"Kami menggunakan data surveilans sebagai dasar perencanaan kebutuhan obat, bukan berdasarkan kepanikan. Setiap tablet akan diarahkan kepada pasien yang paling membutuhkan berdasarkan penilaian tenaga kesehatan," kata Lucia.
Dokter Konsultan Pulmonologi Intervensi dan Kegawatdaruratan Napas, Pompini Agustina Sitompul, menjelaskan bahwa sebagian besar pasien influenza tidak membutuhkan antivirus.
Influenza, kata dia, umumnya merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri (self-limiting disease) dengan istirahat yang cukup dan pemenuhan kebutuhan cairan. Antivirus terutama diindikasikan untuk pasien influenza berat yang membutuhkan bantuan oksigen.
Obat tersebut juga dapat diberikan kepada kelompok rentan, seperti balita di bawah lima tahun, lansia di atas 65 tahun, ibu hamil, penderita komorbid, serta pasien dengan sistem kekebalan tubuh lemah (immunocompromised).
Ahli Farmakologi Dewi Selvina Rosdiana memaparkan hasil studi meta-analisis terhadap sekitar 2.500 anak rawat jalan yang mengalami influenza tanpa komplikasi.
Hasil penelitian menunjukkan pemberian Oseltamivir hanya memperpendek durasi sakit rata-rata sekitar 18 jam atau kurang dari satu hari dibandingkan plasebo.
Manfaat tersebut juga signifikan terutama apabila obat diberikan kurang dari 24 jam sejak munculnya gejala pada anak di bawah enam tahun tanpa riwayat asma.
"Secara klinis, belum terdapat bukti yang cukup kuat bahwa Oseltamivir memberikan manfaat bermakna dalam memperpendek lama sakit pada anak dengan influenza tanpa komplikasi," ujar Dewi.
Penelitian tersebut juga menemukan risiko efek samping muntah pada anak yang mengonsumsi Oseltamivir mencapai 1,6 kali lebih tinggi. Penggunaan antivirus secara berlebihan tanpa indikasi medis juga berisiko meningkatkan resistensi virus terhadap obat.
Kemenkes turut mengingatkan bahwa antibiotik tidak dianjurkan untuk mengatasi influenza, kecuali terdapat bukti infeksi sekunder yang disebabkan oleh bakteri.
"Yang perlu dilakukan masyarakat bukanlah membeli obat sebanyak-banyaknya, melainkan mengenali gejala, memahami tanda bahaya, dan mencari pertolongan pada waktu yang tepat," kata Lucia.
Kemenkes meminta masyarakat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai langkah utama mencegah penularan influenza.
Langkah tersebut antara lain mencuci tangan menggunakan sabun, menerapkan etika batuk dan bersin, memakai masker di tempat ramai atau saat sedang sakit, menjaga daya tahan tubuh, serta melakukan vaksinasi influenza secara rutin setiap tahun.
Kemenkes juga telah menerbitkan Surat Edaran tentang kewaspadaan influenza kepada dinas kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia.
Masyarakat yang membutuhkan informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemenkes melalui 1500-567 atau email kontak@kemkes.go.id. (R)
beritaTerkait
komentar