir, Mayoritas Influenza Bisa Sembuh Sendiri
Kemenkes RI mengimbau masyarakat tidak melakukan pembelian secara berlebihan (panic buying) obat antivirus Oseltamivir di tengah meningkatnya kasus influenza sejak September 2026.

Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengimbau masyarakat tidak melakukan pembelian secara berlebihan (panic buying) obat antivirus Oseltamivir di tengah meningkatnya kasus influenza sejak September 2026.

Dilansir dari laman Kemkes, masyarakat juga diminta tidak mengonsumsi Oseltamivir tanpa resep atau pemeriksaan dokter. Kemenkes menegaskan, sebagian besar kasus influenza dapat sembuh dengan sendirinya tanpa membutuhkan obat antivirus.

Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes RI Lucia Rizka Andalucia mengatakan Oseltamivir diperuntukkan bagi pasien dengan kondisi tertentu, terutama penderita influenza berat dan kelompok yang berisiko tinggi mengalami komplikasi.

"Oseltamivir bukan obat yang digunakan secara massal atau diminum untuk berjaga-jaga tanpa penilaian medis. Obat ini hanya boleh diberikan berdasarkan pemeriksaan dan pertimbangan dokter, terutama untuk pasien influenza berat yang dirawat di rumah sakit," ujar Lucia dalam konferensi pers perkembangan situasi dan penanganan influenza di Jakarta, pada 28 September 2026.

Menurut Kemenkes, peningkatan kasus influenza yang terjadi sejak September merupakan pola musiman tahunan. Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah negara ASEAN, seperti Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Saat ini, virus influenza yang mendominasi di Indonesia adalah influenza A(H1N1)pdm09.

Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Andi Saguni turut meluruskan informasi mengenai istilah "super flu" yang beredar di masyarakat.

Andi menjelaskan, istilah tersebut tidak dikenal dalam nomenklatur resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) maupun Kemenkes. Istilah yang digunakan masyarakat itu merujuk pada influenza A(H3N2) subclade K.

"Istilah 'super flu' tidak dikenal dalam nomenklatur resmi WHO maupun Kemenkes. Istilah awam itu merujuk pada influenza A(H3N2) subclade K, yang justru kasusnya di Indonesia menurun drastis," jelas Andi.

Berdasarkan data surveilans ILI-SARI (Influenza-Like Illness dan Severe Acute Respiratory Infection) hingga pekan ke-38 tahun 2026, tercatat 1.527 spesimen positif influenza dari 8.757 pemeriksaan.

Angka tersebut menghasilkan positivity rate sekitar 17 persen, lebih rendah dibandingkan periode 2025 yang mencapai 24 persen.

Sementara itu, kasus influenza A(H3N2) subclade K sepanjang 2026 tercatat sebanyak 22 kasus. Jumlah tersebut turun drastis dibandingkan 166 kasus pada 2025. Kemenkes juga mencatat tidak ada penambahan kasus baru sejak April 2026.

Pemantauan dilakukan melalui 35 rumah sakit, 39 puskesmas, 13 balai laboratorium kesehatan masyarakat, serta 14 balai karantina kesehatan di seluruh Indonesia.

Untuk memastikan kebutuhan obat tetap terpenuhi, Kemenkes telah mendistribusikan Oseltamivir ke 196 rumah sakit dan terus mengupayakan tambahan pasokan.

Pengadaan dilakukan dengan memaksimalkan produksi dalam negeri serta melalui jalur importasi khusus untuk mengatasi keterlambatan dari produsen lokal.

"Kami menggunakan data surveilans sebagai dasar perencanaan kebutuhan obat, bukan berdasarkan kepanikan. Setiap tablet akan diarahkan kepada pasien yang paling membutuhkan berdasarkan penilaian tenaga kesehatan," kata Lucia.

Dokter Konsultan Pulmonologi Intervensi dan Kegawatdaruratan Napas, Pompini Agustina Sitompul, menjelaskan bahwa sebagian besar pasien influenza tidak membutuhkan antivirus.

Influenza, kata dia, umumnya merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri (self-limiting disease) dengan istirahat yang cukup dan pemenuhan kebutuhan cairan. Antivirus terutama diindikasikan untuk pasien influenza berat yang membutuhkan bantuan oksigen.

Obat tersebut juga dapat diberikan kepada kelompok rentan, seperti balita di bawah lima tahun, lansia di atas 65 tahun, ibu hamil, penderita komorbid, serta pasien dengan sistem kekebalan tubuh lemah (immunocompromised).

Ahli Farmakologi Dewi Selvina Rosdiana memaparkan hasil studi meta-analisis terhadap sekitar 2.500 anak rawat jalan yang mengalami influenza tanpa komplikasi.

Hasil penelitian menunjukkan pemberian Oseltamivir hanya memperpendek durasi sakit rata-rata sekitar 18 jam atau kurang dari satu hari dibandingkan plasebo.

Manfaat tersebut juga signifikan terutama apabila obat diberikan kurang dari 24 jam sejak munculnya gejala pada anak di bawah enam tahun tanpa riwayat asma.

"Secara klinis, belum terdapat bukti yang cukup kuat bahwa Oseltamivir memberikan manfaat bermakna dalam memperpendek lama sakit pada anak dengan influenza tanpa komplikasi," ujar Dewi.

Penelitian tersebut juga menemukan risiko efek samping muntah pada anak yang mengonsumsi Oseltamivir mencapai 1,6 kali lebih tinggi. Penggunaan antivirus secara berlebihan tanpa indikasi medis juga berisiko meningkatkan resistensi virus terhadap obat.

Kemenkes turut mengingatkan bahwa antibiotik tidak dianjurkan untuk mengatasi influenza, kecuali terdapat bukti infeksi sekunder yang disebabkan oleh bakteri.

"Yang perlu dilakukan masyarakat bukanlah membeli obat sebanyak-banyaknya, melainkan mengenali gejala, memahami tanda bahaya, dan mencari pertolongan pada waktu yang tepat," kata Lucia.

Kemenkes meminta masyarakat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai langkah utama mencegah penularan influenza.

Langkah tersebut antara lain mencuci tangan menggunakan sabun, menerapkan etika batuk dan bersin, memakai masker di tempat ramai atau saat sedang sakit, menjaga daya tahan tubuh, serta melakukan vaksinasi influenza secara rutin setiap tahun.

Kemenkes juga telah menerbitkan Surat Edaran tentang kewaspadaan influenza kepada dinas kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia.

Masyarakat yang membutuhkan informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemenkes melalui 1500-567 atau email kontak@kemkes.go.id. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Dinkes Kota Bandung Imbau Warga Waspadai Influenza Tipe A
Kemenkes Siapkan Alat Diagnostik TBC untuk 884 Puskesmas di Jateng
Kemenkes Gandeng Kejagung Kawal Pembangunan Infrastruktur Kesehatan
Cegah Dampak Hoaks, Kemenkes Gandeng Lintas Sektor Perkuat Respons
Kemenkes Ungkap 41 Persen Anak Sekolah Alami Karies Gigi dari Hasil CKG
Kemenkes Luncurkan Playbook Respons Cepat Tangani Hoaks Kesehatan
komentar
beritaTerbaru